Pendakian Sagarmata, Menyundul Langit Penuh Mantera

Gunung Himalaya | harnas.id

HARNAS.ID – Dalam keyakinan penganut Buddha, seorang Bodhisatwa adalah makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk selain dirinya di alam semesta. Dapat juga diartikan “calon Buddha”. Avalokitesvara adalah salah “seorang” Bodhisatwa yang merepresentasikan rasa kasih, dan matranya menyimbolkan kualitas.

Avalokiteshvara sendiri bermakna “Tuhan yang Melihat ke Bawah”. Mantra di atas adalah Mantra Avalokiteshvara. Ani Choying Drolma, sorang biarawati Buddha sekaligus musisi berkebangsaan Nepal yang berkeliling dunia untuk memperkenalkan lagu-lagu-lagu rohani Buddha Tibet menyatakan bahwa mantra tersebut adalah mantra welas asih.

Mantra tersebut sangat kuat memberkati kita dengan kemampuan rasa kasih seseorang untuk tidak hanya menyembuhkan dirinya tetapi juga menyembuhkan orang lain. Dengan diiringi mantra tadi yang berpendar di udara, kami memulai pendakian menelusuri “rute klasik” Himalaya dari Lukla menuju Base Camp Mount Everest.

Tadinya kami berhitung, mendaki di musim panas akan lebih mudah. Itu teorinya. Karena sebenarnya kami sudah ada di peralihan antara musim panas ke musim gugur. Dalam dingin yang menekan pada hari keempat pendakian, kami tiba di Deboche, sebuah desa yang letaknya di lembah, pada ketinggian 3.820 m di atas permukaan laut (dpl).

Namun perkiraan meleset. Menjelang tutup senja, ada serpihan salju perlahan melayang dari langit. Tapi kami pikir itu biasa menjelang malam semakin tinggi di Himalaya, belum terpikir ada perobahan cuaca. Namun pagi harinya, seluruh dataran sudah tertutup salju tebal!

“Ya, seluruh mountain guide yang berada di Himalaya sudah mendapat informasi perobahan cuaca ini dari pemerintah, akan berlangsung selama 2-3 hari ke depan,” ucap Kancha Sherpa, koordinator mountain guide yang memandu kami selama di Nepal menjelaskan badai salju yang terjadi sepanjang malam.

“Namun yang masalah bagi kita bukan hujan  saljunya, melainkan kondisi fisik kita. Untuk trek selanjutnya saya minta kawan-kawan mengurangi waktu beristirahat di jalan, karena kalau banyak berhenti malah tubuh kita bisa drop,” ujar Frans J Tumakaka, koordinator manajemen ekspedisi kami dari Indonesia Expedition.

Kami memang merasa letih setelah sehari sebelumnya menempuh rute Namce Bazar–Deboche. Pasalnya bukan hanya rute itu panjang, tetapi naik-turun. Dari ketinggian 3.440 mdpl di Namce Bazar, perlahan kami melorot turun menyeberangi sungai ke Phungi Thanga di ketinggian 3.250 mdpl.

Hanya istirahat sejenak untuk makan siang, dengan perut masih penuh, kami mesti gas pol mendaki menuju Tengboche Monastery di ketinggian 3.860 mdpl. Ini sangat melelahkan. Hari telah redup ketika tiba di Tengboche Monastery sehingga kami urung masuk ke kuil yang ada di film “Everest” ini, lalu melorot lagi ke pelukan dingin Deboche untuk bermalam.

Editor: A Gener Wakulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here