Harga Minyak Dekati US$90, Konflik Timur Tengah Bikin Selat Hormuz Makin Tak Pasti

Selat Hormuz. Foto: Wikipedia
Selat Hormuz. Foto: Wikipedia

Harnas.id, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak mendekati level US$90 per barel pada Rabu (12/8/2026). Kenaikan tersebut terjadi ketika serangkaian serangan terhadap kapal komersial di kawasan Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Mengacu pada data Marketwatch, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 0,4 persen menjadi US$89,27 per barel pada pukul 16.29 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan Amerika Serikat turut naik 0,4 persen ke level US$83,53 per barel.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan pasar kembali memasukkan risiko geopolitik sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan harga energi. Ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz dapat kembali beroperasi secara normal membuat pelaku pasar masih berhati-hati.

Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan peluang tercapainya kesepakatan masih menjadi perhatian pasar. Namun, optimisme yang sebelumnya muncul mulai berkurang seiring proses pembicaraan yang belum menunjukkan perkembangan berarti.

“Pasar masih belum sepenuhnya kehilangan harapan terhadap tercapainya kesepakatan, tetapi keyakinan terhadap kesepakatan itu jelas mulai terkikis,” kata Waterer seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (12/8/2026).

Menurut Waterer, negosiasi yang berlangsung semakin lama tanpa kemajuan yang terlihat membuat pasar mulai mempertanyakan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Situasi tersebut semakin rumit karena tuntutan yang muncul dalam pembicaraan juga terus berkembang.

“Optimisme yang muncul pada awal bulan perlahan bergeser menjadi sikap yang lebih hati-hati karena pasar kembali memperhitungkan premi risiko,” ujarnya.

Kekhawatiran pasar kembali meningkat setelah terjadi sejumlah serangan terhadap kapal komersial di kawasan jalur pelayaran Timur Tengah. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada Selasa (11/8) menuduh kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menewaskan enam orang dalam serangan rudal terhadap sebuah kapal komersial di Selat Bab al-Mandeb.

Dua dari enam korban disebut merupakan anggota pasukan keamanan yang dikerahkan untuk melakukan operasi penyelamatan setelah serangan pertama. Insiden tersebut menambah perhatian terhadap risiko keselamatan pelayaran di kawasan yang memiliki posisi penting dalam rantai pasok energi global.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan telah menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal kargo berbendera Panama. Kapal tersebut disebut berupaya menerobos blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.

Rangkaian insiden itu ikut menambah persoalan dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi dunia karena sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa menyatakan pembicaraan Oman dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjutan. Doha berharap jalur pelayaran tersebut dapat kembali dibuka dalam waktu sesingkat mungkin.

Namun, posisi Iran menunjukkan persoalan tersebut masih jauh dari selesai. Pemerintah Iran menyatakan pembicaraan dengan Oman merupakan isu yang terpisah dari persoalan pembukaan Selat Hormuz.

Iran juga menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan. Di antaranya adalah pembayaran kompensasi perang serta pencabutan sanksi terhadap Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa turut mengklaim bahwa Washington telah menguasai Selat Hormuz sepenuhnya. Klaim tersebut disampaikan ketika aktivitas pelayaran di jalur tersebut masih berada jauh di bawah kondisi normal.

Data perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya sekitar 10 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin (10/8). Angka tersebut sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum perang yang mencapai sekitar 130 kapal per hari.

Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi tercatat melintasi Selat Hormuz setiap hari. Karena itu, penutupan efektif jalur tersebut oleh Iran sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel memberikan tekanan besar terhadap rantai pasok energi internasional.

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan harga minyak kembali bergerak naik. Selama ketidakpastian keamanan dan akses pelayaran di Selat Hormuz belum menemukan titik terang, pasar energi masih berpotensi menghadapi tekanan dari premi risiko geopolitik.

Editor: IJS