Harnas.id – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mendorong generasi muda untuk melestarikan tradisi mendongeng melalui pengenalan cerita rakyat Indonesia. Upaya tersebut penting untuk menjaga tradisi bertutur yang mulai berkurang di tengah dinamika perkembangan zaman.
“Kalau dulu orang-orang tua kita banyak mendongeng, bertutur kepada anak-anaknya, tetapi sekarang semakin sedikit, sehingga cerita-cerita rakyat mungkin banyak mendapatkan saingan dengan cerita-cerita lainnya,” kata Fadli Zon dalam sambutannya dalam acara “Closing of Youth Storytelling Competition for International School Students 2026” di Jakarta, Minggu, (8/11/2026).
Menurut dia, generasi muda, terutama Gen Alpha, perlu mengenal kekayaan cerita rakyat sejak dini. Fadli mengatakan tradisi bercerita merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Menurut dia, pemerintah akan merawat, melindungi, mengembangkan, dan menghidupkan kembali tradisi tersebut.
Pihaknya menambahkan bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya (cultural megadiversity) yang sangat kaya. Ini mencakup bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritual, adat istiadat, serta berbagai kesenian.
“Nah, salah satu elemen yang ingin kita kedepankan sekarang ini adalah tradisi bertutur, tradisi bercerita, storytelling,” ucapnya. “Ini juga merupakan budaya yang perlu kita rawat, lindungi, kembangkan, dan bahkan hidupkan.”
Sebagai upaya pelestarian, kata dia, Kementerian Kebudayaan menghadirkan berbagai platform untuk memperkenalkan cerita rakyat kepada generasi muda. Salah satunya melalui “Youth Storytelling Competition for International School Students 2026” yang menggunakan bahasa Inggris.
Fadli mengatakan pemerintah juga mengembangkan kompetisi berbahasa Indonesia melalui program Cerita Rakyat. Pada tahun ini, Kemenbud turut menghadirkan program Gala Indonesia Bercerita yang mencakup loka karya dan kompetisi.
“Ini semua merupakan upaya kita untuk menjadikan cerita-cerita Indonesia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya. “Terutama bagi anak-anak muda karena mereka perlu diperkenalkan dengan cerita-cerita rakyat.”
Menbud mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan misi Kemenbud dalam memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Upaya itu, lanjut dia, juga mengacu pada amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945.
Fadli menambahkan Indonesia memiliki sekitar 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa. Keberagaman tersebut menyimpan berbagai kisah tradisional yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Setiap kampung punya cerita, setiap suku punya cerita, adat istiadat punya cerita. Jadi, dari setiap suku bangsa etnis itu saja banyak sekali cerita-cerita yang hidup di dalamnya,” tegasnya.
Menbud mencontohkan cerita Panji yang telah berkembang selama kurang lebih seribu tahun dan menyebar ke negara tetangga. Selain itu, Indonesia memiliki epos La Galigo yang mendunia serta beragam kisah pewayangan dari berbagai daerah yang memiliki unsur budaya yang khas.
“Itu cerita-cerita Panji dari Indonesia itu menyebar sampai ke negara-negara tetangga kita. Cerita Panji juga sudah menjadi Memory of the World tahun 2017,” ujarnya.
Menurut Menbud, cerita tradisional Indonesia dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk karya kreatif. Baik dalam bentuk anime, animasi, gim, hingga beragam produk budaya lainnya.
Fadli juga menekankan peran guru dan pendamping dalam memperkenalkan cerita rakyat kepada generasi muda. Para pendidik dapat menjadi fasilitator untuk mentransmisikan pengetahuan sekaligus membangun inspirasi.
“Jadikan guru sebagai fasilitator, saya kira ini sangat penting dan berperan di dalam membangunkan cerita-cerita di Indonesia. Melalui guru inilah kita bisa melakukan transmisi pengetahuan, menggerakkan inspirasi dan juga memperkenalkan cerita-cerita tersebut,” pungkasnya.
Dia berharap kompetisi storytelling dapat menjadi kegiatan rutin dengan jangkauan peserta yang lebih luas. Dia juga mengajak sekolah internasional memperkenalkan cerita lokal dan nasional kepada para siswanya.
“Di sekolah internasional itu kan banyak mungkin juga cerita-ceritanya global. Nah, kita harus memperkenalkan cerita-cerita lokal, cerita-cerita nasional,” pungkasnya.











