Menbud Fadli Zon Resmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional: “Monalisanya Indonesia”

Harnas.id – Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Peresmian ini dilakukan secara khusus untuk menghadirkan mahakarya agung peninggalan leluhur Nusantara agar dapat dinikmati langsung oleh masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon dengan bangga menyebut arca Prajnaparamita sebagai “Monalisa dari Jawa” atau “Monalisa dari Indonesia”. Ia menilai karya seni tiga dimensi ini bahkan jauh lebih hebat dibandingkan lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci.

“Galeri ini kita tampilkan khusus karena kita menilai dari sekian karya dan mahakarya dari nenek moyang kita, salah satu pencapaian artistik dan estetika yang tertinggi adalah Prajnaparamita,” ujar Fadli Zon di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Ia juga menambahkan perbandingan menarik terkait usia dan bentuk karya tersebut.

“Bahkan kalau boleh dibilang, ini adalah Monalisanya Indonesia, Monalisa dari Jawa… Kalau orang jauh-jauh ke museum di Louvre, di Louvre sana, di Prancis, mau melihat Monalisa, nah ini lebih hebat dari Monalisa. Kenapa saya katakan lebih hebat dari Monalisa? Karena ini tiga dimensi. Yaitu, kalau kita melihat karya patung ini jauh lebih sulit dan 200-300 tahun lebih awal.”

Menurutnya, jika lukisan Mona Lisa dibuat pada abad ke-16 oleh Leonardo da Vinci sekitar tahun 1500-an, arca Prajnaparamita justru berasal dari abad ke-13 atau sekitar tahun 1200-an pada masa era Raja Kertanegara dari Singasari.

Menyoroti Keahlian Nenek Moyang dan Keterbukaan Koleksi Museum

Menbud Fadli Zon turut mengapresiasi tingkat kesulitan tinggi dalam teknik pahat batu yang dikuasai oleh leluhur bangsa, yang disandingkannya dengan ekspresi ketenangan yang terpancar dari wajah sang arca.

“Kita menyaksikan bahwa nenek moyang kita itu mempunyai skill yang luar biasa. Karena memahat batu pasti lebih sulit dari melukis, ketimbang melukis… Tapi ada beberapa kemiripan, kesamaan. Pertama, yang dilukis adalah perempuan, walaupun ini sosok yang kemudian dipersepsikan sebagai seorang Dewi Kebijaksanaan. Juga kalau kita melihat mukanya membawa ketenangan, seperti mukanya Monalisa, ya, itu membawa ketenangan,” jelas Fadli Zon.

Melalui pembukaan galeri ini, Fadli Zon ingin memastikan bahwa koleksi-koleksi unggulan bangsa tidak lagi tersembunyi di ruang penyimpanan (storage), melainkan dipamerkan secara terhormat.

“Selama ini kurang kita pamerkan secara khusus, bahkan seringkali ada di ruang yang storage atau bahkan yang tidak terlalu banyak diekspos kepada publik. Nah sekarang kita tampilkan. Saya minta waktu itu kepada kepala MCB, Direktur MCB, Ibu Sri: ‘Bagaimana karya-karya terbaik, ya, ekspresi-ekspresi budaya terbaik itu harus kita pamerkan di sini,'” tegasnya.

Tidak hanya menampilkan keaslian arca peninggalan era Singasari asal Jawa Timur tersebut, Galeri Prajnaparamita juga dirancang inklusif dan ramah disabilitas.

Baca Juga: Sambut KMI 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tegaskan Komitmen Memperkuat Ekosistem Musik Indonesia

“Yaitu, di sini ada huruf Braille, sehingga galeri ini inklusif, termasuk bagi kalangan disabilitas, terutama disabilitas netra. Nah, bagaimana bisa menikmati ini? Ada huruf Braille, ada narasinya, kemudian juga ada miniatur, ya, yang ini yang untuk dipegangnya,” ujar Fadli Zon memaparkan fasilitas galeri.