Jangan Jadi Budak Prompt: Era AI Bikin Cepat, Tapi Ilmu Dasar Tetap Penentu

Ilustrasi penggunaan AI dalam proses desain multimedia. Image: Canva
Ilustrasi penggunaan AI dalam proses desain multimedia. Image: Canva

Harnas.id, JAKARTA – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar tren teknologi. Dalam waktu singkat, AI menjelma menjadi kebutuhan baru di berbagai sektor, termasuk dunia multimedia.

Dari pelajar hingga profesional kreatif, banyak yang mulai mengandalkan AI untuk menghasilkan foto, video, bahkan animasi hanya lewat perintah teks. Proses yang dulu memakan waktu berjam-jam, kini bisa selesai dalam hitungan detik.

Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan kreator digital. Sebagian menilai, kemunculan AI menjadi ancaman bagi profesi desainer dan seniman visual yang selama ini ditempa lewat proses belajar panjang dan teknis.

Namun, benarkah AI mampu sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia?

Praktisi Multimedia sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang (Unpam), Dary Halim, S.Tr., Anim., M.IKom menilai anggapan tersebut terlalu sederhana. Ia menegaskan, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat percepatan kerja.

“AI itu akselerator, bukan pengganti. Tapi ada syarat mutlaknya: pengguna harus punya fondasi ilmu yang kuat,” ujar Dary.

Menurutnya, tanpa pemahaman dasar, pengguna AI hanya bergerak cepat tanpa arah. Ia mengibaratkan pengguna AI tanpa ilmu dasar seperti seseorang yang memegang kompas di tengah hutan, tetapi tidak memahami arah mata angin.

Dalam praktik desain profesional, misalnya, aset visual hasil generatif AI tetap membutuhkan sentuhan teknis lanjutan. Tanpa pemahaman tentang masking, color grading, komposisi, hingga teori komunikasi visual, hasil AI sulit dikurasi sesuai kebutuhan komunikasi yang spesifik.

“Kalau tidak paham depth of field atau golden ratio, prompt yang diberikan ke AI itu hanya tebak-tebakan. Bukan karya yang dirancang dengan kesadaran konsep,” jelasnya.

Dary juga menyoroti cara kerja AI yang pada dasarnya mengolah dan memanggil data dari basis informasi yang sudah ada. Artinya, kualitas output sangat ditentukan oleh kemampuan pengguna dalam merumuskan perintah berbasis pemahaman teori dan terminologi yang tepat.

Ia mengingatkan para mahasiswa dan calon desainer agar tidak tergoda meninggalkan mata kuliah dasar demi mengejar efisiensi instan. Justru di era AI, pemahaman logika di balik tools menjadi pembeda antara profesional dan amatir.

AI memang bisa menyediakan aset dengan cepat. Namun kemampuan untuk mengolah, mengkritisi, serta memastikan kesesuaian etika dan tujuan komunikasi tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, Dary menegaskan bahwa yang akan tertinggal bukanlah mereka yang menolak AI, melainkan mereka yang hanya bergantung pada tombol instan tanpa memahami dasar ilmunya.

“Teknologi boleh melaju cepat. Tapi tanpa fondasi keilmuan, kita hanya jadi operator mesin yang kehilangan arah,” tandasnya.

Editor: IJS