Barista Transitory Coffee Fujiyanto (kanan) menunjukkan hadiah uang tunai dan bingkisan dari owner Kohicha Cafe setelah dinyatakan sebagai juara pertama dalam lomba “Kohicha Virtual Latte Art Competition” di Jakarta, Selasa (15/12/2020) | DOK KOHICHA CAFE

HARNAS.ID – Tiga anak muda di Ruko Gading Kirana, Jalan Boulevard Artha Gading, Jakarta Timur, pagi itu tampak bergiliran meracik kopi pada sebuah cangkir kecil. Tangannya yang terampil, mampu melukiskan sebuah gambar di atas permukaan kopi.  

Bertempat di Kohicha Cafe, Selasa (15/12/2020), ketiga pemuda yang menunggu giliran itu sedang berkompetisi dalam sebuah lomba “Kohicha Virtual Latte Art Competition”. Dari total 90 peserta, hari itu menyisakan tiga orang yang maju ke babak final.

Bicara seni, selalu saja terus berkembang. Melukis pun tak melulu lewat media kertas atau kain kanvas. Seiring perkembangan jaman, para peracik kopi atau biasa disebut barista semakin terampil dengan beragam kemampuan, termasuk dalam berkarya.

Ya, ini yang disebut seni kopi latte. Bukan sekadar diramu dengan rasa nikmat, tapi dikemas lewat seni lukis di atas permukaan kopi, agar punya kesan indah dan menarik. Dari tiga karya yang dipersembahkan pemuda itu, juri menunjuk satu orang pemenang.

Fujiyanto (25), salah satu peserta mendadak sumringah kala juri menyebut namanya keluar sebagai sang juara. Barista Transitory Coffee itu berhasil memboyong pulang hadiah yang dipersembahkan penyelenggara, berupa uang tunai dan bingkisan.

“Babak pertama membuat freepour latte no animal dan babak kedua basic rosetta 5. Alhamdulillah saya terpilih sebagai juara satu,” katanya kepada HARNAS.ID, Rabu (16/12/2020).

Prestasi ini bukan kali pertama bagi Fujiyanto. Pria asal Depok, Jawa Barat itu sudah 15 kali mengikuti lomba serupa dan 9 kali meraih juara. Dalam kejuaraan “Kohicha Virtual Latte Art Competition”, Fujiyanto mendaftar atas nama barista Transitory Coffee.

“Semoga ke depan saya bisa membawa nama Transitory pada kejuaraan tingkat nasional,” tutur Fujiyanto.

Kendati kerap meraih gelar juara dalam ajang kompetisi seni kopi latte, Fujiyanto tak berbesar kepala. Sebagai barista, dia terus belajar gigih untuk memahami lebih dalam jenis kopi, mulai dari cara meracik, menciptakan selera rasa, termasuk berkarya seni.

“Jangan berhenti belajar dan berkomunikasi dengan costumers. Sudah sepatutnya barista mempunyai skill di bidangnya untuk menguasai industri kopi berseni,” ujarnya.

Transitory Coffee, tempat Fujiyanto sehari-hari meracik kopi bermarkas di Jalan Tole Iskandar No 40, Depok, Jawa Barat. Dia berharap, Transitory ke depan bisa lebih baik dari sebelumnya, saling support, dan menjadi coffee shop terfavorit di Kota Belimbing itu.

Editor: Ridwan Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here