Logo WhatsApp | BLOGSPOT.COM

HARNAS.ID – WhatsApp memblokir lebih dari 2 juta akun penyebar hoaks, sejalan dengan fokus pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam memerangi penyebaran misinformasi saat pandemi. Data internal Kominfo, sejak 23 Januari-18 Oktober terdapat 2.020 konten hoaks seputar COVID-19 beredar di media sosial.

“Sementara yang sudah diturunkan (take down) berjumlah 1.759,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Pangerapan, Kamis (19/11/2020).

Kominfo dalam menangani konten yang berpotensi hoaks selalu menguji fakta, verifikasi, dan informasi yang masuk ke beberapa pihak. Jika setelah diverifikasi informasi itu tidak benar, kementerian akan beri stempel hoaks terhadap konten tersebut. Kominfo perlu mlakukan pengendalian, bukan membatasi kebebasan berekspresi publik atau berpendapat.

“Situasi pandemi ini kami perlu meluruskan informasi-informasi yang salah agar tidak meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Sedikitnya, tiga jenis infodemi yang beredar di Indonesia diidentifikasi. Pertama disinformasi (informasi sengaja dibuat salah untuk mendestruksi apa yang sudah beredar). Kedua, malinformasi (info faktual, tetapi dibuat untuk orang tertentu dengan tujuan tertentu) dan infodemi berupa misinformasi (informasi yang diberikan tidak tepat, tetapi tak ada unsur kesengajaan).

Direktur Komunikasi WhatsApp APAC Sravanthi Dev mengatakan, WhatsApp telah mengembangkan mesin yang dapat mengidentifikasi sebuah pesan spam. Meski demikian, peran aktif dari pengguna WhatsApp juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah disinformasi ini. Ketika melihat pesan yang tidak ingin dilihat, publik diminta melaporkan pesan itu sebagai spam.

“Kami akan mengambil tindakan,” tutur Sravanthi Dev.

WhatsApp dalam beberapa tahun ini juga telah menyesuaikan rancangan produknya untuk membendung disinformasi, yaitu dengan membatasi ketentuan jumlah penerusan pesan (forwarded message) menjadi hanya ke lima kontak dalam satu waktu. Hal ini membuat jumlah pesan yang diteruskan menurun hingga 25 persen. WhatsApp juga membarui pengaturan privasi grup.

Dengan begitu pengguna dapat meningkatkan keamanan privasi mereka. WhatsApp bahkan memperkenalkan label diteruskan (forwarded) panah tunggal dan sering diteruskan (highly forwarded) panah ganda untuk mendorong agar pengguna berpikir dua kali sebelum meneruskan lagi pesan tersebut. Terlebih di masa COVID-19 ini, semakin banyak pesan hoaks yang beredar.

“Saat pandemi ini, kami membatasi pesan yang sering diteruskan hanya ke satu chat saja,” ujar Sravanthi Dev.

Editor: Ridwan Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here