Seorang pasien terlihat di dalam ambulans di luar rumah sakit Cotugno di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Naples, Italia, Kamis (12/11/2020) | ANTARA FILES

HARNAS.ID – Italia akan memberlakukan karantina wilayah (lockdown) di seluruh bagian negara pada sebagian besar masa liburan Natal dan Tahun Baru. Pengumunan itu disampaikan Perdana Menteri Giuseppe Conte, Jumat (18/12/2020), bersamaan dengan upaya pemerintah mencegah lonjakan baru  kasus virus corona baru (COVID-19).

Pengumuman itu menuai keraguan dan perselisihan di dalam koalisi, yang terbagi antara mereka yang menginginkan penutupan total dan yang mendesak tindakan lebih terbatas untuk membantu usaha-usaha yang kesulitan sekaligus memungkinkan beberapa reuni keluarga. Namun, situasinya sulit di seluruh Eropa karena virus terus beredar di mana-mana.

“Para pakar kami sangat khawatir akan ada lonjakan kasus selama Natal. Oleh karena itu kami harus bertindak, tetapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa ini bukanlah keputusan yang mudah,” kata Conte dikutip Antara, Sabtu (19/12/2020).

Di bawah aturan baru, toko-toko non-esensial akan ditutup pada 24-27 Desember, 31 Desember-3 Januari, dan 5-6 Januari. Pada hari-hari tersebut, masyarakat Italia hanya diperbolehkan bepergian dengan alasan pekerjaan, kesehatan, atau darurat.

Namun, kunjungan terbatas akan diizinkan, misalnya untuk menengok orang tua lanjut usia yang tinggal sendirian. Conte mengatakan, polisi tidak akan dikirim ke rumah warga untuk memastikan penaatan peraturan. Namun, dia meminta orang Italia untuk menjalankan tanggung jawab.

Toko-toko bisa buka antara 28-30 Desember dan pada 4 Januari. Orang-orang pun akan bebas meninggalkan rumah mereka pada waktu tersebut. Namun, selama masa liburan, semua bar dan restoran harus tetap tutup.

Conte menjanjikan kompensasi sebesar 645 juta euro (sekitar Rp 11,17 triliun rupiah) untuk membantu sektor perhotelan yang telah dilanda krisis kesehatan selama 10 bulan. Italia adalah negara Barat pertama yang terkena virus paling parah pada Februari.

Hingga Jumat, 67.894 orang telah meninggal akibat penyakit tersebut. Itu jumlah korban tertinggi yang tercatat di Eropa. Setelah jeda musim panas, infeksi melonjak di Oktober, memaksa pemberlakuan pembatasan baru oleh pemerintah.

Sejak saat itu, sebagian besar telah dilonggarkan. Namun, dengan ratusan orang yang masih meninggal setiap hari, pemerintah semakin khawatir bahwa liburan Natal dapat memicu penyebaran virus yang tidak terkendali.

Di bawah keputusan yang disahkan pada awal Desember, pergerakan antarwilayah dari 21 Desember-6 Januari sudah dilarang dan resor ski ditutup selama periode yang sama, dengan pembatasan bagi siapa pun yang memasuki Italia.

Editor: Ridwan Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here