
Harnas.id, BOGOR – Lonjakan harga kedelai impor membuat perajin tahu di Kota Bogor mulai menyesuaikan harga jual. Di Jalan Bagaspati, salah satu pusat produksi tahu, para pengusaha lokal memutar otak untuk menyeimbangkan biaya produksi yang meningkat tajam.
Sebelumnya, harga kedelai impor berada di kisaran Rp 8.000 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 10.600 per kilogram. Kenaikan ini mendorong produsen tahu menaikkan harga jual, dari semula Rp 50 ribu per loyang menjadi Rp 60 ribu per loyang. Meski harga naik, ukuran tahu tetap dipertahankan.
Mumuh Mulyana, salah satu produsen tahu, mengatakan, “Perang yang tak kunjung usai membuat bahan baku tahu, mulai dari kedelai dan garam impor, hingga plastik pembungkus, melonjak tajam. Kami menduga kenaikan harga ini akan terus terjadi.”
Kenaikan harga kedelai ini dipicu oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Perajin tahu pun menghadapi dilema antara menekan biaya produksi atau menurunkan kualitas produk. Pilihan jatuh pada menaikkan harga, sambil menjaga ukuran tetap stabil untuk mempertahankan kepercayaan konsumen.
Situasi ini menjadi tantangan nyata bagi industri tahu di Bogor, yang dikenal sebagai salah satu sentra tahu terbesar di Jawa Barat. Produsen berharap kondisi bahan baku stabil kembali agar harga jual tidak terus meroket.
Editor: IJS










