The Lead Institute Paramadina Ajak Perempuan Bogor Bergerak Lewat Aksi Iklim dan Pesantren Hijau

Lokakarya Women & Climate Action 2026 tentang perempuan, ekoteologi, dan hidroponik di Pesantren Al-Ihya, Bogor. (Dok. The Lead Institute Universitas Paramadina)
Lokakarya Women & Climate Action 2026 tentang perempuan, ekoteologi, dan hidroponik di Pesantren Al-Ihya, Bogor. (Dok. The Lead Institute Universitas Paramadina)

Harnas.id, BOGOR – Perempuan dinilai memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim, mulai dari pengelolaan pangan keluarga hingga menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan. Potensi tersebut menjadi perhatian The Lead Institute Universitas Paramadina melalui lokakarya Women & Climate Action 2026: Perempuan, Ekoteologi dan Green-Pesantren yang digelar di Pesantren Al-Ihya, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation. Lokakarya tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam aksi lingkungan melalui pengenalan ekoteologi dan praktik bercocok tanam menggunakan metode hidroponik di tingkat rumah tangga.

Antusiasme peserta, khususnya kelompok ibu rumah tangga, terlihat dalam sesi praktik budidaya sayuran. Melalui pendekatan tersebut, peserta diperkenalkan pada cara memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menghasilkan pangan secara mandiri sekaligus menerapkan kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyambut baik inisiatif tersebut. Dukungan itu disampaikan melalui pesan video Wakil Menteri PPPA Veronica Tan, yang menyoroti kontribusi perempuan dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Perempuan memiliki pengetahuan dan keahlian yang kuat yang dapat digunakan dalam mitigasi perubahan iklim, strategi pengurangan bencana, dan adaptasi,” ujar Veronica.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk mengarusutamakan perspektif gender dalam kebijakan iklim. Salah satu langkah yang menjadi landasan upaya tersebut adalah Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI), yang diperkuat sejak awal 2024.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, menilai ajaran agama dapat menjadi landasan untuk membangun kepedulian terhadap kelestarian alam. Ia merujuk Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56 yang melarang tindakan merusak bumi sebagai salah satu pijakan teologis dalam menjalankan aksi lingkungan.

Menurut Didik, keterlibatan perempuan tidak dapat dipisahkan dari upaya menghadapi perubahan iklim. Perempuan menjalankan beragam fungsi, mulai dari pemimpin, pengelola rumah tangga, pendidik, hingga penggerak ekonomi dan perubahan sosial.

Peran tersebut membuat perempuan memiliki ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan ramah lingkungan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Karena itu, keterlibatan mereka perlu menjadi bagian dari agenda aksi iklim, bukan sekadar pelengkap program lingkungan.

Didik juga memperkenalkan konsep green pesantren atau pesantren hijau sebagai salah satu pendekatan untuk memperluas gerakan pelestarian lingkungan. Menurut dia, jaringan pesantren yang tersebar luas di Indonesia dapat menjadi modal penting dalam menyebarkan kesadaran ekologis melalui pendidikan dan praktik sehari-hari.

“Sangat penting untuk mendorong pendidikan ekoteologi, nilai-nilai yang sebenarnya sudah ada di pesantren, di dalam diri umat Islam, agar mengembangkan kehidupan yang hijau,” kata Didik.

Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman konseptual, tetapi diterapkan dalam perilaku yang menjaga lingkungan. Pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kebiasaan berkelanjutan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya dan pemanfaatan lahan.

Ketua The Lead Institute Universitas Paramadina, Suratno Muchoeri, menjelaskan bahwa lembaganya telah beberapa tahun menggarap program yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan aksi iklim. Kegiatannya mencakup penghijauan kembali, reboisasi, hingga pengembangan gagasan ekoteologi.

Menurut Suratno, program Women and Climate Action mulai diinisiasi Paramadina pada 2024. Inisiatif ini menjadi upaya untuk mendorong keterlibatan perempuan sekaligus mempelajari pengalaman mereka yang telah menjalankan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.

“Kami di Paramadina sejak 2024 sudah berikhtiar menginisiasi program Women and Climate Action. Jadi bagaimana perempuan-perempuan kita dorong, atau kita belajar dari perempuan-perempuan yang sudah mengupayakan lingkungan hijau dan segar,” kata Suratno.

Pendekatan tersebut menempatkan pengalaman perempuan sebagai salah satu sumber pembelajaran dalam merancang aksi lingkungan. Praktik yang dapat diterapkan di tingkat keluarga dan komunitas menjadi penting agar agenda perubahan iklim memiliki dampak yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lokakarya Women & Climate Action 2026 tentang perempuan, ekoteologi, dan hidroponik di Pesantren Al-Ihya, Bogor. (Dok. The Lead Institute Universitas Paramadina)
Lokakarya Women & Climate Action 2026 tentang perempuan, ekoteologi, dan hidroponik di Pesantren Al-Ihya, Bogor. (Dok. The Lead Institute Universitas Paramadina)

Pada sesi inti, praktisi pertanian rumah tangga Eha Jatnika memandu peserta mengenal teknik budidaya sayuran secara hidroponik. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada dua persoalan yang saling berkaitan, yakni ketahanan pangan dan keamanan pangan.

Eha menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan makanan tidak cukup hanya memastikan ketersediaan bahan pangan. Masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas, kecukupan gizi, serta keamanan makanan dari berbagai jenis cemaran, baik fisik, biologis, maupun kimia.

Menurut dia, kemandirian dalam menghasilkan pangan dapat menjadi salah satu cara untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan makanan yang layak. Hidroponik diperkenalkan sebagai alternatif budidaya yang dapat diterapkan dengan menyesuaikan kondisi dan ruang yang tersedia di rumah.

“Jadi, hidroponik ini adalah salah satu solusi supaya kita mendapat akses dari ketahanan pangan dan keamanan itu sendiri,” kata Eha.

Ia kemudian membandingkan kebutuhan budidaya hidroponik dengan pertanian konvensional. Sebagai ilustrasi, penanaman 500 bibit sayuran di tanah membutuhkan lahan yang cukup luas, tenaga untuk mengolah tanah, serta pupuk dalam jumlah tertentu.

Tantangan budidaya juga semakin kompleks di tengah perubahan kondisi iklim. Cuaca ekstrem dan kemunculan patogen atau bakteri yang memengaruhi tanaman dapat membuat hasil pertanian lebih sulit diprediksi.

Eha mengungkapkan bahwa sebelum beralih ke hidroponik, tingkat keberhasilan pembibitan sayuran yang dilakukannya di tanah berada di bawah 10 persen. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya mengembangkan metode alternatif untuk menghasilkan sayuran.

Ia mulai merintis budidaya hidroponik sekitar tiga tahun lalu di Aceh. Dari pengalamannya, metode ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk mendukung pemenuhan pangan keluarga sekaligus membangun pola konsumsi yang lebih sehat.

“Kualitas lebih baik tentunya, karena memang fresh, baru diambil, daripada kalau di pasar kita enggak tahu panennya kapan, kemudian di pasar sudah kena, dilempar-lempar, sudah kena kotor, dan lain-lain,” tutur Eha.

Melalui lokakarya ini, The Lead Institute Universitas Paramadina menghubungkan isu perubahan iklim dengan praktik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perpaduan pendidikan ekoteologi, pemberdayaan perempuan, dan keterampilan hidroponik diharapkan dapat membuka ruang bagi keluarga serta komunitas pesantren untuk berkontribusi terhadap lingkungan dan ketahanan pangan.

Editor: IJS