Harnas.id, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung menyiapkan pola baru dalam menangani persoalan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPOS) Gedebage. Fasilitas tersebut akan menggunakan teknologi pengolahan yang memungkinkan sampah diubah menjadi bahan bakar untuk kebutuhan industri.
Konsep yang diterapkan bukan lagi semata-mata mengangkut sampah dari permukiman menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Pengelolaan dilakukan secara terdesentralisasi dengan menyelesaikan sampah di wilayah regional masing-masing sebelum menjadi beban bagi TPA.
Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, pendekatan tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan Kota Bandung terhadap TPA. Sampah yang sebelumnya berakhir di tempat penimbunan akan diproses lebih lanjut sehingga memiliki nilai guna.
“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya, tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” ucap Sigit, melansir Antara, Selasa (25/8/2026).
Dalam skema tersebut, sampah akan diolah menggunakan teknologi untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF). Material ini memiliki nilai kalor yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar bagi sejumlah kebutuhan industri, termasuk refinery, pabrik, dan boiler.
Sigit menjelaskan, pemanfaatan teknologi itu memiliki dua sasaran sekaligus. Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, hasil pengolahannya diharapkan menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri.
TPOS Gedebage direncanakan dibangun dengan kemampuan mengolah hingga 300 ton sampah setiap hari. Pemerintah Kota Bandung menargetkan tahapan pembangunan dan persiapannya dapat dipercepat sehingga fasilitas tersebut mulai beroperasi pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027.
Proyek tersebut dikerjakan melalui kerja sama Pemerintah Kota Bandung dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sistem pengolahan sampah yang tidak hanya bergantung pada keberadaan TPA.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pembangunan fasilitas pengolahan tersebut sebagai salah satu langkah untuk membenahi sistem persampahan di Kota Bandung. Teknologi baru akan menjadi bagian penting dalam proses pengolahan sampah di fasilitas tersebut.
“Dalam hal ini, kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ujar Farhan.
Pembangunan TPOS Gedebage juga berkaitan dengan persoalan keterbatasan fasilitas pembuangan akhir yang dihadapi Kota Bandung. Farhan mengatakan Bandung belum mempunyai TPA sendiri dan selama ini masih mengandalkan fasilitas yang dikelola pemerintah provinsi.
“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” katanya.
Karena itu, pengolahan sampah di tingkat regional dinilai dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi tekanan terhadap fasilitas TPA. Sampah tidak seluruhnya harus dikirim keluar wilayah untuk ditimbun, melainkan dapat diproses terlebih dahulu menjadi material yang memiliki manfaat.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam pemilihan teknologi TPOS Gedebage. Sigit memastikan teknologi yang digunakan dirancang dalam sistem tertutup sehingga proses pengolahan tidak menimbulkan gangguan bau bagi masyarakat di sekitar fasilitas.
“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan tercapture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” katanya.
Dengan kapasitas pengolahan mencapai 300 ton per hari, keberadaan TPOS Gedebage nantinya diharapkan menjadi salah satu mata rantai baru pengelolaan sampah Bandung. Tantangannya bukan hanya memastikan fasilitas selesai dibangun, tetapi juga memastikan sistem pengumpulan, pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan SRF dapat berjalan secara konsisten.
Editor: IJS











