
Harnas.id, JAKARTA – Puasa tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, tetapi juga memiliki kaitan dengan ketahanan individu hingga pertahanan sebuah bangsa. Pandangan tersebut disampaikan akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Daniel Mohammad Rosyid, dalam refleksinya tentang hubungan puasa, energi, dan pertahanan di tengah dinamika global saat ini.
Menurut Daniel, pertahanan atau defense merupakan atribut penting bagi sebuah negara. Pertahanan menunjukkan kemampuan suatu bangsa untuk menjaga integritasnya di tengah perubahan geopolitik dan tekanan global.
Sejarah mencatat, kata dia, banyak kekuatan besar dunia runtuh karena melemahnya pertahanan dari dalam. Salah satu contoh yang sering disebut adalah Kekaisaran Romawi yang pada akhirnya runtuh pada pertengahan milenium pertama.
Runtuhnya Romawi tidak hanya disebabkan oleh serangan dari luar, seperti invasi bangsa-bangsa Jermanik dari utara. Faktor internal seperti krisis ekonomi, inflasi, korupsi, ketidakstabilan politik, hingga masalah lingkungan dan penyakit turut mempercepat keruntuhan kekaisaran tersebut.
“Sejarah menunjukkan bahwa pertahanan yang rapuh dari dalam sering kali menjadi faktor utama runtuhnya sebuah kekuatan besar,” tulis Daniel dalam refleksinya.
Setelah runtuhnya Romawi Barat, pusat kekuatan dunia bergeser ke Konstantinopel, yang kini dikenal sebagai Istanbul. Kota tersebut bertahan selama berabad-abad hingga akhirnya ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada akhir abad ke-15.
Memasuki abad ke-21, Daniel menilai dunia juga sedang mengalami perubahan tatanan kekuatan global. Dominasi global yang selama ini dipimpin Amerika Serikat mulai mengalami penurunan.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai degradasi Pax Americana, yakni sistem global yang selama beberapa dekade dipimpin oleh Amerika Serikat setelah berakhirnya Perang Dingin.
“Dunia tidak lagi unipolar seperti dua dekade setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1990-an. Kini dunia bergerak menuju tatanan yang lebih multipolar,” ujarnya.
Menurut Daniel, munculnya kekuatan ekonomi dan politik baru seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang tergabung dalam BRICS menjadi salah satu indikator perubahan tersebut.
Sejumlah pengamat internasional juga telah menyoroti perubahan tatanan global ini. Fareed Zakaria misalnya pernah menggambarkannya sebagai “A Post-American World”.
Sementara itu, pemikir Prancis Emmanuel Todd dalam bukunya The Defeat of the West (2024) menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan melemahnya dunia Barat.
Todd menilai kemunduran tersebut berkaitan dengan ditinggalkannya nilai-nilai agama, proses deindustrialisasi, serta disintegrasi sosial yang dipicu oleh memburuknya kesehatan masyarakat dan meningkatnya kekerasan sosial.
Daniel juga menyoroti fenomena konsumsi energi berlebih di negara maju. Menurutnya, masyarakat di negara maju cenderung menjadi “energy-obese”, yakni memiliki tingkat konsumsi energi yang sangat tinggi.
Ia mencatat konsumsi energi per kapita di negara maju bisa mencapai sekitar 7 hingga 10 kiloliter setara minyak per tahun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi energi masyarakat di negara berkembang.
Menurut Daniel, konsumsi energi berlebihan dapat berdampak pada kerentanan sosial dan kesehatan masyarakat. Penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, stroke, dan kanker menjadi semakin banyak ditemukan.
“Fenomena konsumsi berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada stabilitas sosial dan daya tahan sebuah bangsa,” tulisnya.
Dalam perspektif keislaman, Daniel melihat puasa sebagai mekanisme pembentukan ketahanan diri. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebut puasa sebagai perisai.
Menurutnya, jika teknologi dapat dipahami sebagai sistem untuk menciptakan nilai tambah, maka puasa juga dapat dipandang sebagai sistem pembentukan nilai tambah dalam pertahanan diri.
Dalam Al-Qur’an dan hadis, konsep pertahanan tersebut sering dikaitkan dengan istilah shabr atau kesabaran. Shabr dipahami sebagai kemampuan menahan diri dan mengendalikan dorongan nafsu.
Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa manusia yang paling kuat bukanlah yang paling berotot, tetapi yang mampu menahan amarahnya.
Daniel menjelaskan bahwa pengendalian konsumsi, termasuk makanan, merupakan salah satu aspek penting dalam membangun ketahanan diri. Menahan lapar tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga membantu meningkatkan kejernihan berpikir.
Melalui pengalaman tersebut, seseorang dapat membedakan antara kebutuhan yang terbatas dan keinginan yang tidak terbatas.
Ketika kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan hilang, kata Daniel, maka potensi keserakahan dapat muncul. Kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat memicu ketimpangan sosial dan konflik.
Ia juga menilai pola hidup konsumtif dapat memperlemah fondasi pertahanan suatu bangsa. Hedonisme, korupsi, dan kesenjangan sosial yang meningkat berpotensi menggerus stabilitas sosial.
Dalam konteks itu, Daniel melihat puasa sebagai sarana pendidikan sosial yang penting. Ramadan, menurutnya, merupakan proses pembentukan kesabaran yang berlangsung secara bertahap.
Tahap pertama adalah rahmat, yaitu kesadaran bahwa Al-Qur’an menjadi pedoman hidup bagi manusia. Pada tahap ini umat Islam diajak untuk membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an.
Tahap kedua adalah maghfirah atau pengampunan. Pada fase ini kesadaran manusia berubah dari kegelapan menuju cahaya melalui ibadah seperti salat.
Sementara tahap ketiga adalah pembebasan dari pola kehidupan yang merusak. Pada fase ini manusia diajak meninggalkan pola hidup yang merusak diri dan lingkungan.
“Puasa menjadi proses pembentukan kesabaran yang berjenjang, sekaligus membangun ketahanan moral dan sosial,” tulis Daniel.
Ia menambahkan bahwa ibadah Ramadan tidak berhenti pada puasa semata. Kombinasi antara puasa, salat, dan zakat menjadi proses pembentukan karakter yang utuh.
Menurut Daniel, pengendalian konsumsi tidak hanya berlaku pada makanan, tetapi juga pada berbagai sumber daya seperti energi, bahan bangunan, hingga sumber daya alam lainnya.
Dalam perspektif tersebut, kehidupan yang seimbang dan tidak berlebihan menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Daniel menyebut pola konsumsi moderat sebagai kunci untuk menjaga produktivitas sekaligus menekan penggunaan energi yang berlebihan.
“Dalam Islam, pengendalian konsumsi tidak berhenti pada halal, tetapi juga thayyib, yakni baik dan seimbang,” tulisnya.
Melalui nilai-nilai tersebut, Daniel menilai puasa dapat menjadi sarana pendidikan sosial yang mendorong lahirnya masyarakat yang lebih disiplin, sehat, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Editor: IJS










