
Harnas.id, BANDUNG – Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan inovasi teknologi pengendalian kualitas bahan bakar biodiesel B50 untuk kapal penyeberangan. Teknologi yang dirancang tersebut memungkinkan kapal beradaptasi menggunakan bahan bakar B50 tanpa harus menjalani proses penghentian operasional untuk masuk galangan atau dry docking.
Inovasi bernama Fuel Contamination Control Unit (FCCU) ini dirancang untuk mengendalikan kontaminasi bahan bakar, menjaga kualitas biodiesel, serta meminimalkan risiko gangguan mesin kapal akibat penyumbatan filter. Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung keandalan operasional kapal sekaligus mempersiapkan industri pelayaran menghadapi transisi penggunaan bahan bakar yang lebih berkelanjutan.
Berkat inovasi tersebut, tim mahasiswa ITB berhasil meraih Juara 1 Nasional kategori Boat Innovation Competition (BIC) dalam ajang Mechanical and Marine Engineering National Exposition (MMENE UI) 2026 yang berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (24/10/2026).
Tim yang mengusung nama Top 1 Dinamika Jatiwaringin ini terdiri dari Kresno Bayu Aditya Seno, Arvy Fadhil Firansyah, Ananda Ghibran Fadlilah, dan Haroki Taqiyyudin Robbani. Keempatnya merupakan mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB.
Rancang Teknologi untuk Mengatasi Tantangan Biodiesel B50
Ketua tim, Kresno Bayu Aditya Seno menjelaskan, pengembangan FCCU dilatarbelakangi tantangan penggunaan biodiesel B50 pada kapal penyeberangan yang sebelumnya menggunakan solar konvensional.
Biodiesel B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau biodiesel berbahan nabati dan 50 persen solar.
Menurutnya, kandungan FAME memiliki karakteristik yang lebih mudah menyerap air, rentan mengalami oksidasi selama penyimpanan, serta berpotensi melarutkan endapan lama di dalam tangki bahan bakar. Kondisi tersebut dapat memicu penyumbatan filter hingga mengganggu kinerja mesin kapal.
Tim kemudian memilih KMP Portlink VII yang melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk sebagai objek studi pengembangan rancangan FCCU.
Kapal tersebut memiliki karakteristik pelayaran relatif singkat, sekitar 2,8 mil laut dengan waktu tempuh kurang lebih 17 menit. Berdasarkan perhitungan tim, apabila kedua tangki bahan bakar diisi penuh secara bersamaan, bahan bakar berpotensi tersimpan selama 26 hingga 36 hari.
Kondisi penyimpanan dalam waktu relatif lama, terutama di lingkungan laut yang lembap, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kualitas B50.
“Jika sistem penanganan bahan bakar kapal tidak diadaptasi untuk B50, penyumbatan filter secara mendadak dapat menyebabkan mesin induk mati (propulsion loss) di tengah alur pelayaran,” ujar Kresno.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, FCCU dirancang dengan empat mekanisme pengendalian utama, yakni mencegah masuknya kelembapan, memisahkan kontaminan, menjaga kelancaran proses penyaringan, dan mengelola waktu penyimpanan bahan bakar.
Pencegahan kelembapan dilakukan menggunakan desiccant breather berbahan silika gel pada tangki bahan bakar. Sementara itu, separator dan coalescer digunakan untuk memisahkan partikel padat serta kandungan air dari bahan bakar.
Sistem tersebut juga dilengkapi duplex filter yang memungkinkan perpindahan secara otomatis ke filter cadangan ketika filter utama memerlukan penggantian. Dengan mekanisme ini, proses penyaringan dirancang tetap berlangsung tanpa harus menghentikan aliran bahan bakar.
Selain itu, tim mengusulkan strategi pengisian tangki secara bergantian atau alternating bunkering. Berdasarkan perhitungan desain, strategi tersebut berpotensi memperpendek waktu penyimpanan bahan bakar menjadi sekitar 14 hari.
FCCU juga dirancang menggunakan sensor pendeteksi kandungan air serta pengendalian suhu maksimal 50 derajat Celsius untuk membantu mengurangi risiko penurunan kualitas B50 selama operasional.
Pemasangan Dirancang Tanpa Mengganggu Jadwal Pelayaran
Salah satu keunggulan rancangan FCCU terletak pada konsep retrofit, yakni penambahan teknologi pada kapal yang sudah beroperasi tanpa perlu mengganti keseluruhan sistem bahan bakar.
Sistem tersebut dirancang dalam bentuk modul berukuran sekitar 1,47 x 0,97 x 1,54 meter dengan bobot operasional sekitar 526 kilogram. Dimensi tersebut memungkinkan FCCU dipasang tanpa mengubah jalur utama suplai bahan bakar menuju mesin kapal.
Tim merancang proses pemasangan dalam enam tahap dengan memanfaatkan waktu sandar rutin kapal. Melalui pendekatan tersebut, penyesuaian sistem bahan bakar dapat dilakukan tanpa mengharuskan kapal masuk galangan untuk menjalani dry docking.
Dengan demikian, potensi penghentian operasional dan gangguan terhadap jadwal pelayaran dapat diminimalkan.
Untuk memastikan kelayakan rancangan, tim menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) guna mengidentifikasi berbagai potensi kegagalan sistem.
Mereka juga mengembangkan model tiga dimensi menggunakan perangkat lunak SolidWorks serta menjalankan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk menganalisis aliran bahan bakar dan proses pemisahan kontaminan.
Tidak hanya aspek teknis, kelayakan ekonomi juga menjadi bagian dari pengembangan inovasi tersebut. Tim melakukan analisis sensitivitas menggunakan Python dan simulasi Monte Carlo untuk memperkirakan berbagai kemungkinan hasil berdasarkan ketidakpastian teknis maupun ekonomi.
Anggota tim, Arvy Fadhil Firansyah mengatakan, berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi desain, FCCU diproyeksikan mampu menurunkan skor risiko kegagalan sistem bahan bakar sebesar 71 persen.
Adapun estimasi investasi yang dibutuhkan sekitar Rp707 juta dengan periode pengembalian modal atau payback period selama 5,9 tahun pada skenario dasar.
“Kami melakukan analisis sensitivitas menggunakan Python dan simulasi Monte Carlo untuk mengevaluasi ketidakpastian teknis serta ekonomi. Berdasarkan hasil perhitungan, rancangan FCCU diproyeksikan mampu menurunkan skor risiko kegagalan sistem bahan bakar sebesar 71 persen, dengan estimasi investasi sekitar Rp707 juta dan periode pengembalian modal 5,9 tahun pada skenario dasar,” kata Arvy.
Meski demikian, hasil tersebut masih merupakan proyeksi berdasarkan perhitungan dan simulasi desain, bukan hasil pengujian langsung pada kapal.
Siapkan Pengembangan Menuju Implementasi Industri
Dalam proses pengembangan, tim juga menghadapi tantangan keterbatasan data teknis KMP Portlink VII. Untuk mengatasinya, mereka memanfaatkan dokumen teknis yang tersedia, menyusun asumsi desain secara konservatif, serta melakukan evaluasi terhadap berbagai skenario.
Anggota tim, Haroki Taqiyyudin Robbani menjelaskan, pendekatan tersebut dilakukan agar rancangan FCCU tetap dapat dievaluasi meskipun belum seluruh data lapangan tersedia.
“Kami merekonstruksi sistem dari dokumen teknis yang ada, menetapkan daftar asumsi desain yang transparan dan konservatif, serta melakukan analisis sensitivitas dan simulasi berbagai skenario agar rancangan kami tetap tangguh ketika data lapangan yang sebenarnya dimasukkan,” jelas Haroki.
Ke depan, tim berharap rancangan FCCU dapat dikembangkan ke tahap berikutnya melalui survei langsung pada KMP Portlink VII, pengujian prototipe menggunakan sampel biodiesel B50 aktual, serta evaluasi bersama pihak industri.
Ananda Ghibran Fadlilah mengatakan, pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kesiapan teknologi tersebut sebelum diterapkan pada kapal penyeberangan.
“Kami berharap rancangan FCCU dapat dikembangkan lebih lanjut melalui survei langsung pada KMP Portlink VII, pengujian prototipe menggunakan sampel biodiesel B50 aktual, serta dapat mendukung kesiapan industri pelayaran Indonesia dalam menghadapi transisi bahan bakar yang lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan keandalan mesin, efisiensi biaya, serta keselamatan penumpang,” ujar Ghibran.
Inovasi empat mahasiswa ITB ini menjadi salah satu kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi rekayasa bagi kebutuhan industri transportasi laut. Melalui rancangan teknologi FCCU, mereka berupaya menjawab tantangan penggunaan biodiesel B50 dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, efisiensi operasional, dan keberlanjutan.
Jika dapat dikembangkan dan dibuktikan melalui pengujian lapangan, teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif sistem pendukung adaptasi kapal penyeberangan Indonesia terhadap penggunaan bahan bakar biodiesel B50.
Editor: Erk




