RUPS Ancol 2026 Kinerja Disetujui Dividen Dibagikan Pengurus Baru Ditetapkan

Sesi konferensi pers usai RUPS PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk di Jakarta. Foto: Corsec Ancol
Sesi konferensi pers usai RUPS PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk di Jakarta. Foto: Corsec Ancol

Harnas.id, JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 dengan sejumlah agenda strategis. Mulai dari laporan kinerja tahun buku 2025, pembagian dividen, hingga perubahan susunan pengurus perseroan.

Dalam keputusan rapat, pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar Rp 26,05 per lembar saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 41,6 miliar atau setara 23,13 persen dari laba bersih.

Sepanjang 2025, perseroan mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 1,121 triliun. Sementara laba bersih yang dibukukan mencapai Rp 180,19 miliar, mencerminkan kinerja yang tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global.

RUPS juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi untuk memperkuat arah bisnis ke depan. Posisi Komisaris Utama dan Komisaris Independen kini dijabat oleh Irfan Setiaputra.

Adapun jajaran Dewan Komisaris lainnya terdiri dari Suharini Eliawati, Lies Hartono, Sutiyoso, serta Komisaris Independen Trisni Puspitaningtyas. Sementara di jajaran direksi, posisi Direktur Utama dipegang oleh Syahmudrian Lubis.

Direksi lainnya diisi oleh Cahyo Satriyo Prakoso, Daniel Nainggolan, Eddy Prastiyo, dan Rahmaniar. Susunan baru ini efektif berlaku sejak penutupan RUPS.

Di tengah dinamika industri, manajemen menilai sektor pariwisata dan leisure mengalami perubahan signifikan. Pengunjung kini tidak hanya datang untuk menikmati destinasi, tetapi mencari pengalaman yang lebih menyeluruh.

Karena itu, Ancol mulai menggeser pendekatan bisnisnya. Dari sekadar destinasi kunjungan menjadi destinasi berbasis experience yang mengedepankan koneksi dan nilai bagi pengunjung.

Sejumlah langkah konkret dilakukan, seperti digitalisasi layanan ticketing, peningkatan fasilitas, serta pengembangan konten dan event tematik. Strategi ini menjadi kunci dalam menjaga performa pendapatan perusahaan.

Perseroan juga menegaskan tengah berada di fase penting, bukan hanya bertahan, tetapi masuk ke tahap transformasi lanjutan. Fokus ke depan diarahkan pada peningkatan value per customer, bukan sekadar jumlah pengunjung.

Selain itu, optimalisasi aset dan ekosistem menjadi prioritas utama. Perusahaan mulai mengandalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan, menggantikan pendekatan berbasis asumsi.

Kolaborasi strategis juga akan diperluas untuk memperkuat daya saing jangka panjang. Langkah ini diharapkan mampu membangun ekosistem wisata yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Manajemen menegaskan, transformasi ini tidak hanya berhenti pada strategi bisnis. Perubahan juga diarahkan menjadi budaya kerja, dengan penekanan pada disiplin eksekusi dan penguatan sumber daya manusia.

Dengan semangat baru ini, Ancol menargetkan posisi yang lebih relevan di masa depan. Tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ekosistem pengalaman yang memberi dampak bagi pengunjung, pemegang saham, dan kota Jakarta.

Editor: IJS