Harnas.id, BOGOR – Pemerintah Kota Bogor melakukan pergeseran anggaran senilai Rp92 miliar pada tahun anggaran 2026 setelah prediksi Sisa Lebih Penghitungan Anggaran (Silpa) 2025 meleset. Awalnya, Pemkot memperkirakan Silpa mencapai Rp122 miliar, namun perhitungan akhir menunjukkan angka hanya Rp30 miliar.
Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, menegaskan langkah ini bukan refocusing anggaran, melainkan pergeseran kegiatan non prioritas ke akhir tahun. Tujuannya, kata Denny, untuk menjaga keseimbangan cashflow Pemkot.
“Kegiatan non prioritas digeser ke akhir tahun. Langkah ini diambil agar cashflow kita balance,” ujar Denny kepada wartawan, Jumat (6/2).
Denny memastikan, program strategis dan janji kampanye Wali Kota tetap menjadi prioritas dan tidak terganggu oleh pergeseran ini. Program-program yang dianggap penting akan berjalan sesuai rencana.
“Itu hanya untuk kegiatan non prioritas, kalau program strategis tidak akan diganggu sama sekali,” tegas mantan Ketua Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kota Bogor itu.
Lebih lanjut, kegiatan non prioritas akan dijalankan di akhir tahun jika memungkinkan, atau dialihkan melalui APBD Perubahan 2026. Kebijakan ini dilakukan semata-mata untuk mengamankan arus kas pemerintah kota.
Ketika disinggung apakah langkah ini diambil untuk menghindari masalah pembayaran seperti yang terjadi di Kabupaten Bogor, Denny menegaskan hal itu bukan faktor utama. “Nggak, nggak seperti itu. Intinya agar cashflow kita balance saja,” ujarnya.
Langkah pergeseran anggaran ini menjadi contoh bagaimana Pemkot Bogor mengelola keuangan publik secara fleksibel, menjaga program prioritas tetap berjalan, sekaligus menyesuaikan kondisi fiskal aktual.
Editor: IJS











