PMI Kirim Bantuan Medis Rp2 Miliar untuk Iran yang Dilanda Krisis Kesehatan

Pekerja menyiapkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan yang akan dikirim PMI untuk masyarakat terdampak konflik di Iran. (Dok. PMI)
Pekerja menyiapkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan yang akan dikirim PMI untuk masyarakat terdampak konflik di Iran. (Dok. PMI)

Harnas.id, JAKARTA – Palang Merah Indonesia (PMI) kembali mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat yang terdampak konflik bersenjata. Kali ini, bantuan berupa obat-obatan dan alat kesehatan darurat dikirim ke Iran yang tengah menghadapi tekanan berat akibat kerusakan fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah.

Langkah tersebut dilakukan setelah PMI menerima permintaan resmi dari Pemerintah Iran melalui jalur diplomatik. Bantuan yang disiapkan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan layanan kesehatan yang terganggu akibat konflik yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Sekretaris Jenderal PMI, A.M. Fachir, mengatakan pengiriman bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan yang disampaikan Pemerintah Iran kepada Indonesia melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

“Bantuan obat-obatan dan alat medis darurat PMI ke Iran ini merupakan respons Ketua Umum PMI Bapak Muhammad Jusuf Kalla atas surat dari Duta Besar Iran untuk Indonesia,” kata Fachir.

Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya memiliki nilai kemanusiaan dalam bentuk logistik, tetapi juga mencerminkan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap warga sipil yang terdampak konflik.

PMI menilai dukungan kemanusiaan menjadi penting mengingat kondisi layanan kesehatan di Iran saat ini menghadapi berbagai tantangan akibat rusaknya fasilitas medis dan terganggunya pasokan obat-obatan.

“Ini adalah perwujudan nyata dari komitmen kita untuk menghadirkan empati dan solidaritas rakyat Indonesia terhadap rakyat Iran,” ujarnya.

Krisis kesehatan di Iran semakin menjadi perhatian setelah sejumlah fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan yang terjadi dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Iran, sedikitnya 50 rumah sakit dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga hancur. Selain itu, ratusan fasilitas kesehatan lain turut terdampak sehingga menghambat pelayanan kepada masyarakat.

Sejumlah rumah sakit besar di Teheran juga dilaporkan terkena dampak serangan, termasuk Hospital Gandhi serta sebuah rumah sakit jiwa yang berada di ibu kota Iran tersebut.

Kerusakan tersebut menyebabkan puluhan pusat layanan kesehatan tidak dapat beroperasi secara normal. Lebih dari 180 klinik komunitas dan pusat layanan kesehatan primer juga mengalami kerusakan sehingga akses masyarakat terhadap layanan medis dasar menjadi semakin terbatas.

Kelompok masyarakat rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak akibat terganggunya pelayanan kesehatan tersebut.

Untuk mendukung penyaluran bantuan, PMI menyiapkan seluruh kebutuhan logistik dari Islamabad, Pakistan. Proses pengadaan dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk perwakilan Indonesia di Pakistan.

Minister Counsellor sekaligus Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Islamabad, Rahmat Hindiarta Kusuma, menyatakan dukungannya terhadap langkah kemanusiaan yang dilakukan PMI.

“KBRI Islamabad sangat mendukung inisiatif PMI dalam memberikan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan kepada masyarakat Iran,” katanya.

Sementara itu, Kepala Markas PMI Pusat, Arifin Muh Hadi, menjelaskan seluruh proses pengadaan bantuan saat ini telah rampung sepenuhnya dan siap dikirim menuju wilayah perbatasan Iran.

Menurut Arifin, total nilai bantuan yang disalurkan mencapai Rp2 miliar dan akan dikirim menggunakan dua kontainer berukuran 40 feet.

“Seluruh proses pengadaan saat ini telah selesai 100 persen dan minggu depan bantuan akan segera dikirim menuju Taftan,” ujar Arifin.

Bantuan tersebut terdiri dari berbagai kebutuhan medis yang mendesak, antara lain obat-obatan habis pakai, alat pelindung diri (APD), perlengkapan bedah minor, serta wounded and injury kits yang dibutuhkan untuk penanganan korban luka.

Sebelum konflik terjadi, Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan industri farmasi yang cukup maju di kawasan Timur Tengah. Negara tersebut mampu memenuhi sekitar 90 persen kebutuhan obat dalam negeri dan bahkan mengekspor sejumlah produk kesehatan ke berbagai negara.

Namun kerusakan yang terjadi akibat konflik membuat sebagian fasilitas farmasi dan infrastruktur kesehatan terdampak. Kondisi tersebut berimbas pada terganggunya produksi dan distribusi obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat.

Pengiriman bantuan ke Iran menambah daftar aksi kemanusiaan PMI di berbagai negara yang sedang menghadapi krisis. Sebelumnya, PMI juga telah menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Sudan, Afghanistan, dan Lebanon sebagai bagian dari komitmen organisasi dalam membantu korban konflik dan bencana di berbagai belahan dunia.

Editor: IJS