Rojali Bangkit di Dapur Umum BAZNAS, Penyintas Tak Lagi Pasif

Aktivitas penyintas banjir mengelola dapur umum BAZNAS di Aceh Tamiang. Foto: BAZNAS
Aktivitas penyintas banjir mengelola dapur umum BAZNAS di Aceh Tamiang. Foto: BAZNAS

Harnas.id, ACEH TAMIANGBadan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menghadirkan pendekatan berbeda dalam penanganan pengungsi banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Melalui program Dapur Umum Hidangan Berkah Ramadan, para penyintas tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam pengelolaan dapur.

Langkah ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga diarahkan untuk pemulihan mental dan pemberdayaan masyarakat di tengah kondisi darurat. Model gotong royong ini dinilai menjadi bagian penting dalam proses bangkit pascabencana.

Salah satu penyintas yang terlibat adalah Muhammad Rojali (44). Rumahnya hanyut akibat banjir bandang pada November lalu, namun sejak Januari ia memilih menjadi relawan di dapur umum.

“Awalnya saya hanya menerima bantuan makanan, tapi saya tergerak hati untuk ikut membantu memasak. Saya merasa tidak enak kalau hanya menerima saja, saya ingin ikut berbuat sesuatu,” ungkap Rojali saat ditemui di tenda pengungsian di Desa Lubuk Sidup.

Kini, Rojali tinggal bersama istri dan tiga anaknya di tenda darurat. Ia menilai keberadaan dapur umum sangat membantu, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan di tengah keterbatasan ekonomi.

“Sangat bermanfaat, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kalau tidak ada program ini, kami kesulitan. Untuk masak daging saja kami belum mampu membeli sendiri, tapi melalui bantuan BAZNAS, kami bisa makan dengan layak dan bergizi,” tambahnya.

Setiap hari, dapur umum ini mengolah sekitar 50 kilogram beras dan mampu menyediakan hingga 700 porsi makanan. Prosesnya dilakukan secara bergantian oleh warga, mulai dari memasak lauk hingga menyiapkan takjil untuk berbuka puasa.

Keterlibatan aktif penyintas menciptakan pola solidaritas yang kuat di tengah pengungsian. Selain memenuhi kebutuhan dasar, aktivitas ini juga membantu membangun kembali rasa percaya diri warga terdampak.

Rojali pun menyampaikan apresiasi kepada BAZNAS dan para donatur. Ia menilai bantuan yang diberikan tidak hanya meringankan beban, tetapi juga memberi semangat bagi para penyintas.

“Kami sangat berterima kasih kepada BAZNAS yang telah membantu kami setiap hari melalui dapur umum ini. Bantuan ini sangat memberikan semangat bagi kami para relawan dan penyintas. Semoga BAZNAS terus maju, dan para donatur diberikan keberkahan serta kesehatan karena telah peduli pada nasib kami di pengungsian,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Utama BAZNAS RI Subhan Cholid menegaskan bahwa pelibatan masyarakat merupakan bagian dari filosofi zakat itu sendiri.

“Filosofi zakat adalah memberdayakan. Lewat dapur umum ini, BAZNAS tidak hanya menyalurkan makanan, tetapi juga menciptakan ekosistem gotong royong. Kita ingin mustahik terlibat aktif sehingga muncul rasa percaya diri dan kemandirian kolektif di masa pemulihan ini,” jelasnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Ia menambahkan, BAZNAS akan terus mendampingi para penyintas hingga tahap rehabilitasi. Menurutnya, kisah seperti yang dialami Rojali menunjukkan bahwa zakat mampu menggerakkan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Kisah Pak Rojali membuktikan zakat mampu menggerakkan orang untuk membantu sesama. Kekuatan solidaritas dan gotong royong inilah yang akan menguatkan Indonesia kembali pascabencana,” ujarnya.

Editor: IJS