Padat Karya Jadi Andalan Pemkot Bogor, 1.727 Warga Dilibatkan Tangani Pengangguran

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin membuka program padat karya di Lapangan Heulang, Tanah Sareal. Foto: Pemkot Bogor
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin membuka program padat karya di Lapangan Heulang, Tanah Sareal. Foto: Pemkot Bogor

Harnas.id, BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menjalankan program padat karya sebagai salah satu upaya membantu masyarakat yang belum memperoleh pekerjaan. Tahun ini, program tersebut melibatkan 1.727 peserta yang tersebar di enam kecamatan di Kota Bogor.

Program padat karya tidak hanya diarahkan untuk memberikan kesempatan kerja sementara, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga kebersihan dan lingkungan kota. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi pemerintah daerah dengan masyarakat dalam menangani persoalan sosial dan ketenagakerjaan.

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin secara simbolis membuka kegiatan padat karya di Lapangan Heulang, Kecamatan Tanah Sareal, Kamis (13/8/2026). Ia menyebut program serupa telah dijalankan Pemkot Bogor selama beberapa tahun dan kembali diperluas tahun ini melalui penambahan kuota peserta.

Menurut Jenal, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi Kota Bogor. Ia menilai persoalan kebersihan maupun pengangguran tidak dapat sepenuhnya diselesaikan pemerintah tanpa partisipasi warga.

“Tentu ini menjadi kolaborasi yang nyata antara Pemkot Bogor dan DPRD. Bahkan kalau tahun depan bisa ditambah, selama anggarannya ada, kita akan lakukan,” jelas Jenal Mutaqin.

Program padat karya tahun ini berlangsung selama 10 hari. Meski bersifat sementara, Jenal menilai kegiatan tersebut tetap memberikan stimulus ekonomi bagi warga sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.

Ia juga mengaitkan keberhasilan menjaga kebersihan kota dengan kepedulian masyarakat. Menurutnya, rasa memiliki terhadap Kota Bogor perlu berjalan beriringan dengan berbagai program pemerintah.

“Mustahil Bogor bisa lebih sejahtera, lebih bersih, lebih rapi, kalau masyarakatnya sendiri tidak cinta terhadap kotanya. Kota yang bersih mencerminkan masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya,” ungkap Jenal.

Peserta yang dilibatkan berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang masuk dalam Desil 1. Di dalamnya terdapat pula seniman jalanan serta sopir angkutan kota (angkot) yang terdampak kebijakan pengurangan masa usia teknis kendaraan.

Jenal mengatakan aspek perlindungan terhadap peserta juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program. Para peserta padat karya mendapatkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan apabila terjadi risiko selama menjalankan pekerjaan.

“Para peserta juga mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Dadang Danubrata mengatakan program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang belum memperoleh kesempatan bekerja. Ia juga meminta peserta menjaga kondisi kesehatan selama mengikuti kegiatan padat karya.

“Saya juga berpesan bapak ibu yang menjadi peserta padat karya bisa terus menjaga kesehatan. Mudah-mudahan Pemkot Bogor dan DPRD bisa terus bersinergi, terutama untuk anggaran padat karya ini,” kata Dadang.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Bogor Shahib Khan menjelaskan komposisi peserta program padat karya tahun ini. Dari total 1.727 orang, sebanyak 35 orang ditempatkan sebagai pengawas dan 1.692 orang menjadi pekerja.

Besarnya jumlah peserta menunjukkan program padat karya masih menjadi salah satu instrumen yang digunakan Pemkot Bogor untuk memberikan akses pekerjaan sementara bagi kelompok masyarakat tertentu. Di sisi lain, keberlanjutan program tetap bergantung pada kemampuan anggaran daerah dan evaluasi terhadap manfaat yang dihasilkan.

Editor: IJS