Harnas.id, JAKARTA — Iran tengah berada dalam tekanan ekonomi berat setelah nilai tukar mata uang nasional, rial, terperosok ke level terendah sepanjang sejarah. Di pasar bebas, satu dolar Amerika Serikat kini diperdagangkan di kisaran lebih dari satu juta rial, membuat nilai mata uang domestik nyaris tidak bernilai dalam transaksi internasional.
Kondisi ini memperburuk daya beli masyarakat dan memicu kepanikan luas di sektor perdagangan. Anjloknya nilai rial menjadi pemicu gelombang protes nasional yang meletus sejak akhir Desember 2025. Ribuan pedagang menutup toko mereka di kawasan strategis seperti Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai pusat denyut ekonomi sekaligus simbol perlawanan politik di Iran.
Aksi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah kota besar lain, termasuk Isfahan, Shiraz, dan Mashhad. Aparat keamanan dikerahkan untuk mengendalikan situasi, sementara bentrokan antara demonstran dan polisi tak terhindarkan di beberapa titik. Krisis mata uang ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Inflasi tahunan tercatat melampaui 40 persen, dengan lonjakan tajam pada harga pangan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar.
Tekanan ekonomi diperparah oleh sanksi internasional, aset negara yang tertahan di luar negeri, serta ketegangan geopolitik kawasan. Situasi tersebut menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah dan mendorong protes yang disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak gelombang demonstrasi nasional pada 2022.
Editor: IJS











