Martapura, Pabrik Intan Sekunder

Penambangan intan di sekitar Martapura masih campuran antara mengunakan mesin dan teknik pendulangan tradisional I Foto: A Gener Wakulu

HARNAS.ID – Tanggal 26 Agustus 1965, sekelompok pendulang intan, sebanyak 24 orang dibawah pimpinan H Madslam menemukan sebuah intan di lokasi pendulangan intan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar –kini Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Diukur-ukur, bobotnya 166,75 karat. Konon, inilah intan terbesar yang ditemukan setelah Perang Dunia II. Sekaligus, inilah intan terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Presiden Soekarno diberitahu. Tanggal 2 September 1965, presiden memberi nama intan itu “Intan Trisakti”.

Awal Januari 2008, rekor itu tumbang. Sebuah intan lain ditemukan di desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Bobotnya 200 karat. Intan yang masih mentah berbetuk bulat berwarna kehitaman nyaris sebesar bola mata itu diberi nama “Putri Malu”. Tanggal 22 Januari, intan itu berpindah tangan, dibeli pedangang permata seharga Rp 3 miliar. Konon uanganya diserahkan dalam bentuk tunai di kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pemilik barunya memperkirakan, setelah digosok dan diolah, intan tersebut bisa bernilai Rp 23,4 miliar.

Cerita tersebut kami tahu, sehingga usai mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan di pinggiran kota Banjarmasin, kami langsung keluar dari sungai Martapura dan menuju desa Cempaka, salah satu basis pendulangan intan di Kalimantan Selatan. Sebelumnya sudah banyak diketahu orang bahwa Martapura adalah “kota intan”, tempat pendulangan dan penjualan intan terbesar di Indonesia. Namun sebenarnya intan-intan dan beraneka batu lainnya itu seperti kecubung, akik dan sebagainya digerus dan dicari dari kawasan di sekitarnya, termasuk desa Cempaka ini.

Sebelumnya, kami tak punya gambaran tentang bagaimana situasi pendulangan itu. Ternyata hamparan tanah gersang sejauh mata memandang. Dikatakan gersang bukan berarti tidak subur, tapi yang jelas seperti zona tanpa pepohonan. Yang ada hanya semak belukar dan tanah becek. Matahari bersinar keras di tengah siang bolong itu, seakan menyengat kepala. Kubangan-kubangan air berwarna coklat tersebar di sana-sini tak beraturan. Di salah satu tambang yang kami datangi, sebuah konstruksi dari kayu dibuat menjulang keatas. Sebuah mesin penyedot memompakan air dan bebatuan ke atas, dimana kemudian akan dialirkan lagi ke bawah dimana air akan dipisahkan dari batu, demikian pula pasirnya. Di sinilah para pendulang bekerja. Sebagiannya lagi, mencebur ke kolam-kolam itu. Semuanya seperti mengadu nasib. Tapi di sinilah penambangan intan di sekitar Martapura yang termashyur itu.

Intan dan batu mulia lainnya yang dihasilkan di situ memang menjadi magnet bagi kehidupan orang-orang di situ, Tapi tak berarti nasib mereka rata-rata “di atas rata-rata”. Hasil dari sebuah tambang intan atau permata ini setidaknya dibagi tiga, yakni untuk pemilik lahan, pemilik peralatan atau mesin dan barulah para buruh pendulang itu. Selain itu, tidak semua pendulangan intan di Martapura bekerja menggunakan mesin-mesin besar. Karena masih banyak yang mengandalkan teknik-teknik tradisional dalam melakukan proses pendulangan. Belum lagi peralatan pengrajin tradisional yang seadanya dan tiadanya penguasaan terhadap metode pemotongan intan, membuat harga jual intan di para pengrajin tradisional sangat rendah. Bahkan beberapa pendulang intan lebih memilih untuk mengekspor intan mentah tanpa melalui proses pengrajinan terlebih dahulu sehingga keuntungannya kurang optimal.

Padahal, di sisi lain, kualitas intan Martapura, menurut gemologist, ahli batu mulia, terbilang yang terbaik di dunia, baik dari segi kekuatan maupun kilaunya. Hal itu dikarenakan intan Martapura merupakan intan jenis sekunder, yang telah larut terbawa arus sungai dari tempat asal terbentuknya batu mulia itu. Peristiwa yang terjadi ribuan tahun lalu itu membuat intan seperti ini telah terseleksi oleh alam kekuatannya, lebih keras dan padat. Hal ini berbeda dengan intan Afrika yang tergolong intan primer, yang berada di tempat terbentuknya batu mulia tersebut, dimana teksturnya lebih lunak dan mudah pecah. Intan, dalam proses di-make over menjadi berlian pada dasarnya kualitasnya ditentukan oleh empat “C”, yakni “clerarity”, “carat” atau ukuran intan, “colour” dan “cutting”. Nah, kelemahan intan yang dihasilkan Kalimantan Selatan ini ada pada cutting-nya.

Kota Martapura sendiri adalah ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kota ini ibarat bandar perdagangan intan, permata dan batu mulia lainnya. Jadi, bila bertandang ke Martapura, dengan sendirinya orang sudah tergiring untuk menyambangi pasar pusat batu permata dan cinderamata Cahaya Bumi Selamat di Jl. Ahmad Yani, Martapura. Pada deretan toko yang berjejer rapi bisa kita temukan batu intan, permata, batu mulia lainnya yang masih utuh atau yang sudah dipadupadankan dalam bentuk perhiasan. Ada pula aksesoris yang berbahan dasar batu. Selain itu, pasar ini juga menyediakan kerajinan tangan khas daerah hingga ramuan obat Kalimantan hingga souvenir lainnya. Pada hari-hari biasa pasar ini bisa dikunjungi oleh 10.000 orang, tetapi pada akhir pekan pengunjungnya meningkat dua kali lipat. Salah satu penghasilan kota Martapura, selain perdagangan batu mulia dan devisa memang juga dari kunjungan wisatawan. Selain itu, yang membuat Martapura berkembang pesat juga karena kota ini dikenal sebagai basis masyarakat Islam di Kalimantan Selatan. Martapura memiliki Madrasah Darussalam sehingga kota ini juga mirip kota santri.

Editor: A Gener Wakulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here