
Harnas.id, BOGOR – Kota Bogor menorehkan babak baru dalam perjalanan budaya dan musiknya melalui kehadiran Jazz Hujan, event musik jazz perdana yang diproyeksikan menjadi agenda ikonik tahunan Kota Hujan. Tak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, Jazz Hujan tampil sebagai ruang kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi ekonomi kerakyatan dan ekosistem kreatif lokal.
Digagas sebagai inisiatif strategis, Jazz Hujan dirancang untuk menjadi wadah berkelanjutan bagi musisi sekaligus penggerak roda ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pelaksana sekaligus Promotor Jazz Hujan, Dinna Fajrina, yang menegaskan bahwa event ini membawa misi lebih besar dari sekadar konser.
“Jazz Hujan kami rancang bukan hanya sebagai pertunjukan musik, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama. Mulai dari musisi lokal, pelaku UMKM, pelaku bisnis, hingga sektor perhotelan dan kuliner, semuanya diharapkan bisa merasakan dampaknya,” ujar Dinna.
Antusiasme publik terhadap Jazz Hujan pun terbilang tinggi. Tiket acara ini tercatat ludes terjual (sold out) sejak tiga minggu sebelum hari pelaksanaan. Dengan kapasitas terbatas sebanyak 146 penonton, sesuai konsep intimate experience yang diusung, Jazz Hujan berhasil menarik perhatian penikmat jazz dari berbagai daerah.
Menariknya, sekitar 30 persen penonton berasal dari luar Kota Bogor, seperti Jakarta, Tangerang, Surabaya, hingga Singapura. Kehadiran penonton lintas daerah ini memberikan efek domino bagi perekonomian lokal.
“Para pengunjung tidak hanya datang untuk menonton konser. Mereka juga berwisata kuliner, menginap di hotel, menggunakan transportasi lokal, dan berbelanja produk UMKM. Inilah yang kami maksud sebagai penguatan ekonomi kerakyatan,” jelas Dinna.
Puncak acara Jazz Hujan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 31 Januari 2026, bertempat di Fullbelly Eat, Bogor. Sejumlah musisi jazz lintas generasi akan tampil, merepresentasikan kekayaan dan keberagaman jazz Indonesia, di antaranya Indra Lesmana, Eva Celia, Chandra Darusman, Rafli Pradanto, Camone Sun, Agung Zulhen Trio, Infinity, Aira, serta Serella Dance.
Konsep intimate experience menjadi ciri khas Jazz Hujan, menghadirkan suasana hangat dan dialog musikal yang dekat antara musisi dan penonton. Ke depan, penyelenggara membuka peluang pengembangan skala acara agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas tanpa meninggalkan ruh utama Jazz Hujan.
“Insyaallah tahun depan kami ingin memperluas skala, bahkan sangat memungkinkan dilakukan secara outdoor. Tetap dengan ruh Jazz Hujan—mungkin nanti menonton jazz sambil memakai jas hujan,” ujar Dinna.
Jazz Hujan juga diharapkan menjadi rumah bagi musisi jazz lokal Bogor, mengingat besarnya potensi dan talenta jazz di kota ini yang selama ini belum memiliki panggung berkelanjutan.
“Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan keberpihakan pada ekonomi rakyat, Jazz Hujan menegaskan diri sebagai lebih dari sekadar konser. Ini adalah gerakan budaya dan ekonomi yang tumbuh dari Bogor untuk Indonesia,” pungkas Dinna.
Laporan: Erik Mulyadi
Editor: IJS










