HPN ke-80 di Bogor Dirayakan Lewat Jaipong, Pers Turun ke Panggung Budaya

Penampilan tari Jaipong dari salah satu sanggar peserta dalam rangka HPN 2026 dan HUT ke-80 PWI. Foto: PWI.
Penampilan tari Jaipong dari salah satu sanggar peserta dalam rangka HPN 2026 dan HUT ke-80 PWI. Foto: PWI.

Harnas.id, BOGOR – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke-80 di Kota Bogor akan diwarnai nuansa budaya. PWI Kota Bogor memilih merayakannya dengan mendekatkan pers kepada publik melalui seni tradisional.

Bersama EO Kharisma Bogor Berbudaya, PWI Kota Bogor akan menggelar kompetisi tari bertajuk Lomba Jaipong Kharisma Budaya Istimewa. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung di Mal Jambu Dua, Kota Bogor, pada Minggu (8/2/2026).

Ajang tersebut diikuti puluhan sanggar tari dari berbagai wilayah. Para peserta akan bersaing memperebutkan Piala Juara Umum PWI Kota Bogor dalam suasana kompetisi yang terbuka untuk publik.

Ketua PWI Kota Bogor, Herman Indrabudi yang akrab disapa Kang Aldho, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk kepedulian insan pers terhadap pelestarian budaya lokal. Menurutnya, peringatan HPN tidak harus selalu identik dengan kegiatan seremonial jurnalistik.

“HPN bukan hanya milik wartawan, tetapi momentum untuk berbaur dengan masyarakat. Melalui lomba Jaipong ini, kami ingin memberi ruang apresiasi bagi seniman, khususnya generasi muda,” ujar Kang Aldho saat ditemui di Mako Tirto, Kamis (5/2).

Ia menegaskan bahwa peringatan HUT PWI ke-80 dimaknai sebagai kesempatan menjaga keberlanjutan budaya Sunda. Di tengah arus modernisasi, seni tradisional dinilai perlu terus dihadirkan di ruang-ruang publik.

“Kami ingin menjaga marwah budaya Sunda agar tetap hidup dan relevan di tengah gempuran zaman,” katanya.

Pemilihan lokasi di pusat perbelanjaan juga menjadi pertimbangan tersendiri. Menurut Kang Aldho, mal merupakan ruang strategis untuk mempertemukan seni tradisional dengan masyarakat lintas usia.

Dengan membawa Jaipong ke ruang publik modern, PWI Kota Bogor berharap daya tarik seni tradisi dapat menjangkau generasi yang lebih luas. Pendekatan ini dinilai efektif untuk memperkenalkan budaya tanpa kesan eksklusif.

Kompetisi Jaipong ini dibagi dalam dua kategori utama, yakni Pasanggiri atau solo dan Rampak atau grup. Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK/PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Penilaian akan dilakukan oleh dewan juri berdasarkan unsur teknik gerak atau wiraga, kesesuaian irama atau wirama, serta penjiwaan dan ekspresi tari atau wirasa. Ketiga unsur tersebut menjadi tolok ukur utama kualitas penampilan peserta.

Owner EO Kharisma Bogor Berbudaya, Irma Siti Nurafiani, menjelaskan bahwa tema Kharisma Budaya Istimewadipilih untuk merepresentasikan karakter tari Jaipong. Tema ini menekankan keanggunan, kekuatan, serta identitas budaya yang melekat pada Jaipong.

Ia mengapresiasi dukungan PWI Kota Bogor yang dinilai memberi ruang luas bagi pelaku seni untuk tampil dan berkembang. Kolaborasi lintas sektor ini dianggap penting dalam menjaga ekosistem budaya.

Irma juga mengungkapkan antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi, terutama pada kategori rampak. Kekompakan antarsanggar dinilai menunjukkan semangat kolektif dalam melestarikan seni tradisional.

Ia berharap kerja sama dengan organisasi profesi seperti PWI dapat terus berlanjut. Menurutnya, sinergi semacam ini berpotensi memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis budaya di Kota Bogor.

Melalui kegiatan ini, PWI Kota Bogor berharap dapat menjadi pemantik bagi organisasi lain untuk menyertakan unsur budaya dalam peringatan hari besar nasional. Pendekatan budaya dinilai mampu memperluas dampak sosial sebuah perayaan.

Dengan digelarnya lomba Jaipong di Mal Jambu Dua, PWI Kota Bogor menunjukkan bahwa pers, pelaku usaha, dan seniman dapat berjalan beriringan. Kolaborasi tersebut diharapkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Editor: IJS