20 Tahun Lumpur Sidoarjo, ITS Singgung Alarm Ekologi di Sungai Porong

Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi ketika menjelaskan pengaruh pengaliran Lumpur Sidoarjo ke Sungai Porong terhadap kondisi perairan dan biota air di sekitarnya. Foto: Humas iTS
Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi ketika menjelaskan pengaruh pengaliran Lumpur Sidoarjo ke Sungai Porong terhadap kondisi perairan dan biota air di sekitarnya. Foto: Humas iTS

Harnas.id, SURABAYA – Tepat pada 29 Mei 2026, fenomena semburan lumpur di Sidoarjo genap berlangsung selama dua dekade. Selama 20 tahun terakhir, aliran lumpur terus diarahkan menuju Sungai Porong sebagai bagian dari penanganan dampak semburan. Namun di balik langkah tersebut, perubahan lingkungan di kawasan hilir sungai kini menjadi perhatian serius para peneliti.

Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Dewi Hidayati SSi MSi, menilai pemantauan biologis atau biomonitoring perlu menjadi bagian penting dalam mitigasi jangka panjang kawasan terdampak. Menurutnya, kondisi ekosistem Sungai Porong telah mengalami perubahan signifikan sejak menerima limpahan lumpur dalam volume besar tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Guru Besar ke-166 ITS itu menjelaskan, material lumpur yang didominasi tanah liat lembut secara perlahan mengubah struktur dasar sungai. Area yang sebelumnya terdiri dari pasir dan kerikil kini berubah menjadi hamparan lumpur pekat dengan tingkat sedimentasi tinggi.

“Sedimentasi masif ini memicu lonjakan kekeruhan air atau Total Suspended Solids (TSS) secara ekstrem di sepanjang aliran sungai dan perubahan komposisi substrat secara nyata,” ujar Dewi.

Perubahan karakteristik perairan tersebut berdampak langsung pada keberlangsungan hidup biota air. Dari hasil penelitian yang dilakukan, partikel lumpur berukuran sangat kecil diketahui mampu menempel dan menyumbat bagian insang ikan.

Melalui analisis mikroskopik, partikel dengan ukuran kurang dari 10 mikron ditemukan melekat pada filamen insang. Kondisi itu memicu kerusakan jaringan serius yang berdampak pada fungsi pernapasan ikan.

“Paparan ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia dan nekrosis sel,” paparnya.

Dampak pencemaran ternyata tidak berhenti pada organ dalam ikan. Penelitian lanjutan menggunakan teknologi Scanning Electron Microscope (SEM) juga menemukan adanya kerusakan pada struktur luar tubuh ikan, khususnya sisik.

Menurut Dewi, deformasi pada bagian sel penempel sisik menyebabkan kondisi fisik ikan menjadi lebih rentan. Sisik yang abnormal membuat ikan mudah mengalami infeksi akibat paparan mikroorganisme di lingkungan tercemar.

“Deformasi pada sel penempel (seferul) menyebabkan sisik ikan menjadi abnormal, mudah terlepas, dan rentan memicu infeksi mikroorganisme,” jelasnya.

Meski tekanan lingkungan berlangsung cukup berat, hasil biomonitoring menunjukkan adanya proses adaptasi alami di ekosistem Sungai Porong. Komposisi jenis ikan di wilayah hilir mengalami perubahan dibanding kondisi sebelum semburan lumpur terjadi.

Ikan-ikan lokal yang sensitif terhadap tingkat kekeruhan perlahan menghilang dari habitat tersebut. Sebaliknya, kawasan hilir kini lebih banyak dihuni spesies yang mampu bertahan di lingkungan berlumpur.

“Ekosistem hilir kini mulai didominasi oleh spesies tangguh yang mampu beradaptasi di habitat berlumpur seperti ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil),” ungkap Dewi.

Untuk sektor perikanan tambak di sekitar muara, kondisi disebut masih relatif aman. Dewi menjelaskan, keberadaan bentang daratan alami di sekitar kawasan menjadi penghalang mekanis yang membantu menyaring luapan lumpur sebelum mencapai area tambak.

“Keberadaan bentang alam ini menjaga komoditas pangan masyarakat yang berada agak jauh dari titik semburan tetap higienis,” terangnya.

Selain pencemaran air, penelitian juga mencatat adanya polusi udara akibat emisi gas dari kawasan semburan. Kandungan metana dan belerang menjadi salah satu faktor yang terus dipantau karena berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan sekitar.

Dari sisi kualitas air, hasil analisis kimia menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi. Menurut Dewi, kandungan aluminium dapat menjadi sangat berbahaya apabila tingkat keasaman air berubah menjadi lebih asam.

“Tingkat racun dari logam aluminium ini sangat berbahaya jika derajat keasaman (pH) air berubah menjadi asam,” katanya.

Kajian ekologis yang dilakukan ITS juga memperlihatkan adanya perbedaan mencolok antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong. Area hulu yang tidak terdampak lumpur memiliki kualitas habitat lebih baik dengan kondisi air yang relatif stabil.

Sebaliknya, wilayah hilir menunjukkan tingkat degradasi lingkungan cukup berat. Dalam kondisi tersebut, hanya jenis biota tertentu yang mampu bertahan hidup.

“Sebaliknya, stasiun hilir mengalami degradasi parah berkategori terbatas sehingga hanya biota air tertentu yang mampu hidup di area tersebut,” ujar Dewi membandingkan.

Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS itu menegaskan, seluruh data biologis hasil penelitian memiliki fungsi penting sebagai sistem peringatan dini terhadap kondisi lingkungan. Data tersebut dinilai dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pemulihan kawasan terdampak.

“Upaya ini sangat penting untuk merancang langkah nyata guna mencegah dampak buruk kerusakan lingkungan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Pemantauan kualitas air Sungai Porong dinilai semakin penting karena sungai tersebut menjadi salah satu sumber air utama bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya. Langkah biomonitoring yang terintegrasi juga disebut sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-14 terkait pelestarian kehidupan bawah air dan keberlanjutan ekosistem perairan.

Editor: IJS