Polisi di Anambas Jadi Sopir Jenazah Gratis, 9 Tahun Antar Warga Hingga Peristirahatan Terakhir

Aipda Raja Faisal Mushawir menerima penghargaan pada peringatan Hari Kesadaran Nasional 2026. Foto: Dok. Polri
Aipda Raja Faisal Mushawir menerima penghargaan pada peringatan Hari Kesadaran Nasional 2026. Foto: Dok. Polri

Harnas.id, RIAU – Pengabdian anggota Polri tak selalu tampil di ruang konferensi pers atau pengungkapan perkara besar. Di wilayah perbatasan NKRI, tepatnya Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, seorang polisi memilih jalur sunyi: mengantar jenazah warga secara gratis.

Ia adalah Raja Faisal Mushawir, anggota aktif Polri yang telah berdinas selama 21 tahun. Sejak 2017, ia secara sukarela menjadi sopir mobil jenazah bagi masyarakat di Tarempa dan sekitarnya.

Baginya, menjadi polisi adalah tugas negara. Namun mengantar jenazah adalah panggilan hati yang tak bisa ditunda ketika warga membutuhkan.

Setiap ada kabar duka, ia siap mengemudikan mobil jenazah dari RSUD Tarempa ke rumah duka, dari rumah ke pemakaman, bahkan untuk jenazah tanpa identitas. Layanannya tak membedakan latar belakang agama maupun status sosial.

Pengabdian itu bermula dari keterlibatannya dalam organisasi sosial pengurusan jenazah Babul Khairat yang bernaung di Masjid Nurul Ihsan Tarempa. Saat organisasi tersebut kekurangan sopir ambulans akibat keterbatasan dana dan usia pengurus yang sudah lanjut, ia menawarkan diri untuk membantu.

Sejak saat itu, ia menjadi pengemudi tetap satu-satunya mobil jenazah milik warga Desa Tarempa. Kendaraan tersebut melayani hampir 20 ribu jiwa di Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, dan Siantan Selatan.

Mobil jenazah pertama merupakan hibah pemerintah daerah yang dimodifikasi. Pada 2017, Babul Khairat kembali menerima bantuan mobil jenazah baru melalui program kemitraan Bank Riau Kepri.

Selama hampir satu dekade, ia mengaku tak lagi menghitung jumlah jenazah yang telah diantar. Masa paling berat terjadi saat pandemi COVID-19, ketika intensitas pelayanan meningkat tajam.

Selain mengantar jenazah, ia juga ikut mengawal evakuasi pasien COVID-19 yang menolak karantina, mendampingi tenaga kesehatan, hingga membantu penanganan darurat di wilayah kepulauan yang hanya bisa dijangkau lewat jalur laut.

“Pernah terlintas di pikiran saya, saat mengantar jenazah di tengah malam, mungkin suatu hari nanti saya juga akan berada di posisi yang sama. Semua hanya soal waktu,” kenangnya.

Dedikasi itu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sang istri, Maryam, yang berprofesi sebagai bidan di Kecamatan Siantan, kerap membantu warga yang kesulitan biaya persalinan maupun akses obat-obatan.

Keduanya sering bersinergi lewat jejaring Pemolisian Masyarakat (Polmas) untuk membantu warga, mulai dari ibu melahirkan hingga kebutuhan medis darurat. Kebersamaan itu membangun kepercayaan kuat antara keluarga mereka dan masyarakat sekitar.

Dukungan warga terasa nyata ketika keluarganya membutuhkan donor darah pasca-persalinan. Masyarakat datang bergotong royong membantu, bahkan mengirimkan makanan sebagai bentuk empati.

Pimpinan kepolisian setempat pun memberi dukungan penuh. Setiap ada panggilan kemanusiaan, izin diberikan oleh jajaran Polsek Siantan, Polres Kepulauan Anambas hingga Polda Kepulauan Riau karena aktivitas tersebut dinilai sejalan dengan tugas Polri sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.

Atas dedikasinya, pada peringatan Hari Kesadaran Nasional 2026, ia menerima penghargaan dari Asep Safrudin selaku Kapolda Kepulauan Riau. Apresiasi itu diberikan atas kontribusinya dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi Polri, khususnya di wilayah perbatasan.

Kisah ini menjadi potret lain wajah kepolisian di daerah terpencil. Bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi hadir mendampingi warga hingga perjalanan terakhir kehidupan.

Editor: IJS