
Harnas.id, BOGOR – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026, atmosfer religius mulai terasa di Kota Bogor, Jawa Barat. Kota yang dijuluki Kota Hujan ini bukan hanya dikenal karena curah hujannya, tetapi juga karena jejak sejarah Islam yang masih terawat melalui masjid-masjid tua yang berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Ramadan di Bogor bukan sekadar momentum ibadah tahunan. Ia hadir sebagai pertemuan antara spiritualitas, sejarah, dan budaya Sunda yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
Salah satu penanda kuat jejak Islam di Bogor adalah Masjid Al-Mustofa di kawasan Bantarjati, Bogor Utara. Masjid yang dibangun pada 1728 ini disebut sebagai yang tertua di Kota Bogor.
Masjid tersebut didirikan oleh dua ulama, Tubagus Mustofa Bakri dari Banten dan Raden Dita Manggala dari Cirebon. Hingga kini, struktur utama bangunan masih dipertahankan, memberikan nuansa autentik yang berbeda dibanding masjid modern.
Di dalamnya tersimpan Al-Qur’an tulis tangan yang menjadi simbol literasi Islam masa lampau. Selain itu, terdapat sumber mata air yang dipercaya warga tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau panjang.
Memasuki Ramadan, kawasan ini biasanya lebih ramai. Jamaah datang tidak hanya untuk salat Tarawih, tetapi juga untuk beriktikaf dan merasakan suasana ibadah di ruang yang sarat sejarah.
Bergeser ke wilayah selatan Bogor, Masjid An-Nur Empang menjadi pusat spiritualitas warga keturunan Arab. Masjid yang berdiri sekitar tahun 1815 ini tumbuh bersama perkembangan komunitas Hadramaut di kawasan Empang.
Setiap Ramadan, masjid ini mengalami lonjakan jamaah yang signifikan. Tradisi zikir bersama serta pembacaan Maulid Ad-Diba’i menjadi agenda rutin yang menarik ribuan jamaah, termasuk dari luar Bogor.
Puncaknya biasanya terjadi pada malam ke-21 Ramadan atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai “maleman”. Aktivitas ibadah berlangsung hingga larut malam dengan pengamanan dan pengaturan kawasan yang lebih intensif.
Di luar masjid, tradisi masyarakat Bogor juga menjadi bagian penting dalam menyambut bulan suci. Salah satunya adalah Munggahan, tradisi khas Sunda yang dilakukan satu atau dua hari sebelum puasa dimulai.
“Munggahan bukan sekadar makan-makan, tapi momen saling memaafkan agar hati bersih sebelum berpuasa,” ujar seorang tokoh masyarakat di Bantarjati.
Dalam praktiknya, Munggahan diisi dengan cucurak atau makan bersama beralaskan daun pisang, biasanya menyajikan nasi liwet dan lauk tradisional. Selain itu, warga juga melakukan ziarah kubur ke TPU seperti Dreded maupun makam keluarga di sekitar masjid bersejarah.
Kegiatan bersih-bersih masjid juga menjadi agenda rutin. Warga bergotong royong menata dan membersihkan area ibadah agar nyaman digunakan selama Tarawih dan kegiatan Ramadan lainnya.
Tahun ini, pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama RI menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan tersebut menjadi penanda resmi dimulainya aktivitas ibadah puasa secara nasional, termasuk di Kota Bogor.
Pemerintah Kota Bogor pun mulai melakukan penataan kawasan religi. Langkah ini tidak hanya untuk mendukung kelancaran ibadah, tetapi juga mengantisipasi meningkatnya kunjungan wisata religi selama Ramadan.
Ramadan di Bogor pada akhirnya bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang temu antara sejarah Islam, tradisi lokal, dan dinamika masyarakat urban yang tetap menjaga akar budayanya.
Di tengah udara sejuk dan hujan yang kerap turun menjelang senja, Ramadan di Kota Hujan selalu menghadirkan suasana yang khas—hening, hangat, dan sarat makna.
Editor: IJS










