Harnas.id – Di tengah maraknya penggunaan media sosial dan kecanggihan Artificial Intelligence (AI), masyarakat sering kali menganggap diri mereka sudah melek digital hanya karena mahir menggunakan ponsel pintar. Namun, pemikiran tersebut dikritik keras dalam ajang Festival Literasi Kabupaten Pekalongan yang digelar di Gedung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Pekalongan, Rabu (26/8/2026).
Hadir sebagai narasumber utama, Digital Strategist sekaligus Ketua Umum FTBM Kabupaten Pekalongan, Yoga Rifai Hamzah, membawakan materi bertajuk “Kita Terlalu Digital untuk Disebut Melek Digital: Literasi Digital di Era Algoritma, AI, dan Banjir Informasi”.
Dalam pemaparannya, Yoga menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat masyarakat kritis terhadap informasi yang dikonsumsi sehari-hari.
“Bisa menggunakan teknologi belum tentu berarti melek digital. Saat ini, kita tidak sekadar menggunakan internet, tetapi kita hidup di dalam algoritma yang terus mempelajari perilaku dan emosi kita,” tegas Yoga di hadapan ratusan peserta festival.
‘Ekonomi Perhatian’ dan Ancaman Echo Chamber
Yoga mejelaskan fenomena filter bubble dan echo chamber, di mana algoritma media sosial hanya menyajikan informasi yang disukai pengguna. Hal ini berpotensi mengurung masyarakat dalam realitas digital yang sempit dan memicu emosi negatif demi mengejar engagement semata.
Ia juga menyoroti penggunaan AI di kalangan pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, AI seharusnya dijadikan sparring partner berpikir (Socrates Digital), bukan sekadar alat otomatis pemindah data untuk menyelesaikan tugas.
“Di era AI, jawaban menjadi melimpah dan murah. Yang jauh lebih mahal dan berharga adalah kemampuan manusia untuk mengajukan pertanyaan yang tepat serta berpikir kritis,” tambah pendiri Rumah Baca Pintar tersebut.
Apresiasi Dinarpus Pekalongan: Melek Digital Adalah Memegang Kendali
Menanggapi materi tersebut, Plt. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, Indria Madyawati, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi mendalam atas refleksi kritis yang diberikan oleh narasumber.
Menurut Indria, tantangan perpustakaan dan literasi hari ini bukan lagi sekadar memberantas buta aksara teks, melainkan membangun kesadaran kritis masyarakat di tengah gempuran arus informasi digital.
“Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan banjir informasi yang membuat masyarakat bingung membedakan mana kebenaran dan mana manipulasi. Apa yang disampaikan Pak Yoga sangat relevan: melek digital itu bukan soal seberapa canggih gadget yang kita pegang, melainkan seberapa bijak kita memegang kendali atas pikiran dan keputusan kita sendiri. Kami berharap Festival Literasi ini menjadi pemantik agar masyarakat Pekalongan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi menjadi masyarakat yang kritis, cerdas, dan berdaya di era digital,” ujar Indria Madyawati.
Rebut Kembali Cara Berpikir
Di akhir sesi, Yoga Rifai Hamzah mengajak seluruh peserta untuk melakukan self-audit terhadap kebiasaan berinternet sehari-hari. Ia berpesan agar masyarakat tidak menyerahkan kendali cara berpikir mereka sepenuhnya kepada mesin maupun algoritma media sosial.
Baca Juga: Alunan Indah Angklung Srikandi Bogor Baru Meriahkan Semarak HUT Botani Square ke-20
“Teknologi adalah alat yang luar biasa, tetapi majikan yang sangat buruk. Masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi manusia yang masih mampu memilih, mempertanyakan, dan berpikir sendiri,” pungkasnya.





