Presiden Donald Trump menjabat tangan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, beberapa waktu lalu | ANTARA FILES

HARNAS.ID – Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menyebut Amerika Serikat (AS) sebagai “musuh terbesar” dan mengatakan kebijakan permusuhan Washington terhadap Korut tidak akan berubah terlepas dari siapa yang menempati Gedung Putih.

Berbicara di kongres partai di Pyongyang beberapa hari sebelum Presiden terpilih AS Joe Biden menjabat, Kim mengatakan bahwa mencabut kebijakan bermusuhan itu akan menjadi kunci bagi hubungan Korea Utara-AS.

“Kegiatan politik luar negeri harus difokuskan dan diarahkan kembali untuk menundukkan AS, musuh terbesar dan hambatan utama bagi perkembangan inovatif kami,” kata Kim dikutip Antara, Sabtu (9/1/2021). 

Belum ada komentar langsung dari Departemen Luar Negeri AS terkait hal ini. Seorang juru bicara kampanye Biden pun menolak berkomentar. Biden, yang merupakan wakil presiden di bawah Presiden Barack Obama, menyebut Kim sebagai “bajingan” selama kampanye pemilihan. 

Pada 2019, Korea Utara pun menyebut Joe Biden sebagai “anjing gila” yang perlu “dipukuli sampai mati dengan tongkat.”

Kim melakukan tiga pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Presiden AS Donald Trump dan keduanya berkorespondensi dalam serangkaian surat. Namun, upaya itu gagal mengarah pada kesepakatan denuklirisasi atau perubahan resmi dalam hubungan kedua negara.

Biden mengatakan pada Oktober bahwa dia hanya akan bertemu Kim dengan syarat bahwa Korea Utara akan setuju untuk menurunkan kapasitas nuklirnya.

Bulan lalu Kurt Campbell, diplomat tertinggi AS untuk Asia Timur di bawah kepemimpinan Obama mengatakan, pemerintah AS yang akan datang harus membuat keputusan awal tentang pendekatan apa yang akan diambil dengan Korea Utara dan tidak mengulangi penundaan era Obama.

Kim menyerukan lebih banyak penelitian dan pengembangan peralatan militer canggih, termasuk satelit mata-mata, senjata hipersonik, rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat, dan pesawat pengintai nirawak. Dia juga mengatakan penelitian mengenai kapal selam nuklir hampir selesai.

Korea Utara tidak akan “menyalahgunakan” senjata nuklirnya, kata Kim, tapi menyerukan untuk memperluas persenjataan nuklir negara itu, termasuk kemampuan serangan “mendahului” dan “pembalasan” dan hulu ledak dalam berbagai ukuran.

KEBIJAKAN EKONOMI

Selain AS dan kebijakan pertahanan, Kim juga berbicara panjang lebar tentang proposal untuk rencana ekonomi lima tahun baru yang akan diumumkan di kongres, yang menurutnya akan terus fokus pada pembangunan ekonomi independen.

“Benih dan tema dasar rencana pembangunan ekonomi lima tahun baru masih kemandirian dan swasembada,” ujarnya.

Di antara rencana tersebut adalah membangun pabrik baja hemat energi, secara signifikan meningkatkan produksi barang kimia untuk membuat industri mandiri, memproduksi listrik, dan mengamankan lebih banyak tambang batu bara, kata Kim.

Korea Utara menghadapi krisis yang meningkat yang disebabkan oleh sanksi internasional atas program nuklirnya, serta penguncian yang diberlakukan sendiri untuk mencegah wabah virus corona.

Menanggapi Korea Selatan, Kim mengkritik Seoul karena menawarkan kerja sama di bidang “nonfundamental” seperti bantuan virus corona dan pariwisata, dan mengatakan Korsel harus berhenti membeli senjata dari dan melakukan latihan militer dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Kim mencari cara untuk memperbarui hubungan antar-Korea dan berjanji untuk memperluas hubungan diplomatik dalam sambutannya di kongres.

Editor: Ridwan Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here