Seorang ibu bersama anaknya memakai masker sambil menggendong balita dengan ditutupi topi berjalan di atas jembatan penyeberangan orang (JPO) Jatinegara, Jakarta, Senin (26/10/2020). HARNAS.ID | BARRI FATHAILAH

HARNAS.ID – Sejumlah akademisi Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) meneliti dampak pandemi virus corona baru (COVID-19).

Pelaksanaan riset yang bekerja sama dengan Tanoto Foundation itu menyasar sikap masyarakat dalam polarisasi antara pandemi, resesi serta minat beli masyarakat terhadap beberapa sektor.

Dalam siaran pers yang diterima Jumat (6/11/2020), tim peneliti tergabung dalam Cluster Innovation and Governance (CIGO) FIA UI yang terdiri dari Eko Sakapurnama, Nurul Safitri, Umar F Achmadi, Faris Bagus Pradana, dan Bunga Tiana. Riset dilakukan terhadap 772 responden di wilayah Jabodetabek, dengan periode pengambilan data pada 14-30 September 2020.

Hasilnya terungkap, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi saat pandemi khususnya aspek sekunder dan tersier otomatis menyebabkan perputaran ekonomi tersendat.

Responden cenderung menahan konsumsi sektor traveling atau perjalanan dan transportasi. aviasi (domestik maupun internasional), dan otomotif. Produk perhiasan menjadi produk yang paling tidak diminati oleh responden. Sedangkan sektor belanja makanan dan bahan makanan menjadi sektor yang paling diminati oleh konsumen.

Terungkap pula, insight,  21 persen atau 150 responden meyakini COVID-19 merupakan konspirasi elit global. Mayoritas responden yang menyatakan hal ini berasal dari Bogor dan DKI Jakarta, yaitu sebesar 24,1 persen dan 22,5 persen. Responden yang masih meyakini isu itu berkarakteristik berpendidikan SMP-SMA, memiliki pengeluaran dibawah Rp 2,5 juta per bulan, dan mayoritas berusia 25-40 tahun.

Responden yang mempercayai COVID-19 adalah konspirasi elit global, mayoritas memiliki persepsi virus ini hanya berbahaya untuk lansia dan masyarakat dengan komorbid (penyakit penyerta).

Lebih lanjut, meski responden memiliki persepsi mematuhi prosedur kesehatan, tapi 18,8 persen atau 145 responden sering menggunakan masker dengan tidak benar.

Tim periset CIGO FIA UI yang diketuai Eko Sakapurnama merekomendasikan pemerintah terus mengedukasi melalui berbagai kanal (multimedia), dan dialog bersama tokoh masyarakat, ulama serta unsur penting lainnya Tujuannya agar masyarakat meyakini eksistensi dan risiko COVID-19. Kebijakan promotif dan preventif kesehatan perlu ditingkatkan. Pengetatan penegakan hukum dibutuhkan agar terbentuk budaya disiplin terkait protokol kesehatan COVID-19.

“Kami juga merekomendasikan agar pemerintah mengintensifkan kebijakan tracing, testing dan treatment, mengingat kasus penularan harian COVID-19 di Indonesia terus meningkat meskipun PSBB total jilid 2 di DKI Jakarta diterapkan. Kebijakan surveilans dapat diintensifkan menggunakan segenap ASN kesehatan dan membuka tenaga relawan lulusan kesehatan masyarakat, ilmu keperawatan maupun kedokteran,” ujar Eko.

Eko mengingatkan, pemerintah juga perlu memberikan stimulus ekonomi agar sub sektor industri aviasi dan sub sektor otomotif tetap terjaga dari segi keberlangsungan bisnis guna menekan dampak resesi akibat COVID-19.

Pelaku bisnis di sektor tersebut juga harus melakukan berbagai inovasi dan pengembangan model bisns agar dapat melakukan strategi bertahan atau survival mode hingga ekonomi kembali normal.

Eko menambahkan, hasil penelitian juga mengungkapkan preferensi konsumsi masyarakat tertinggi pada sektor makanan dan bahan makanan. Sehingga, ia menilai kebijakan  food estate sudah tepat dan perlu diimplementasikan konkret agar  menghasilkan ketahanan pangan.

Editor: Aria Triyudha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here