Kawasan Pura Besakih di Karangasem Bali tetap didatangi peziarah lokal dan wisatawan domestik meskipun tingkat kunjungan menurun drastis akibat pandemi. HARNAS.ID | A GENER WAKULU

HARNAS.ID – Beberapa kali ke Bali, saya gagal mengunjungi Pura Besakih. Padahal, pura ini adalah episentrum ruh keagamaan sebahagian terbesar masyarakat Bali. Sehingga, rasanya bila berkunjung ke Bali tidak menyambangi Pura Besakih kurang bisa menangkap aspirasi ruhaniah masyarakat Bali. Dan Alhamdulillah, kali ini saya berkesempatan.  

Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini sebenarnya sebuah kompleks peribadatan yang tidak sesederhana bila dibaca sepintas. Karena di kompleks ini terdapat 1 pura pusat (Pura Penataran Agung Besakih) dan 18 pura pendamping (1 Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Dalam kepercayaan penganut Hindu di Bali, di Pura Basukian inilah pertama kalinya wahyu Tuhan diterima oleh Hyang Rsi Markendya, cikal bakal Agama Hindu Dharma yang berkembang sekarang di Bali. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali.

Di antara semua pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan menjadi pusat semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat tiga arca atau candi utama simbol dari sifat Tuhan Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/Reinkarnasi.

Yang menarik adalah juga filosofi geografis Pura Besakih. Karena menuju Kawasan pura ini kita semakin menanjak menuju punggung Gunung Agung. “Ya begitulah filosofinya, maknanya menanjak menuju kehidupan spiritual yang lebih baik, kearah Nirwana. Gunung Agung ini simbolnya,” jelas IBA Prawira yang menemani selama di Bali.

Memang, keberadaan fisik bangunan Pura Besakih punya keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung Agung, gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam Arwah, Alam Para Dewata. Dengan itu berdirilah Pura Besakih di lereng barat daya Gunung Agung.

Di sisi lain, Pura Besakih juga diidentifikasi sebagai bagian dari perkembangan sosial budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga memengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material.

Sayangnya, tidak diketahui pasti kapan pura ini didirikan. Hanya, taksirannya pura ini sudah berdiri pada abad kedelapan Masehi. Namun, batu pondasi yang digunakan pada Pura Penataran Agung, pura terbesar di Kompleks Pura Besakih, punya kemiripan dengan pura yang yang berasal dari zaman megalitikum, sekitar 2000 tahun lalu.

Namun, para peneliti dapat memastikan bahwa Pura Besakih ini telah digunakan sebagai tempat pemujaan oleh penganut agama Hindu di Pulau Bali sejak 1284. Pada waktu itu, diketahui adanya aktivitas penyerangan oleh kerajaan-kerajaan Jawa ke Pulau Bali. Dan, pada abad ke-15, diketahui Besakih menjadi Pura Kerajaan Dinasti Gelgel. Karena nilai sejarah dan keutamaannya, Besakih pun telah masuk di daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO.

Kawasan tempat didirikan pura ini dahulu disebut “Hulundang Basukih”, yang kemudian berubah menjadi Desa Besakih. Nama Besakih berasal dari bahasa Sansekerta, “wasuki” yang dalam bahasa Jawa Kuno ditulis “basuki” mempunyai arti “selamat”. Nama Pura Besakih juga didasarkan pada mitologi Naga Basuki yang dianggap sebagai penyeimbang Gunung Mandara. Pembangunan kompleks Pura Besakih disesuaikan dengan arah mata angin yang merupakan simbol keseimbangan alam. Pura yang berdiri di keempat arah mata angin itu disebut sebagai mandala, sementara satu mandala berada di tengah yang berfungsi sebagai poros yang disebut sebagai dewa penguasa atau Dewa Catur Lokapala. Jadi kelima mandala melambangkan Panca Dewata.

Pusat atau poros mandalanya adalah Pura Penataran Agung Besakih, pura terbesar dari kelompok pura yang ada dan ditujukan untuk memuja Dewa Syiwa. Pura Gelap di sebelah timur untuk memuja Dewa Içwara, Pura Kiduling Kereteg berdiri di arah selatan untuk memuja Dewa Brahma, Pura Ulun Kulkul di sebelah barat untuk memuja Dewa Mahadewa, dan Pura Batumadeg yang dibangun di sebelah utara untuk memuja Dewa Wisnu.

Sebagai pura yang paling besar dan paling penting di Bali, tidak heran kalau di sini kerap dilakukan berbagai acara keagamaan. Setiap tahun, setidaknya terdapat 70 festival dilaksanakan di dalam kompleks pura ini. Selain itu, masyarakat Bali juga meramaikan pura ini pada saat terjadi bulan purnama yang menjadi momen perayaan Odalan.

Pura Besakih memang seperti sebuah sebuah ‘suaka’ dari kehidupan Bali bagian selatan, khususnya deretan pantai-pantai yang cenderung ingar-bingar. Berbanding terbalik dengan Kawasan Kuta, Legian, Seminyak, atau Jimbaran. Bahkan Sanur. Dengan ketinggian 920 meter dari permukaan laut, temperatur udara di kawasan ini sekitar 22°C. Terbilang sejuk untuk ukuran negeri tropis.

Dari ‘pusat peradaban’ Bali seperti Denpasar atau Kuta, tidak sulit untuk menuju ke Kawasan Pura Besakih di Kabupaten Karangasem. Petunjuk jalan mudah didapati. Dari arah selatan Bali, ambillah jalur kearah timur laut. Kalau dari Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, jaraknya sekitar 25 kilometer. Taksiran waktu tempuh kalo dari arah selatan Bali, sekitar dua jam.

Namun pandemi COVID-19 yang melanda dunia juga berpengaruh pada sector pariwisata, termasuk Bali. Dan itu besar dampaknya. Halaman parkiran kendaraan yang biasanya dipenuhi oleh mobil dan bus kini sepi. Demikian pula deretan warung dan kios penjual. Bahkan anak-anak penjual postcard Nampak gigih mengikuti sisa wisatawan yang datang ke Besakih. “Sampai sebegitulah dampaknya. Kawan-kawan yang terlibat dalam sektor pariwisata di sini sudah mengeluh,” imbuh Prawira. “Untunglah di Bali ada berbagaiupacara adat dan keagamaan. Sehingga produksi sayur, buah, dan bunga dari petani bisa ikut diserap untuk keperluan itu,” tambahnya lagi.

“Makanya, bekerjasama dengan Garuda Indonesia, kami dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, khususnya Direktorat Pemasaran Pariwisata Regional I melakukan reaktivasi dengan mengundang media untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali dalam tajuk ‘Kembali ke Bali’,” jelas Vinsensus Jemadu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I.

“Saat ini Garuda Indonesia sudah dinobatkan sebagai salah satu maskapai penerbangan dunia dengan standar penerapan protokol kesehatan dan keamanan terbaik pada masa pandemi versi Safe Travel Barometer. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga audit independen yang menilai aspek standar penerapan protokol kesehatan dan keamanan maskapai penerbangan global dalam pencegahan penyebaran COVID-19,” tambah Teguh Iman Budiyatno, Marketing Communications Garuda Indonesia.

Dalam rangka mendukung penanggulangan pandemi, pengelola Kawasan Pura Besakih pun menerapkan protokol kesehatan dengan menyediakan fasilitas cuci tangan, kewajiban mengenakan masker untuk wisatawan pengunjung dan menjaga jarak.

Demikian pula kita masuk hotel, restoran, dan venue wisata, ada petugas yang mendeteksi suhu tubuh kita dengan thermal gun, lalu fasilitas cuci tangan, serta sebagai kawasan wajib mengenakan masker serta tentu saja menjaga jarak. Intinya, bila merujuk ke protokol kesehatan, Bali sebenarnya sudah siap untuk secara bertahap menerima kunjungan wisatawan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Jadi memang kelak secara bertahap, masyarakat Indonesia, bisa dipelopori oleh kelas menengah, mengunjungi kembali kawasan-kawasan wisata di Indonesia untuk menghidupkan kembali bukan saja pariwisata melainkan ekonomi di daerah kawasan wisata dan nasional. #TerbangAman, cukup #DiIndonesiaAja.

Editor: A Gener Wakulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here