
Harnas.id, BOGOR – Festival Merah Putih (FMP) 2026 Kota Bogor memasuki tahun ke-11 dengan membawa konsep yang berbeda. Jika sebelumnya identik dengan rangkaian kegiatan menyambut bulan kemerdekaan, FMP tahun ini mencoba memasukkan agenda pemberdayaan ekonomi umat melalui program wakaf pohon alpukat.
Program tersebut menyasar rumah ibadah dan tempat sosial yang berada di Kota Bogor. Gagasannya sederhana, pohon yang ditanam di lahan rumah ibadah nantinya dapat menghasilkan buah sekaligus menjadi sumber pendapatan untuk mendukung kebutuhan operasional lembaga tersebut.
Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M. Said, mengatakan program tersebut dirancang sebagai gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan dalam rangkaian festival. Tahap awal program menargetkan sekitar 30 persen dari total kurang lebih 990 rumah ibadah yang tersebar di Kota Bogor.
“Fokus kami pada festival tahun ini adalah bagaimana kita tidak hanya berfokus pada seremonial, tetapi juga membawa manfaat nyata, membangun generasi muda dan ikut menggerakkan roda ekonomi umat,” kata Syahril setelah membuka seremoni penanaman perdana pohon alpukat di Masjid Agung Kota Bogor, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Syahril, pemilihan tanaman alpukat bukan tanpa pertimbangan. Panitia memilih komoditas tersebut setelah melihat kondisi agroklimat Kota Bogor yang dinilai sesuai untuk pertumbuhan tanaman alpukat.
Kondisi iklim dan ketinggian wilayah disebut mendukung produktivitas tanaman tersebut. Berdasarkan pengalaman yang menjadi rujukan program, pohon alpukat yang telah memasuki usia enam hingga tujuh tahun disebut mampu menghasilkan buah hingga 500 kilogram.
“Bahkan pada usia 2 tahun saja, pohon ini sudah mulai berbuah dengan estimasi hasil panen mencapai 50 kilogram,” jelasnya.
Varietas yang dipilih dalam program ini adalah Alpukat Miki. Varietas yang dikenal berasal dari Depok tersebut dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik dengan kondisi alam Indonesia sekaligus mempunyai nilai ekonomi di pasar.
Syahril memberikan gambaran potensi ekonomi yang dapat diperoleh dari satu pohon. Harga alpukat di tingkat supermarket disebut dapat mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram, sedangkan asumsi harga di tingkat petani berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram.
“Di supermarket harganya bisa mencapai Rp70.000 per kilogram. Katakanlah harga di tingkat petani setengahnya, sekitar Rp30.000. Jika satu pohon bisa menghasilkan 200 hingga 300 kilogram, rumah ibadah berpotensi mendapatkan pemasukan Rp6 juta sampai Rp7 juta per pohonnya,” ungkapnya.
Program wakaf pohon tersebut mulai dijalankan pada Agustus 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 31 Agustus. Panitia FMP 2026 menyatakan tidak hanya menyediakan bibit, tetapi juga menyiapkan pendampingan teknis bagi rumah ibadah maupun tempat sosial yang menjadi peserta program.
Pendampingan mencakup survei kelayakan lahan sebelum penanaman dilakukan. Panitia juga menyiapkan dukungan suplai pupuk apabila pengelola rumah ibadah mengalami kendala pada masa awal pertumbuhan tanaman.
“Nantinya, seluruh hasil panen dari pohon yang ditanam akan diserahkan sepenuhnya untuk menyokong operasional dan kebutuhan finansial rumah ibadah masing-masing, kami tidak akan mengambil sepeser pun hasil dari pohon tersebut, malah kami siap menyuplai pupuknya selama tahun pertama,” tegas Syahril.
Menurutnya, konsep tersebut sengaja dibuat agar rumah ibadah memiliki sumber pendapatan yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang. Ia menggambarkan program tersebut sebagai upaya memberikan aset produktif, bukan sekadar bantuan yang habis digunakan.
“Daripada rumah ibadah terus-menerus mencari ‘sumbangan’, kami menghibahkan ‘tongkatnya’, kami hibahkan ‘pancingnya’. Seluruh hasilnya kembali ke rumah ibadah tersebut,” sambungnya.
Program ini diawali dari Masjid Agung Kota Bogor dan diharapkan dapat berkembang ke wilayah lainnya. Syahril mengatakan konsep wakaf produktif tersebut pada dasarnya dapat diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan jenis tanaman terhadap karakteristik iklim, tanah, dan kondisi wilayah masing-masing.
Menurutnya, penyesuaian komoditas tetap diperlukan agar tanaman yang dikembangkan benar-benar memiliki peluang tumbuh dan menghasilkan secara optimal. Namun, semangat utama program tetap diarahkan pada upaya membangun kemandirian ekonomi berbasis rumah ibadah dan tempat sosial.
“Bagi pengelola rumah ibadah maupun tempat sosial di Kota Bogor yang berminat, silakan melakukan pendaftaran ke kami sepanjang bulan Agustus untuk dilakukan peninjauan teknis lapangan sebelum proses penanaman dilakukan,” katanya.
Melalui program tersebut, FMP 2026 mencoba memperluas makna peringatan kemerdekaan. Selain menghadirkan kegiatan yang bersifat seremonial, festival tahun ini membawa gagasan agar ruang-ruang sosial di tengah masyarakat juga dapat memiliki sumber ekonomi produktif yang manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang.
Editor: IJS










