Dalam Suasana Haru, Lantunan Al-Qur’an Menggema di Tarawih Perdana Gaza

Tangkapan Layar Jamaah Salat Tarawih di Tengah Reruntuhan Gaza. Foto: Dok. x/AnasAlSharif0
ScreenshotTangkapan Layar Jamaah Salat Tarawih di Tengah Reruntuhan Gaza. Foto: Dok. x/AnasAlSharif0

Harnas.id, GAZA – Warga Palestina di Jalur Gaza menjalankan salat Tarawih pertama Ramadan 1447 H di tengah kondisi kehancuran yang masif akibat dua tahun konflik. Jamaah tidak berdoa di ruang masjid yang utuh, melainkan di atas reruntuhan atau tenda darurat di bekas kawasan tempat ibadah.

Peristiwa itu terjadi di malam pertama Ramadan, Selasa (17/2/2026), saat umat Islam menandai dimulainya bulan suci. Banyak masjid hancur total atau rusak berat sehingga jamaah harus mencari ruang alternatif untuk melaksanakan ibadah.

Di wilayah Gaza City, sisa-sisa bangunan masjid yang runtuh menjadi lokasi doa, dengan sebagian jamaah berdiri di antara puing-puing batu dan kayu sambil mendirikan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Imam masjid yang rusak parah, Sheikh Rami Al-Jarousha, mengatakan bahwa suasana Ramadan kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Ramadan ini memiliki nuansa yang berbeda. Orang-orang lelah, dari perang, dari kehilangan,” ujarnya saat memimpin salat di atas reruntuhan.

Ketika diminta menggambarkan momen itu, salah satu jamaah tua menyatakan bahwa meski tidak banyak yang tersisa dari bangunan ibadahnya, keyakinan untuk tetap menjalankan ritual tetap kuat. “Kami akan salat di mana pun,” kata beliau.

Laporan menyebut bahwa lebih dari 1.015 masjid telah hancur atau rusak berat selama konflik dua tahun terakhir dan puluhan lainnya hanya menyisakan puing. Penduduk setempat kemudian mendirikan tenda dan ruang doa sementara sebagai titik berkumpul umat selama Ramadan.

Selain itu, suara pesawat pengintai dan kondisi ekonomi yang berat turut menghiasi suasana malam pertama Ramadan. Jamaah yang berkumpul tak hanya berdoa untuk keimanan mereka, tetapi juga memohon kedamaian, keringanan penderitaan, serta perbaikan kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Momen ini menampilkan keteguhan spiritual warga Gaza yang tetap menjaga tradisi ibadah di tengah reruntuhan, mencerminkan harapan dan daya tahan komunitas dalam menghadapi kondisi sulit.

Editor: IJS