Di Masjid ITS, Mendiktisaintek Singgung Generasi Pintar yang Mulai Kehilangan Arah Batin

Mendiktisaintek berbicara tentang hal paling mendasar: menjaga hubungan manusia dengan Tuhan di tengah dunia yang semakin bising. Foto: Humas ITS
Mendiktisaintek berbicara tentang hal paling mendasar: menjaga hubungan manusia dengan Tuhan di tengah dunia yang semakin bising. Foto: Humas ITS

Harnas.id, SURABAYA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Brian Yuliarto menyampaikan pesan reflektif soal krisis makna hidup di tengah masyarakat modern saat menghadiri Kajian Subuh Spesial di Masjid Manarul Ilmi ITS, Sabtu (9/5/2026).

Dalam kajian bertema “Subuh, 10 Hari Dzulhijjah, dan Kekuatan Doa” itu, Brian tidak banyak berbicara soal teknologi maupun pendidikan tinggi. Ia justru menyoroti pentingnya menjaga hubungan spiritual di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan kompetitif.

Menurutnya, banyak orang saat ini terlalu fokus mengejar pencapaian hingga lupa menjaga kekuatan hati dan ketenangan batin.

“Kadang kita terlalu sibuk mengejar pencapaian, sampai lupa menguatkan hati,” kata Brian membuka tausiyah usai salat subuh berjamaah.

Di hadapan sivitas akademika ITS dan masyarakat umum yang hadir, Brian menyinggung fenomena kelelahan mental yang mulai banyak dialami generasi modern.

Ia menilai persoalan tersebut bukan semata karena tekanan pekerjaan atau kurangnya kemampuan, tetapi karena banyak orang kehilangan makna hidup dan ruang spiritual dalam keseharian.

Dalam kajiannya, Brian juga menyoroti pentingnya salat Subuh berjamaah sebagai simbol disiplin sekaligus penguatan iman.

Menurut dia, pembangunan bangsa tidak cukup hanya ditopang kecerdasan intelektual dan penguasaan teknologi semata.

Ada nilai spiritual yang menurutnya justru menjadi pondasi penting dalam membentuk integritas manusia.

“Ilmu bisa membuat seseorang pintar. Tapi iman dan kedekatan kepada Allah yang membuat manusia tetap jujur ketika memiliki kekuasaan,” ujarnya.

Brian menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan berprestasi secara akademik.

Menurutnya, kampus juga harus mampu melahirkan manusia yang memiliki empati, kepedulian sosial, dan akhlak yang baik.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi generasi muda yang saat ini hidup di tengah derasnya kompetisi global dan tekanan sosial.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tanpa ketenangan batin sering kali justru menghadirkan kehampaan.

Momentum 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, lanjut Brian, menjadi kesempatan penting bagi umat Muslim untuk memperkuat spiritualitas dan memperbanyak amal saleh.

Ia mengajak jamaah memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Beberapa amalan yang disampaikan Brian antara lain:

  • Puasa sunnah
  • Sedekah
  • Dzikir
  • Memperbanyak doa

“Jangan pernah remehkan doa. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika dan kerja keras,” katanya.

Dalam tausiyahnya, Brian juga mengutip kisah Nabi Zakariya yang tetap berdoa dengan penuh harap meski berada di usia senja.

Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk keyakinan bahwa manusia selalu memiliki tempat untuk bersandar dalam menghadapi persoalan hidup.

Bagi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, kegiatan kajian tersebut bukan sekadar agenda keagamaan rutin kampus.

Kehadiran seorang menteri di ruang ibadah kampus dinilai membawa pesan simbolik bahwa pembangunan sains dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Di akhir kajiannya, Brian kembali menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi cerdas secara akademik.

“Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang hatinya hidup,” tutupnya.

Editor: IJS