Berdarah Tionghoa, Christopher Mahasiswa ITS Pilih Jalur Wayang dan Tembus Forum Dunia

Christopher Jason Santoso, mahasiswa ITS dan dalang muda Surabaya. Foto: Humas ITS
Christopher Jason Santoso, mahasiswa ITS dan dalang muda Surabaya. Foto: Humas ITS

Harnas.id, SURABAYA – Dunia pewayangan kerap dilekatkan pada tradisi Jawa. Namun batas itu tak berlaku bagi Christopher Jason Santoso, mahasiswa S1 Studi Pembangunan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang memilih menapaki jalan sebagai dalang, sekaligus peneliti budaya.

Mahasiswa angkatan 2022 itu mulai mengenal wayang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah tugas pagelaran sederhana justru menjadi titik balik yang membuatnya jatuh hati pada seni tradisi tersebut.

“Dari awal, saat mengerjakan tugas itu saya merasa ini adalah sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari,” kenangnya.

Dukungan keluarga membawanya bergabung dengan sanggar wayang di Surabaya. Namun perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus.

Christopher yang lahir 26 Agustus 2004 ini sempat menerima celaan karena mengalami rhotasisme atau cadel huruf R. Ia juga pernah merasakan penolakan karena latar belakang etnis Tionghoa.

Situasi tersebut membuatnya sempat menjauh dari dunia pedalangan. Meski begitu, keinginannya untuk kembali belajar tak padam.

Ia memilih belajar secara otodidak melalui buku dan media sosial. Upayanya berbuah hasil ketika tampil membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa—Inggris, Jawa, dan Mandarin—pada acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS.

“Saya sempat berhenti (mendalang), tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” ujarnya.

Tak hanya di panggung, Christopher juga aktif meneliti isu sosial. Tugas akhirnya berjudul Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasismemengulas pengalaman individu dengan kondisi cadel dalam ruang sosial perkotaan.

Riset tersebut membawanya menjadi pembicara di International Symposium on Javanese Culture 2024. Ia menilai, pengalaman personal justru memperkaya perspektif akademiknya.

Selain akademik dan seni, Christopher merintis startup jamu modern bernama Herbits. Inovasi ini didanai Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023 serta ITS Youth Technopreneur 2023–2024.

“Anak muda jarang minum jamu, jadi saya dan tim mengembangkan inovasi Herbits sebagai jamu modern,” jelasnya.

Jejaknya meluas hingga tingkat internasional. Ia pernah mewakili ITS dan Indonesia sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia, serta terlibat dalam Asia Youth Sustainability Forum 2025, Youth AALCO 2023, dan Smart Ocean Summer School di Tianjin University, China.

Di tengah kesibukan kuliah, calon wisudawan ITS periode ke-133 pada April 2026 itu masih aktif menerima undangan mendalang. Salah satunya tampil dalam TEDxITS 2024 Special Performance di Milieu Space Surabaya.

Christopher mengaku mengidolakan dalang Ki Nartosabdo, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Tristuti Rachmadi. Ia bercita-cita menjadi peneliti yang tetap berpijak pada kebudayaan.

Kisahnya menunjukkan bahwa seni tradisi dapat dirawat siapa saja, tanpa batas latar belakang. Di saat isu inklusi sosial mengemuka, perjalanan Christopher menjadi contoh bahwa ruang budaya dan pendidikan bisa berjalan beriringan.

Editor: IJS