Harnas.id, DOHA – Maskapai nasional Qatar Airways mengonfirmasi penangguhan sementara seluruh penerbangan dari dan menuju Doha setelah otoritas setempat menutup ruang udara Qatar.
Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk. Penutupan ruang udara dinilai sebagai langkah pengamanan menyusul perkembangan situasi yang berlangsung cepat dalam beberapa jam terakhir.
Dalam pernyataan resminya melalui akun X @qatarairways, manajemen menyebut operasional dihentikan sementara demi alasan keselamatan.
“Operasional penerbangan akan kembali dijalankan setelah ruang udara dinyatakan aman dan dibuka kembali,” tulis pihak maskapai.
Qatar Airways juga menyampaikan bahwa koordinasi intensif dilakukan bersama pemangku kepentingan pemerintah dan otoritas terkait untuk membantu penumpang yang terdampak.
Maskapai mengantisipasi potensi keterlambatan setelah operasional kembali normal. Untuk meminimalkan dampak, staf tambahan telah disiagakan di Hamad International Airport serta sejumlah bandara utama lainnya.
“Keamanan penumpang serta karyawan selalu menjadi prioritas utama kami, dan kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” demikian pernyataan resmi maskapai.
Penutupan ruang udara Qatar terjadi setelah Iran meluncurkan serangan rudal balasan yang dilaporkan menghantam sejumlah ibu kota negara Teluk, termasuk Riyadh, Abu Dhabi, Dubai, Doha, dan Manama.
Serangan tersebut disebut sebagai respons atas gelombang serangan udara yang sebelumnya dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2). Eskalasi cepat ini memicu kekhawatiran meluas di kawasan yang selama ini menjadi pusat energi global.
Di Uni Emirat Arab, Kementerian Pertahanan melaporkan satu warga sipil tewas di Abu Dhabi akibat tertimpa puing. Pemerintah UEA mengecam keras serangan tersebut.
“Uni Emirat Arab hari ini menjadi sasaran serangan terang-terangan oleh rudal balistik Iran,” kata Kementerian Pertahanan UEA seperti dikutip dari AFP. “Pertahanan udara UEA merespons dengan efisiensi tinggi dan berhasil mencegat sejumlah rudal.”
Kementerian Pertahanan Qatar juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah rudal. Seorang jurnalis AFP melaporkan melihat rudal pencegat menghancurkan proyektil di udara.
Arab Saudi turut mengecam serangan tersebut. Seorang warga Lebanon yang tinggal di Riyadh menggambarkan kepanikan yang ia rasakan.
“Saya mendengar ledakan-ledakan itu, saya tidak tahu apa yang saya rasakan,” katanya. “Kami datang ke Teluk karena dikenal lebih aman daripada Lebanon. Sekarang saya tidak tahu harus berbuat apa atau bagaimana berpikir.”
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab selama ini dikenal sebagai sekutu lama Washington dan menjadi tuan rumah berbagai fasilitas militer AS. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memengaruhi stabilitas energi dan jalur logistik global.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, perkembangan ini juga berimplikasi pada mobilitas warga serta potensi gangguan distribusi energi. Situasi masih dinamis dan pembaruan resmi dari otoritas kawasan terus dinantikan.
Editor: IJS







