BNPB Sampaikan Duka Cita atas Gugurnya Empat Petugas dalam Penanganan Karhutla Bromo

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi

Harnas.id, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya empat petugas yang gugur saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Kamis (15/10/2026). Sementara itu, dua petugas lainnya mengalami luka bakar dan masih menjalani penanganan medis secara intensif.

BNPB menyampaikan penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi, keberanian, serta pengabdian para almarhum dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Upaya pemadaman karhutla di kawasan TNBTS merupakan bagian dari perjuangan melindungi lingkungan, menjaga kelestarian ekosistem, serta mencegah meluasnya dampak kebakaran.

Dalam menjalankan tugas di lapangan, para petugas menghadapi berbagai tantangan dan risiko. Kondisi medan, perubahan arah angin, perkembangan titik api, serta dinamika situasi di lokasi kebakaran menuntut kewaspadaan dan kesiapsiagaan tinggi dari seluruh personel yang terlibat.

Pengorbanan para almarhum menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab dan risiko yang dihadapi petugas dalam menjalankan misi kemanusiaan demi melindungi masyarakat dan kelestarian alam.

BNPB juga menyampaikan doa dan harapan agar dua petugas yang mengalami luka bakar segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga. Kepada keluarga yang ditinggalkan, BNPB berharap agar senantiasa diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan tersebut.

Peristiwa ini sekaligus menegaskan pentingnya menempatkan keselamatan personel sebagai prioritas utama dalam setiap operasi penanggulangan bencana, termasuk penanganan karhutla. Setiap operasi harus didukung penilaian risiko yang cermat, pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, kesiapan jalur evakuasi, serta komunikasi dan koordinasi yang efektif antarpersonel maupun antarinstansi.

Dalam situasi kebakaran yang dinamis, pengambilan keputusan di lapangan perlu mempertimbangkan perkembangan kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakteristik medan, serta potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan petugas. Kesiapan sarana dan prasarana pendukung, penerapan prosedur keselamatan, serta kemampuan melakukan evakuasi secara cepat dan tepat juga menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko selama operasi berlangsung.

BNPB menegaskan bahwa penanggulangan karhutla membutuhkan kerja sama dan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, petugas pemadam, pengelola kawasan konservasi, aparat terkait, relawan, hingga masyarakat. Penguatan koordinasi lintas sektor diperlukan agar penanganan kebakaran dapat berjalan secara efektif dan terukur, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel.

Selain penanganan saat kebakaran terjadi, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan juga perlu terus diperkuat. Langkah tersebut mencakup peningkatan pengawasan di kawasan rawan kebakaran, pemantauan potensi titik api, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan respons darurat.

Upaya pencegahan yang dilakukan secara terpadu diharapkan dapat menekan risiko kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

BNPB mengajak seluruh pihak menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam penanggulangan bencana yang mengutamakan keselamatan manusia. Perlindungan terhadap lingkungan harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap para personel yang berada di garis depan penanganan bencana.

Semoga para almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan, serta para petugas yang masih menjalani perawatan segera pulih.

Pengabdian dan pengorbanan para almarhum menjadi pengingat bahwa di balik setiap upaya melindungi alam dan masyarakat, terdapat perjuangan serta keberanian yang patut dihormati.

(BNPB)