
Harnas.id, Jakarta – Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Kalimantan dan Sumatera menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PLN, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/8/2026). Aksi tersebut dipimpin Andi Alif Firmansyah dan berlangsung sejak pukul 14.45 hingga 17.00 WIB.
Massa datang dengan membawa sejumlah alat peraga aksi dan menyampaikan aspirasi terkait persoalan pemadaman listrik bergilir yang mereka soroti terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Selain persoalan pasokan listrik, massa juga meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan korupsi dalam pengadaan batu bara di lingkungan PT PLN.
Rangkaian aksi berlangsung dalam beberapa tahap. Massa tiba di lokasi sekitar pukul 14.45 WIB dalam kondisi aman dan kondusif, kemudian mulai menyampaikan orasi sekitar pukul 14.55 WIB.
Sekitar pukul 15.45 WIB, massa menghentikan aksi sementara untuk beristirahat. Setelah itu, kegiatan kembali dilanjutkan hingga akhirnya dinyatakan selesai sekitar pukul 16.50 WIB.
Setelah aksi berakhir, massa membubarkan diri secara tertib. Situasi di sekitar lokasi hingga berakhirnya kegiatan dilaporkan tetap aman dan kondusif.
Dalam aksinya, Aliansi Pemuda Kalimantan dan Sumatera membawa tuntutan utama sebagai berikut:
• Mendesak Bareskrim Mabes Polri mengusut tuntas penyebab pemadaman listrik bergilir di Kalimantan dan mengusut dugaan kasus korupsi pengadaan batu bara pada PT PLN.
Untuk menyampaikan aspirasi, massa menggunakan sejumlah perlengkapan aksi. Alat peraga yang digunakan antara lain:
• Spanduk dan poster.
• Megaphone atau pengeras suara.
• Mobil komando dengan nomor polisi B 9235 OE.
Sejumlah spanduk dan poster yang dibawa massa memuat tuntutan terhadap jajaran pimpinan PLN. Di antaranya bertuliskan:
• “Copot dan periksa Dirut PLN.”
• “Dirut makin kaya, rakyat makin sengsara.”
Dalam orasinya, massa menyampaikan keberatan terhadap kondisi kelistrikan di Kalimantan dan Sumatera. Mereka menilai persoalan pemadaman tidak bisa dibiarkan berlarut karena berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Salah satu orator juga menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bagian kedua dari rangkaian penyampaian aspirasi. Massa mengaku sebelumnya belum memperoleh kejelasan yang mereka harapkan terkait persoalan kelistrikan di wilayah yang mereka soroti.
Massa juga mengaitkan tuntutan tersebut dengan posisi Kalimantan sebagai salah satu wilayah penghasil batu bara yang menjadi sumber energi pembangkit listrik. Mereka mempertanyakan alasan masih terjadinya pemadaman bergilir di daerah yang menurut mereka memiliki kontribusi besar terhadap pasokan energi nasional.
Dalam orasi lainnya, massa menyebut persoalan kelistrikan tidak hanya berdampak kepada masyarakat umum, tetapi juga kelompok usaha dan peternak di daerah. Mereka menilai perlu ada penjelasan konkret dari pihak PLN mengenai penyebab pemadaman serta langkah penanganannya.
“Ini merupakan jilid kedua kami menyampaikan aspirasi kami karena kita tidak dapat kejelasan. Kita diamkan ternyata semakin menjadi-jadi, kita melihat apa yang dilakukan PLN banyak sekali kerugian yang dialami oleh masyarakat,” ujar salah satu peserta aksi dalam orasinya.
Massa juga meminta agar jajaran PLN memberikan penjelasan mengenai alasan pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Mereka menyatakan akan terus menyampaikan tuntutan hingga mendapatkan kejelasan yang dianggap memadai.
“Kami menegaskan kepada dirut PLN dan jajaran kenapa Kalimantan dan Sumatra masih mengalami pemadaman listrik bergilir, oleh karena itu kita harus memperjuangkan perjuangan kita sampai menemui titik hasil dan kita akan di sini sampai menang,” kata orator tersebut.
Dalam penyampaiannya, massa juga mengkritik arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Mereka menilai persoalan mendasar seperti pasokan listrik di daerah perlu mendapat perhatian agar target pembangunan nasional tidak terhambat.
Massa menyebut masyarakat Kalimantan dan Sumatera memiliki hak untuk mendapatkan layanan kelistrikan yang memadai. Mereka juga menyoroti kontribusi wilayah tersebut terhadap kebutuhan energi nasional, khususnya melalui produksi batu bara.
“Hari ini apa yang dilakukan oleh pemerintah khususnya PLN adalah penjajah,” ujar salah satu orator. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk kritik massa terhadap kebijakan dan pelayanan kelistrikan yang mereka persoalkan.
Massa juga menyatakan tidak akan menghentikan penyampaian aspirasi apabila pemadaman listrik di Kalimantan masih terjadi. Mereka menilai persoalan tersebut membutuhkan penjelasan dan penyelesaian dari pihak yang berwenang.
Sebagai catatan, Aliansi Pemuda Kalimantan dan Sumatera menyatakan akan menggelar aksi lanjutan apabila pemadaman listrik masih terjadi di Pulau Kalimantan. Aksi tersebut direncanakan menggunakan nama “Aksi Jilid 3 Copot Dirut PLN” dengan titik aksi di Kantor PLN Pusat.
Massa juga menyebut jumlah peserta dalam aksi lanjutan tersebut akan lebih besar. Rencana tersebut masih berupa pernyataan dari massa aksi dan akan bergantung pada perkembangan kondisi kelistrikan serta tindak lanjut atas aspirasi yang mereka sampaikan.
Editor: IJS




