Ilustrasi pekerja merapikan beras yang telah dimasukkan ke karung di gudang Bulog Subdivre Gorontalo di Talumolo, Kota Gorontalo, Gorontalo, Rabu (29/4/2020). ANTARA FOTO | ADIWINATA SOLIHIN

HARNAS.ID – Pemerintah diingatkan untuk untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga beras pada akhir 2020..

“Laporan Indeks Bulanan Rumah Tangga (BURT) yang rutin dikeluarkan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) setiap bulan menunjukkan harga beras kualitas medium sejak Oktober memang terpantau stabil tinggi di kisaran Rp12.500 per kilogram. Namun, harga ini berpotensi untuk mengalami kenaikan jelang Natal dan Tahun Baru 2021,” kata kata Peneliti CIPS Galuh Octania dalam keterangan tertulis, Kamis (3/12/2020).

Dia menjelaskan, antisipasi dibutuhkan karena titik kenaikan harga selalu tampak di saat permintaan meningkat seiring perayaan hari raya dan libur nasional.

Menurut Galuh, stok 1,1 juta ton saat ini tidak hanya menandakan lebih rendahnya dibanding tahun 2019 yang berjumlah 2,24 juta ton. Namun juga lebih rendah dibandingkan dengan stok beras 2018 sebanyak 2,19 juta ton.

Meski begitu, jumlah stok beras saat ini masih lebih tinggi apabila dibandingkan stok 2017 yang tercatat sebanyak 900.000 ton.

“Indonesia harus dapat mengantisipasi ketersediaan beras, tidak hanya untuk menghadapi libur akhir tahun akan tetapi juga menghadapi kebutuhan tahun 2021,” ujarnya.

Galuh mengingatka, jumlah stok akhir di tahun 2017 kemudian memaksa pemerintah untuk melakukan importasi beras hingga sebanyak 2,25 juta ton sepanjang  2018.

Oleh karena itu, kata dia menegaskan, peluang berulangnya keadaan seperti itu di tahun 2021 sepatutnya diantisipasi sesegera mungkin.

Editor: Aria Triyudha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here