Harnas.id, BOGOR – Komunitas Angklung Srikandi Bogor Baru kembali menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan seni musik tradisional melalui penampilan dalam rangkaian perayaan ulang tahun Botani Square ke-20.
Penampilan tersebut berlangsung dengan antusiasme para anggota Angklung Srikandi. Komunitas ini sebelumnya juga telah beberapa kali tampil di Botani, namun kesempatan kali ini menjadi momentum untuk memberikan penampilan terbaik.
Bidang Sosial Angklung Srikandi Bogor, Nunung Nurjamilah, mengatakan antusiasme anggota cukup tinggi dalam mengikuti penampilan tersebut. Terlebih, dalam beberapa pekan terakhir Angklung Srikandi memiliki sejumlah agenda pertunjukan di berbagai tempat.
“Sebetulnya kita latihan setiap dua minggu sekali. Kebetulan beberapa minggu ini ada banyak perform, jadi latihannya lebih sering,” ujar Nunung.
Dalam penampilannya di HUT Botani Square ke-20, Angklung Srikandi membawakan delapan lagu. Repertoar yang dimainkan disesuaikan dengan permintaan pihak penyelenggara, termasuk menghadirkan lagu dari sejumlah daerah.

Salah satu penampilan yang dibawakan yakni medley Bubuy Bulan dan Es Lilin. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari pertunjukan yang disajikan Angklung Srikandi di hadapan pengunjung.
Menurut Nunung, pemilihan lagu dilakukan dengan menyesuaikan konsep acara dan permintaan penyelenggara. Hal tersebut juga menjadi kesempatan bagi Angklung Srikandi Bogor Baru untuk menghadirkan keberagaman musik melalui instrumen angklung.
Penampilan para anggota semakin mencerminkan identitas budaya melalui penggunaan seragam kebaya hitam nan menawan.
Setelah penampilan di Botani Square, Angklung Srikandi Bogor Baru dijadwalkan tampil pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Main Atrium Stage, Mall Cipinang Indah, Jakarta Timur. Penampilan itu menjadi bagian dari acara Grand Final Putera Puteri Ekowisata 2026.
Konsistensi Angklung Srikandi dalam mengikuti berbagai kegiatan menjadi salah satu bentuk upaya menjaga keberadaan seni tradisional di tengah perkembangan hiburan dan budaya populer.
Kegiatan seperti ini juga diharapkan dapat membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal angklung dan kesenian daerah. Dengan semakin sering ditampilkan di ruang publik, seni tradisional diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi tetap hidup dan dekat dengan masyarakat dari berbagai generasi.
Editor: US











