Harnas.id, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan sesi pertama Rabu (21/1/2026). Tekanan jual terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global jelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) serta sentimen negatif dari ancaman tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengguncang pasar ekuitas dunia.
Hingga pukul 10.40 WIB, IHSG terkoreksi 1,20% ke level 9.024. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp15,66 triliun, melibatkan 28,94 miliar saham dalam 1,9 juta kali transaksi.
Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi pasar. Sebanyak 563 saham melemah, 142 saham menguat, dan 91 saham stagnan.
Nyaris seluruh sektor perdagangan bergerak di zona merah, dengan sektor properti dan konsumer primermencatatkan koreksi terdalam pada perdagangan pagi ini.
Saham-saham Grup Astra menjadi pemberat utama laju IHSG. Tekanan muncul setelah pemerintah mencabut sejumlah izin usaha kehutanan dan pertambangan menyusul bencana banjir di Sumatra, termasuk izin produsen tambang emas Agincourt yang dimiliki United Tractors (UNTR).
Saham ASII anjlok hampir 9% ke level Rp6.625 per saham, sementara saham UNTR sempat dibuka menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Tekanan juga datang dari saham Bank Central Asia (BBCA) yang tertekan aksi jual investor asing.
Pasar kini mencermati meningkatnya risiko global, terutama setelah Presiden Trump kembali melontarkan ancaman tarif perdagangan serta lonjakan imbal hasil obligasi global yang memicu aksi penghindaran risiko (risk-off).
Di dalam negeri, pelaku pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar hari ini. Bank sentral diperkirakan akan bersikap hati-hati dengan menahan BI Rate di level 4,75%.
Pada RDG sebelumnya, 16–17 Desember 2025, BI juga mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%. Keputusan tersebut merupakan kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir sebesar 25 basis poin pada September 2025 untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Untuk RDG Januari 2026, konsensus 13 lembaga/institusi yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan seluruhnya memperkirakan BI kembali mempertahankan suku bunga di level saat ini.
Tekanan pasar domestik sejalan dengan pelemahan bursa Asia-Pasifik. Pasar kawasan dibuka melemah mengikuti koreksi tajam Wall Street semalam, setelah Trump meningkatkan retorika geopolitik dan perdagangan, termasuk ancaman tarif terkait isu Greenland.
Kontrak berjangka Hang Seng berada di level 26.341, di bawah penutupan sebelumnya 26.487,51. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,28%, sementara Topix melemah 1,09%. Kospi Korea Selatan turun 1,09%, dan Kosdaq terkoreksi lebih dalam hingga 2,2%. Di Australia, S&P/ASX 200 melemah 0,32% di awal perdagangan.
Trump sebelumnya menyatakan ekspor dari delapan negara Eropa akan dikenakan tarif 10% mulai 1 Februari, yang dapat meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika negosiasi gagal. Ia juga mengancam tarif 200% untuk anggur dan sampanye Prancis serta mengkritik sejumlah kebijakan geopolitik Eropa dan Inggris.
Para pemimpin Eropa menilai ancaman tersebut tidak dapat diterima dan tengah mempertimbangkan langkah balasan, termasuk penggunaan Instrumen Anti-Koersi Uni Eropa.
Di Amerika Serikat, Wall Street mencatat penurunan terdalam dalam tiga bulan terakhir. Dow Jones anjlok 870,74 poinatau 1,76% ke 48.488,59. S&P 500 turun 2,06% ke 6.796,86, sementara Nasdaq Composite merosot 2,39% ke 22.954,32. Lonjakan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan dolar menandai meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebijakan perdagangan AS.
Editor: IJS





