Rupiah Nyaris Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Bayang-Bayang Perang Timur Tengah Ikut Menekan

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada layar perdagangan valuta asing. Foto: Google Finance
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada layar perdagangan valuta asing. Foto: Google Finance

Harnas.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (9/3). Hingga sesi perdagangan sore, mata uang Garuda dilaporkan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Data pasar menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.900-an per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya. Pergerakan ini menandai tekanan yang masih kuat terhadap mata uang negara berkembang di tengah ketidakpastian global.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi hampir bersamaan.

Menurutnya, situasi geopolitik global menjadi pemicu utama yang mendorong penguatan dolar AS. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran membuat pelaku pasar global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.

“Carut-marut inilah yang membuat pada saat pembukaan pasar tadi jam 6, indeks dolar itu terjadi gap up yang cukup tajam. Kemudian harga-harga semua mengalami pelemahan termasuk rupiah yang bergerak mendekati Rp17 ribu,” kata Ibrahim kepada wartawan, Senin (9/3).

Ia menjelaskan dinamika politik di Iran juga turut memengaruhi sentimen pasar global. Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dinilai menjadi sinyal bahwa konflik di Timur Tengah belum akan mereda dalam waktu dekat.

Menurut Ibrahim, konflik tersebut berpotensi berlangsung cukup lama dan bisa memperpanjang ketidakpastian ekonomi global.

“Kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan. Bahkan Trump mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rezim yang ada di Iran,” ujarnya.

Salah satu risiko terbesar dari konflik tersebut adalah gangguan terhadap Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.

Jika jalur itu terganggu, pasokan energi global bisa terdampak langsung. Kondisi tersebut saat ini sudah tercermin dari kenaikan harga minyak dunia.

Pada perdagangan Senin, harga minyak global tercatat telah menembus US$104 per barel. Lonjakan harga energi ini menambah tekanan terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ibrahim memperkirakan defisit anggaran berpotensi naik hingga 3,6 persen apabila harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah diperkirakan akan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah program belanja negara.

Ia bahkan memperkirakan pemerintah kemungkinan akan mengevaluasi alokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) jika tekanan fiskal meningkat.

Selain faktor ekonomi, dinamika politik domestik juga ikut diperhatikan pasar. Salah satunya terkait pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah ulama.

Dalam pertemuan itu, para ulama disebut menyampaikan usulan agar Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian (Board of Peace/BOP).

Langkah tersebut dinilai bisa saja dipertimbangkan apabila kebijakan organisasi tersebut tidak sejalan dengan sikap pemerintah Indonesia terkait isu Palestina.

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah memang mulai terasa dampaknya bagi perekonomian, meskipun belum berada pada level krisis.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan sektor yang paling cepat merasakan dampak adalah industri yang bergantung pada impor serta pembiayaan berbasis valuta asing.

“Pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.000 dampaknya nyata tapi belum krisis. Yang paling cepat dirasakan masyarakat adalah tekanan harga barang impor dan beban utang, baik di sektor usaha maupun APBN,” kata Ronny.

Ia menilai tekanan terhadap rupiah juga berpotensi merambat ke inflasi jika berlangsung dalam waktu lama.

“Kalau dibiarkan lama, inflasi bisa ikut terdorong,” ujarnya.

Menurut Ronny, masyarakat mungkin tidak selalu mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah. Namun mereka akan langsung merasakan dampaknya ketika harga kebutuhan sehari-hari mulai naik.

Kenaikan harga barang impor biasanya menjadi dampak pertama yang dirasakan. Produk yang sangat bergantung pada impor antara lain bahan pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik hingga energi seperti BBM dan LPG.

“Masyarakat mungkin tidak sadar kurs rupiah loyo, tapi mereka sangat sadar saat harga beras impor, gula, daging, ongkos transportasi, dan listrik terasa makin mahal,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai fenomena “inflasi sunyi”, ketika pelemahan nilai tukar terjadi secara perlahan tetapi menggerus daya beli masyarakat.

“Ujungnya semacam inflasi sunyi di mana rupiah melemah perlahan, tapi dompet bocor dalam waktu cepat. Jelas tekanan inflasi meningkat, dan daya beli terutama kelas menengah bawah akan tergerus,” ujar Ronny.

Pendapat serupa disampaikan ekonom Bright Institute, Muhammad Andri Perdana. Ia mengatakan banyak industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat. Dalam kondisi margin keuntungan yang tipis, produsen sering kali tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan harga jual.

“Banyak consumer goods dan bahan baku manufaktur dalam negeri yang bergantung pada barang impor, mulai dari elektronik sampai bahan baku pangan seperti gandum dan kedelai yang menjadi dasar pakan ternak serta berbagai makanan seperti tahu dan tempe,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi biaya hidup masyarakat dalam jangka menengah.

Editor: IJS