Listrik Kerap Kedip, Elektronik di Rumah Bisa Cepat Tumbang? Pakar ITS Bongkar Cara Aman Menghadapinya

Dosen Departemen Teknik Elektro ITS Dedet Candra Riawan saat memberikan penjelasan terkait langkah preventif melindungi perangkat elektronik saat pemadaman listrik. (Dok. ITS)
Dosen Departemen Teknik Elektro ITS Dedet Candra Riawan saat memberikan penjelasan terkait langkah preventif melindungi perangkat elektronik saat pemadaman listrik. (Dok. ITS)

Harnas.id, SURABAYA — Pemadaman listrik bergilir yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah tak cuma memunculkan persoalan kenyamanan, tetapi juga memantik kekhawatiran baru di level rumah tangga: seberapa aman perangkat elektronik di rumah ketika listrik mati lalu menyala kembali dalam waktu singkat. Kekhawatiran itu dinilai beralasan, mengingat mayoritas perangkat rumah tangga modern saat ini bertumpu pada sirkuit elektronik yang sensitif terhadap perubahan tegangan.

Dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dedet Candra Riawan ST MEng PhD, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap pemadaman listrik sebagai gangguan sepele. Menurutnya, pola mati-nyala berulang dalam waktu singkat dapat memberi tekanan pada komponen elektronik, terutama jika transisi daya berlangsung mendadak dan terjadi berulang kali.

Dedet menjelaskan, dalam kondisi seperti itu perangkat elektronik mengalami apa yang disebut sebagai stress voltageatau tegangan stres. Situasi ini muncul ketika peralatan harus beradaptasi dengan perubahan daya yang drastis dalam waktu sangat singkat. “Meski setiap elektronik dirancang memiliki ambang batas ketahanan tertentu, tetap ada titik kerentanan jika dihadapi dengan transisi drastis secara masif,” ujarnya.

Ia memaparkan, dampak pemadaman listrik setidaknya dapat dilihat dari dua sisi utama. Pertama, kerusakan fisik pada perangkat. Kedua, gagalnya proses kerja yang sedang berjalan. Pada rumah tangga, efek yang paling terasa biasanya berupa penurunan usia pakai barang elektronik akibat frekuensi pemadaman yang rapat. Sementara pada sektor produktif, risikonya jauh lebih besar karena menyangkut putusnya proses kerja yang tidak bisa dihentikan sementara.

Dalam konteks usaha dan aktivitas berbasis komputasi, kata Dedet, gangguan satu hingga dua detik saja bisa menimbulkan konsekuensi panjang. Begitu aliran listrik terputus, seluruh rangkaian proses yang berjalan otomatis berhenti dan harus dimulai ulang dari awal. “Kedipan listrik selama satu detik saja cukup untuk memutus seluruh algoritma kerja dan memaksa sistem mengulang proses dari titik nol,” ungkapnya.

Penjelasan itu menjadi penting terutama bagi pelaku usaha yang menggantungkan aktivitas pada sistem digital, mesin, atau perangkat yang bekerja terus-menerus. Ketika proses berhenti di tengah jalan, kerugian yang timbul bukan hanya soal alat yang berisiko rusak, tetapi juga waktu, energi, dan biaya operasional yang harus dikeluarkan kembali untuk memulai pekerjaan dari nol.

Mantan Kepala Departemen Teknik Elektro ITS itu juga menyoroti pandangan yang masih keliru di tengah masyarakat soal penggunaan generator set atau genset sebagai solusi saat listrik padam. Menurut Dedet, tidak semua sumber listrik pengganti memiliki kualitas daya yang setara dengan suplai listrik dari jaringan utama.

Ia menjelaskan, dalam standar regulasi kelistrikan nasional, PT PLN (Persero) wajib menjaga toleransi tegangan di sisi konsumen pada rentang ketat, yakni sekitar 5 persen hingga 10 persen dari tegangan nominal 220 Volt. Pada genset besar yang digunakan di kawasan industri, kestabilan seperti itu masih bisa dikejar karena sistemnya dilengkapi pengaturan otomatis yang lebih presisi.

Masalah berbeda justru muncul pada genset berkapasitas kecil yang lazim dipakai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau rumah tangga. Perangkat ini, menurut Dedet, memiliki keterbatasan mekanis dalam menjaga pasokan bahan bakar sekaligus mengatur kestabilan tegangan. Akibatnya, daya yang dihasilkan tidak selalu mulus dan berisiko memengaruhi performa alat elektronik yang terhubung.

“Lonjakan daya pada genset akan mengalami ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang juga memengaruhi performa barang elektronik yang dialiri daya tersebut,” papar Dedet.

Karena itu, ia membedakan sistem cadangan daya ke dalam dua level yang perlu dipahami, khususnya oleh sektor usaha vital. Level pertama adalah Backup Standby, yakni sistem cadangan berupa genset yang baru aktif setelah pasokan listrik PLN terputus. Level kedua adalah Backup Running, seperti online UPS, yang dapat menyuplai listrik secara instan tanpa jeda atau zero downtime ketika sumber utama terhenti.

Untuk kebutuhan rumah tangga, Dedet menilai langkah paling realistis bukan semata membeli perangkat tambahan yang mahal, melainkan memahami prosedur sederhana agar alat elektronik tidak menerima beban berlebih saat listrik padam maupun saat aliran kembali masuk. Ia pun menyusun semacam panduan sederhana berdasarkan jenis teknologi perangkat yang digunakan masyarakat di rumah.

Kelompok pertama yang disebutnya berisiko tinggi adalah perangkat bermotor induksi non-inverter, seperti kulkas model lama dan pompa air. Jenis perangkat ini membutuhkan lonjakan arus awal yang besar saat mulai bekerja kembali. Ketika listrik tiba-tiba padam lalu menyala, alat seperti ini rentan mengalami tekanan berat pada sistem kerjanya.

Atas dasar itu, Dedet menyarankan agar saat terjadi pemadaman mendadak, perangkat kategori tersebut segera dicabut dari stop kontak. Langkah manual ini penting agar ketika listrik kembali menyala, perangkat tidak langsung “dipaksa” aktif dalam kondisi tegangan yang belum tentu stabil.

Untuk perangkat elektronik rumah tangga lain seperti pendingin ruangan atau AC non-inverter, ia menyarankan prosedur yang sedikit berbeda. Jika jadwal pemadaman sudah diketahui sebelumnya, pengguna sebaiknya mematikan AC terlebih dahulu melalui remote, kemudian mencabut steker dari dinding. Setelah listrik kembali menyala, jangan buru-buru menyalakan alat.

Dedet menyarankan agar pengguna memberi jeda sekitar lima sampai sepuluh menit sebelum menancapkan kembali steker ke sumber listrik. Masa tunggu ini dibutuhkan agar tegangan benar-benar kembali stabil dan kompresor AC tidak bekerja dalam kondisi yang belum ideal.

Ia menegaskan, kebiasaan menyalakan kembali perangkat secara tergesa-gesa justru bisa mempercepat penurunan performa komponen penting di dalam alat tersebut. Kompresor AC, misalnya, membutuhkan kondisi start yang relatif stabil agar tidak terbebani sejak awal. “Jika kompresor AC langsung terpicu menyala detik itu juga, ia seperti dipaksa berlari kencang saat baru bangun tidur,” jelasnya.

Menariknya, perlakuan terhadap perangkat berteknologi inverter tidak sepenuhnya sama. Untuk AC inverter keluaran terbaru, Dedet menyebut pengguna tidak harus repot mencabut kabel saat listrik padam. Dalam kondisi tertentu, cukup mematikan perangkat melalui remote dan membiarkannya pada posisi standby.

Menurut dia, perangkat inverter modern umumnya telah dibekali sistem pengendali yang lebih cerdas untuk meredam guncangan aliran listrik. Dengan kata lain, “otak” elektronik di dalam perangkat sudah dirancang agar mampu mengelola transisi daya secara lebih aman dibanding perangkat konvensional non-inverter.

Meski begitu, Dedet menekankan bahwa perlindungan perangkat elektronik saat krisis pasokan listrik tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada teknologi. Pemahaman pengguna tetap menjadi faktor penentu. Banyak kerusakan justru terjadi bukan semata karena padamnya listrik, tetapi karena respons pengguna yang kurang tepat saat listrik kembali menyala.

“Teknologi memang dirancang makin cerdas, tetapi pada akhirnya sebuah gerakan manual sederhana tetap menjadi pelindung terbaik,” pungkas Dedet.

Lebih jauh, ia menilai kebiasaan merawat perangkat elektronik di tengah situasi pemadaman listrik sebetulnya tidak hanya berdampak pada perlindungan aset pribadi. Langkah-langkah preventif sederhana juga bisa dibaca sebagai bagian dari upaya efisiensi energi dan penggunaan perangkat yang lebih berkelanjutan.

Praktik tersebut, kata dia, sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals(SDGs). Dari sisi energi, upaya menjaga perangkat agar tetap awet ikut mendukung efisiensi pemakaian energi dan relevan dengan target SDGs poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau.

Selain itu, kebiasaan penggunaan perangkat yang lebih bijak juga berkaitan dengan target SDGs poin ke-11 mengenai kota dan permukiman yang berkelanjutan. Sementara dari sisi kualitas hidup, perlindungan terhadap perangkat rumah tangga dan infrastruktur dasar juga beririsan dengan poin ke-3 SDGs tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Di tengah kondisi pemadaman yang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, peringatan dari kalangan akademisi ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap perangkat elektronik tidak selalu harus dimulai dari solusi mahal. Dalam banyak kasus, justru disiplin pada langkah sederhana—mencabut steker, memberi jeda, dan memahami karakter alat—menjadi garis pertahanan pertama agar kerusakan tidak datang diam-diam.

Editor: IJS