
Harnas.id, JAKARTA – Tiga puluh lima tahun setelah menamatkan pendidikan, para alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1991 kembali bertemu dalam Reuni Akbar Nawa Tunggal 91. Mereka berasal dari empat matra dan institusi pendidikan, yakni Akmil, AAL, AAU, dan Akpol, dengan perjalanan pengabdian yang kemudian membawa masing-masing pada jalur kehidupan berbeda.
Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda reuni untuk melepas rindu. Di balik perjumpaan para alumni yang kini telah melewati masa panjang pengabdian, terdapat upaya menjaga hubungan yang dibangun sejak masih menjadi taruna.
Semangat itu terangkum dalam ungkapan, “Setahun sekali bertemu, tetapi persaudaraan itu hidup setiap hari.” Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana hubungan antarsesama alumni tidak semata dipelihara melalui pertemuan, tetapi juga melalui ingatan, kepedulian, dan rasa saling menjaga.
Reuni menjadi ruang untuk kembali mengingat masa ketika mereka ditempa dalam lingkungan pendidikan yang sama. Perbedaan pangkat, jabatan, profesi, maupun tempat pengabdian yang muncul setelah lulus tidak menghapus identitas bersama sebagai bagian dari Nawa Tunggal 91.
Pemikiran Kahlil Gibran tentang persahabatan turut relevan dalam menggambarkan hubungan para alumni. Ia menyebut persahabatan sebagai sebuah tanggung jawab, bukan sekadar kesempatan.
Bagi Nawa Tunggal 91, hubungan tersebut terbentuk dari pengalaman yang jauh lebih panjang daripada sekadar pertemuan setelah lulus. Mereka pernah hidup dalam lingkungan pendidikan yang sama, menjalani latihan dengan disiplin yang sama, menghadapi kelelahan bersama, serta membawa cita-cita yang serupa untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Karena itu, reuni 35 tahun tidak hanya menghadirkan nostalgia. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk saling mengingatkan, berbagi pengalaman, dan menjaga nilai yang telah ditanamkan sejak masa pendidikan.
Pandangan Plato mengenai persahabatan sebagai “jiwa yang mendiami dua tubuh” juga dapat dibaca dalam konteks Nawa Tunggal 91. Para alumni mungkin telah menjalani jalan kehidupan yang berbeda, tetapi pengalaman yang membentuk mereka tetap menjadi titik temu.
Sebagian menjalani karier sebagai pemimpin militer dan kepolisian, sementara lainnya menekuni dunia birokrasi, akademik maupun kehidupan sipil. Perbedaan tersebut tidak menghilangkan ikatan yang lahir dari proses pendidikan dan pengabdian bersama.
Dalam konteks itu, persaudaraan Nawa Tunggal tidak hanya berdimensi emosional. Ada nilai moral dan semangat korsa yang ikut membentuk hubungan tersebut, seperti keberanian, disiplin, integritas, serta tanggung jawab dalam menjalankan pengabdian.
Salah satu bagian yang memiliki makna tersendiri dalam reuni adalah penghormatan kepada rekan-rekan yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Foto para sahabat yang telah berpulang dihadirkan dan diangkat bersama sebagai bentuk penghormatan.
Momen tersebut mengingatkan bahwa perjalanan panjang sebuah angkatan tidak selalu dapat dilalui seluruh anggotanya hingga hari ini. Namun, mereka yang telah pergi tetap menjadi bagian dari cerita dan ingatan bersama Nawa Tunggal 91.
Dalam tradisi militer dan kepolisian, mengenang rekan yang telah mendahului bukan sekadar mengenang masa lalu. Penghormatan itu menjadi cara untuk menjaga nilai pengabdian serta mengingat kembali perjalanan yang pernah ditempuh bersama.
Rangkaian reuni juga diwarnai kegiatan jalan santai, kebersamaan di lapangan, menyanyikan Hymne Taruna, hingga sesi foto bersama. Aktivitas tersebut memperlihatkan sisi lain dari para alumni yang selama puluhan tahun lebih banyak dikenal melalui profesi dan tanggung jawab masing-masing.
Pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa komunitas tetap memiliki arti setelah seseorang melewati masa pendidikan dan menjalani kehidupan profesional. Kebersamaan memberikan ruang untuk saling berbagi cerita, menjaga komunikasi, sekaligus hadir ketika salah satu anggota membutuhkan dukungan.
Bagi Nawa Tunggal 91, persaudaraan tidak berhenti ketika masa dinas berakhir. Hubungan tersebut justru menemukan bentuk baru melalui perhatian antarsesama alumni dan keluarga besar yang terus dijaga.
Nama Nawa Tunggal membawa gagasan mengenai keberagaman yang dipertemukan dalam satu tujuan. Para alumni datang dari latar matra yang berbeda, kemudian menjalani pengabdian dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Tiga puluh lima tahun perjalanan menjadi penanda bahwa hubungan yang dibangun sejak masa muda dapat bertahan melampaui perubahan zaman. Rambut yang mulai memutih, usia yang bertambah, dan langkah yang tidak lagi secepat ketika masih menjadi taruna menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Namun, nilai yang menjadi fondasi persaudaraan tetap dipertahankan. Persahabatan, persaudaraan, pengabdian, dan kebersamaan menjadi empat hal yang terus mengikat Nawa Tunggal AKABRI 1991.
Pada akhirnya, reuni bukan hanya tentang bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama. Reuni juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang, mengenang mereka yang telah pergi, serta memastikan nilai persaudaraan tetap diteruskan.
Pesan yang lahir dari Reuni Akbar Nawa Tunggal AKABRI 1991 pun sederhana: jalan hidup boleh berbeda, tetapi ada ikatan yang membuat mereka tetap memiliki tempat untuk kembali.
Nawa Tunggal AKABRI 91 menjadi ruang bersama yang dibangun dari pengalaman, persahabatan, dan pengabdian selama puluhan tahun. Sebuah ikatan yang diharapkan tidak berhenti pada satu agenda reuni, melainkan terus hidup dalam keseharian para alumninya.
Editor: IJS








