Dari Cigorowong, Santri Fazrul Amanah Terima Sanad Hafidz Al-Qur’an

Suasana Khotmil Qur’an dan Imtihan di Pondok Pesantren Fazrul Amanah, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Foto: Harnas/Istimewa.
Suasana Khotmil Qur’an dan Imtihan di Pondok Pesantren Fazrul Amanah, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Foto: Harnas/Istimewa.

Harnas.id, BOGOR — Suasana khidmat menyelimuti lingkungan Pondok Pesantren (PP) Fazrul Amanah di Kampung Cigorowong, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Minggu pagi (1/2/2026). Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengiringi prosesi penyerahan sanad Hafidz Al-Qur’an kepada para santri dari jenjang TPQ, TKIT, hingga SMP.

Kegiatan tersebut dirangkai dalam agenda Khotmil Qur’an dan Imtihan, tradisi keilmuan pesantren yang menandai selesainya pembacaan Al-Qur’an secara lengkap dari Surat Al-Fatihah hingga An-Naas. Momen ini menjadi penanda capaian belajar sekaligus komitmen spiritual para santri.

Imtihan tidak sekadar menjadi seremoni kelulusan. Dalam proses ini, para santri diuji kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil, ketepatan makhraj, serta penerapan kaidah tajwid sesuai standar keilmuan yang berlaku.

Puncak acara berlangsung sekitar pukul 08.50 WIB dengan penyerahan sertifikat dan sanad Hafidz Al-Qur’an. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Pimpinan PP Fazrul Amanah, KH Dr. Ir. Agus Priatno, MM, yang hadir khusus dari Semarang.

Acara ini juga dihadiri oleh Dr. Katini selaku perwakilan Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap konsistensi pendidikan Al-Qur’an yang dijalankan oleh pesantren tersebut.

Dalam sambutannya, KH Agus Priatno menekankan bahwa sanad memiliki makna penting dalam tradisi keilmuan Islam. Ia menyebut sanad sebagai mata rantai keilmuan yang menghubungkan para santri dengan para ulama hingga Rasulullah SAW.

“Sanad adalah bukti bahwa ilmu Al-Qur’an tidak dipelajari sembarangan, tetapi diwariskan dengan adab, keikhlasan, dan tanggung jawab,” ujar KH Agus Priatno.

Sementara itu, Dr. Katini menilai kegiatan Khotmil Qur’an dan Imtihan memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter generasi muda, terutama di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.

“Ini bukan hanya soal hafal, tapi soal cinta. Ketika anak mencintai Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaga hidupnya,” tuturnya.

Bagi para santri dan orang tua, momen tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus kebanggaan. Di balik senyum dan air mata haru, tersimpan harapan agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada hafalan, tetapi tumbuh menjadi perilaku dan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: IJS