Perajin menuntaskan jahitan kaos di tempat produksi Coseven di Perumahan Cimanggis Indah, Depok, Jalan Intan Blok J5, Kamis (26/11/2020). Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Coseven hadir sebagai solusi kebutuhan dasar masyarakat yang melayani berbagai pemesanan, mulai dari pakaian, tas, topi, jaket, dan hoodie, dengan harga terjangkau di tengah pandemi (COVID-19). HARNAS.ID | BARRI FATHAILAH

HARNAS.ID – Pelaku industri fesyen di Kota Bandung, Jawa Barat, mengubah strategi usaha selama pandemi COVID-19 agar bisa menjaga kinerja bisnisnya tetap bertahan. Pemilik merek fesyen Motzint Original Gilang Permana Kencana tak memungki usahanya nyaris gulung tikar, bahkan nasib para pekerja juga terancam.

Menurut dia, pandemi COVID-19 yang terjadi hampir sepanjang 2020 berpengaruh signifikan terhadap bisnis yang sudah dibangunnya dari 2014 itu. Tahun lalu, toko offline-nya terpaksa tutup. Penjualan ke luar kota tidak jalan. Reseller juga sama kondisinya, tidak bisa menjual barang.Terlebih hampir memutus kerja beberapa pegawainya untuk menjaga keuangan perusahaan.

“Namun, niat itu tidak terlaksana setelah mengubah beberapa kebijakan atau strategi usaha,” kata Gilang, Jumat (22/1/2021).

Beberapa strategi usaha yang diubah Gilang selama pandemi COVID-19, yakni mengandalkan bisnis online. Sebelumnya fokus mengandalkan penjualan Motzint secara offline di toko, kini dia menjaring pendapatan melalui daring dengan memanfaatkan beberapa marketplace, seperti Shopee.

“Lambat laun setelah menjalani proses di tengah pandemi, Motzint bisa bertahan bahkan meningkat dari sisi penjualan. Saya terus pelajari bisnis di online, marketplace dan lain-lain. Alhamdulillah ada hasilnya. Hingga kini saya juga tidak merumahkan atau melakukan PHK pegawai,” ujarnya.

Pandemi COVID-19 menuntut pelaku usaha di sektor industri fesyen segera beradaptasi sekaligus mengubah strategi agar bisa menjaga kinerja bisnis tetap baik. Gilang menuturkan perusahaan yang sehat bisa menghindari pengangguran baru akibat pemutusan kerja pegawai.

Pegawai di toko Motzint dialihkan untuk menjaga pembelian secara daring dan saat ini ada 15 orang yang bertugas di bagian tersebut. Mereka pun bertugas menjaga sekitar 500 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. Di bagian produksi, Gilang menambah pegawai di antaranya 40 penjahit baju, celana hingga jaket.

“Alhamdulillah dari menjelang akhir tahun kemarin, penjualan konsisten di angka 10 ribu barang terjual,” kata Gilang.

Capaian ini membuatnya yakin bahwa industri fesyen masih bisa berkembang meski di tengah situasi pandemi. Dia berharap banyak pengusaha khususnya anak muda bisa memiliki optimistis serupa. Ada sejumlah hal yang menjadi kunci dalam beradaptasi di antaranya menguasai ekosistem daring yang memiliki pasar lebih luas.

“Saya optimistis industri kreatif, fesyen tetap bisa berkembang. Pemerintah pun sedang mendorong pelaku UMKM berkembang dengan berbagai program termasuk bantuan modal,” tuturnya.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan, banyak masyarakat berinovasi melakukan kegiatan ekonomi dan secara langsung hal tersebut membuka peluang kerja. Rekrutmen tenaga kerja bisa tetap dilakukan karena ternyata usaha mereka bagus dan order pua ada terus.

“Pada dasarnya Pemkot Bandung memberikan apresiasi dan semangat bagi masyarakat yang tetap optimistis serta terus berinovasi di tengah pandemi,” kata Yana.

Editor: Ridwan Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here