Harnas.id, SURABAYA – Fenomena tanah bergerak kembali terjadi di Jawa Tengah. Kali ini melanda Desa Padasari, Kabupaten Tegal, serta Kelurahan Jangli, Kota Semarang, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Peristiwa ini berdampak langsung pada permukiman warga. Ratusan rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi, bahkan sebagian warga terpaksa mengungsi karena rumah dinilai tidak lagi aman.
Peneliti senior dari Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Amien Widodo, menjelaskan bahwa tanah bergerak merupakan bagian dari fenomena gerakan tanah yang berpotensi berkembang menjadi longsor.
“Tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan, baik secara vertikal, horizontal, maupun miring dari posisi semula. Ini bisa berupa rayapan, aliran, maupun longsoran,” ujarnya.
Di Desa Padasari, lima dukuh masuk dalam kawasan risiko dengan total 860 rumah terdampak. Rinciannya, 413 rumah rusak berat, 189 rusak sedang, 97 rusak ringan, dan 164 lainnya masih dalam kondisi baik namun tetap berada di zona rawan.
Sementara di Kelurahan Jangli, Kota Semarang, warga mulai mengevakuasi barang-barang dan mengungsi ke musala terdekat. Mereka berharap ada solusi relokasi demi keselamatan jangka panjang.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Data pengamatan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat dalam tiga bulan pertama 2025 terjadi 31 kejadian pada Januari, 21 pada Februari, dan 37 pada Maret terkait tanah longsor dan tanah bergerak di berbagai wilayah Indonesia.
Beberapa kejadian signifikan tercatat di Kecamatan Sirampog, Brebes, yang berdampak pada lebih dari 130 kepala keluarga. Wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur juga mengalami peristiwa serupa yang memaksa ratusan warga mengungsi.
Menurut Amien, perubahan tata guna lahan di kawasan perbukitan menjadi salah satu faktor dominan. Hutan alami dengan akar pohon yang kuat berfungsi sebagai pengikat tanah dan penahan alami lereng.
Pembukaan lahan yang tidak terkendali membuat struktur tanah menjadi rapuh. Retakan yang muncul menjadi jalur masuk air hujan, meningkatkan beban tanah, mengurangi daya ikat, lalu memicu pergerakan.
Ia menegaskan bahwa tanah bergerak umumnya didahului tanda-tanda awal. Retakan pada tanah dan dinding bangunan, pintu atau jendela yang sulit dibuka, serta pohon atau tiang listrik yang tampak miring perlu diwaspadai.
“Masyarakat di kawasan rawan perlu segera melaporkan tanda-tanda tersebut kepada pihak berwenang seperti kelurahan, BPBD, Dinas PUPR, atau Dinas ESDM agar dapat segera dilakukan langkah mitigasi,” katanya.
Langkah mitigasi hingga relokasi menjadi opsi ketika risiko semakin tinggi. Selain itu, penguatan tata ruang berbasis risiko, edukasi kebencanaan, serta rehabilitasi kawasan hutan menjadi bagian penting dalam mengurangi potensi bencana.
ITS melalui Pusat Studi MKPI menyatakan akan terus melakukan riset dan pendampingan berbasis sains guna memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana geologi.
Fenomena tanah bergerak juga berkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Isu ini menyentuh aspek permukiman aman, adaptasi perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem daratan sebagai penyangga alami lereng.
Editor: IJS











