
Harnas.id, WASHINGTON — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim blokade militer di Selat Hormuz berjalan efektif menekan Iran. Kebijakan ini diberlakukan sejak 13 April dan tetap dipertahankan meski gencatan senjata diperpanjang.
Trump menuding kondisi ekonomi Iran terdampak serius akibat pembatasan akses pelabuhan. Militer AS diketahui memblokade jalur keluar-masuk pelabuhan Iran di sekitar selat strategis tersebut sejak awal masa gencatan senjata.
“Iran telah kolaps secara finansial! Mereka ingin Selat Hormuz dibuka segera,” kata Trump melalui unggahan di platform Truth Social, Rabu (22/4) waktu Indonesia.
Ia bahkan menyebut kerugian Iran mencapai ratusan juta dolar per hari. “(Iran) kekurangan uang, kehilangan 500 juta dolar (sekitar Rp5,8 triliun) per hari. Militer dan polisi komplain gaji mereka tidak dibayar,” lanjutnya.
Di sisi lain, keputusan memperpanjang gencatan senjata dilakukan secara sepihak oleh AS. Trump mengaku langkah itu diambil setelah adanya permintaan dari pemerintah Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Gencatan senjata antara AS dan Iran sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 22 April. Namun, perpanjangan dilakukan tanpa batas waktu yang jelas, bersamaan dengan tetap diberlakukannya blokade militer.
Pemerintah Iran belum memberikan respons resmi terkait perpanjangan tersebut. Namun, sikap Teheran terhadap blokade justru semakin tegas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut tindakan AS sebagai bentuk agresi. Ia menilai blokade tersebut bertentangan langsung dengan semangat gencatan senjata.
“Iran tahu bagaimana cara mengatasi pembatasan, bagaimana mempertahankan kepentingannya, dan bagaimana melawan perundungan,” kata Araghchi dikutip Al Jazeera.
Iran juga menegaskan tidak akan membuka ruang negosiasi sebelum blokade dicabut. Posisi ini memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih menemui jalan buntu.
Secara strategis, Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Situasi ini mencerminkan tarik-menarik kepentingan antara tekanan ekonomi dan respons politik. Selama blokade masih berlangsung, risiko eskalasi konflik tetap terbuka, terutama jika tidak diimbangi dengan jalur diplomasi yang efektif.
Editor: IJS
Judul foto:
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait blokade Selat Hormuz










