Nikmati Nepal van Java: Pendakian Gunung Sumbing (1)

Dusun Butuh di Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang yang dijuluki "Nepal van Java" menjadi salah satu base camp pendakian ke Gunung Sumbing. HARNAS.ID | A GENER WAKULU

HARNAS.ID – Setelah lama tidak mendaki gunung, saya kaget juga juga ketika memulai perjalanan dari Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Ruang tunggu terminal ini terletak di lantai dua, sungguh berbeda dengan anggapan terminal bus biasa, karena Pulo Gebang adalah wajah sebuah terminal bus mutakhir di Indonesia, dengan dinding-dinding kaca berplafon tinggi seperti halnya terminal bandar udara. Kami naik bus dari sini dengan tujuan hendak ke Gunung Sumbing, yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun tujuan kami adalah Wonosobo. Kok gitu? Begini ceritanya.

Gunung Sumbing sebenarnya terletak di wilayah tiga kabupaten, yakni Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Namun titik tolak pendakian kami, sebagai basecamp adalah di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang. Namun letak dusun ini lebih dekat ke pusat Kabupaten Wonosobo, yakni Terminal Mendolo, ketimbang ke pusat Kabupaten Magelang. Itulah kenapa kami memutuskan naik bus dari Jakarta ke Wonosobo.

Sebenarnya, ada banyak jalur pendakian untuk sampai ke puncak Gunung Sumbing, antara lain dari Garung, Capit Parakan, Butuh Kaliangkrik, Bowongso, dan Sipetung. Dari sekian banyak jalur pendakian itu, ada satu yang kini sedang viral karena menawarkan suasana seperti berada di negara Nepal, yakni via Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang. Orang-orang menyebut dusun ini sebagai “Nepal van Java”. Atas dasar inilah kami memulai pendakian dari Dusun Butuh ini.

Dan karena bus yang kami terlambat masuk ke Wonosobo, maka kami pun memutuskan memulai pendakian pada pukul 11 siang, padahal targetnya sebelumnya pukul sembilan. Tentu itu tak mengurangi kesempatan untuk menyimak sejenak kehidupan yang berobah di Dusun Butuh setelah viral di internet. Mobil-mobil berderet padat terparkir. Belum lagi sepeda motor. Wisatawan se-Pulau Jawa memenuhi dusun untuk sight seeing dan berfoto.

Kontur dusun ini memang punya gradien agak tajam, dan mengonsentrasikan perumahannya sedemikian rupa, meski disain warnanya belum lengkap. Bagi saya yang pernah ke Nepal, sebenarnya belum persis benar. Tapi tak apalah, toh gak ada salahnya dimirip-miripkan. Hanya, tata warnanya belum mencuat benar. Menurut cerita, sudah ada sponsor dari pabrik cat untuk membuat tampilan rumah-rumah di dusun ini lebih berwarna, namun produk catnya belum datang. Di atas perdebatan ini, berada di Dusun Butuh menyenangkan, karena memberi atmosfir yang berbeda dengan banyak dusun pegunungan lainnya. Serasa di Nepal? Boleh aja.

Gunung Sumbing, 3.371 mdpl merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru dan Gunung Slamet. Bersama dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing membentuk bentang alam yang kerap dianggap sebagai gunung kembar, seperti halnya Gunung Merapi dan Merbabu, apabila dilihat dari arah Temanggung. Celah antara gunung ini dan Gunung Sindoro dilalui oleh jalan provinsi yang menghubungkan kota Temanggung dan kota Wonosobo. Jalan ini biasa dijuluki sebagai “Kledung Pass”.

Namun mendaki Gunung Sumbing via “Nepal van Java “ juga punya keunikan tersendiri. Gunung Sumbing mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Sebagian besar wilayah lereng gunung ini telah digunakan untuk lahan pertanian. Letusan terakhir tercatat pada tahun 1730, yang membentuk kubah lava dengan aliran lava ke arah bibir kawah terendah.

Secara keseluruhan, tinggi antara Gunug Sumbing dan Sindoro tak berbeda jauh. Namun bagi para pendaki, Gunung Sumbing memiliki trek yang lebih berat daripada Gunung Sindoro karena gradien kemiringan yang terjal dan rute yang lebih panjang.

Editor: A Gener Wakulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here