Sambut HUT ke-81 RI, SMA Sunda Kelapa dan Rangka Gelar Fisioterapi Gratis untuk “Memerdekakan” Kebugaran Guru

Salah satu tenaga pengajar menjalani pemeriksaan fisik dalam kegiatan fisioterapi gratis di SMA Sunda Kelapa. Foto: Harnas.id

Harnas.id, JAKARTA – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Yayasan SMA Sunda Kelapa menggelar program kebugaran khusus bagi para guru dan staf pendidik di lingkungan sekolah, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SMA Sunda Kelapa, Jalan Taman Sunda Kelapa No. 16A, Menteng, Jakarta Pusat, tersebut bekerja sama dengan Rangka Fisioterapi. Program ini bertujuan menjaga kesehatan dan kebugaran fisik para tenaga pendidik yang sehari-hari menjalani aktivitas padat, mulai dari mengajar, berdiri dalam waktu lama, duduk, hingga melakukan pekerjaan administratif.

Dalam kolaborasi perdana tersebut, para guru dan staf mendapatkan pemeriksaan serta layanan fisioterapi secara gratis. Kegiatan meliputi sesi mat pilates untuk menjaga kebugaran secara umum, serta pemeriksaan fisik khusus (injury screening) untuk mengidentifikasi dan menangani keluhan atau masalah fisik yang lebih spesifik.

Ketua Yayasan SMA Sunda Kelapa, Rhazhes Febrizki, memberikan penjelasan terkait pelaksanaan kegiatan fisioterapi bagi guru dan staf di lingkungan sekolah. Foto: Harnas.id
Ketua Yayasan SMA Sunda Kelapa, Rhazhes Febrizki, memberikan penjelasan terkait pelaksanaan kegiatan fisioterapi bagi guru dan staf di lingkungan sekolah. Foto: Harnas.id

Kepala Yayasan SMA Sunda Kelapa, Rhazhes Febrizki, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah untuk memperhatikan kesehatan dan kebugaran para guru serta staf.

“Dengan adanya fisioterapi, pihak sekolah ingin memerdekakan kebugaran guru-guru di sekolah ini. Karena mereka sudah sering duduk lama dan mengajar, pasti ada pegal-pegal atau cedera. Kami ingin membebaskan mereka dari keluhan fisik tersebut,” ujar Rhazhes.

Selain memberikan penanganan fisik secara langsung, program ini juga menitikberatkan pada edukasi dan pencegahan agar keluhan maupun cedera tidak kembali berulang.

Salah satu tim ahli Rangka Fisioterapi, Nicholas, mengatakan metode yang diterapkan dilakukan secara komprehensif, dimulai dari konsultasi, posture check, hingga injury screening. Tahapan tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi dan kendala fisik setiap peserta.

Nicholas, tim ahli Rangka Fisioterapi,memberikan pemeriksaan dan penanganan fisik kepada peserta kegiatan. Foto: Harnas.id
Nicholas, tim ahli Rangka Fisioterapi,memberikan pemeriksaan dan penanganan fisik kepada peserta kegiatan. Foto: Harnas.id

“Jadi awalnya ada pemeriksaan dulu, seperti konsultasi. Setelah tahu kendalanya apa, baru dilakukan treatment. Setelah itu diajarkan exercise yang bisa dikerjakan di rumah,” jelas Nicholas.

Menurut dia, pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui keluhan yang dirasakan, riwayat cedera, serta bagian tubuh yang mengalami masalah. Setelah kondisi peserta diketahui, fisioterapis memberikan penanganan sesuai kebutuhan, termasuk membantu mengurangi ketegangan otot dan memberikan latihan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

Fisioterapis juga dapat memberikan rekomendasi aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta. Misalnya, seseorang dengan gangguan postur tertentu dapat diarahkan mengikuti latihan seperti mat pilates untuk membantu memperbaiki postur sekaligus meningkatkan kekuatan tubuh.

Peserta mengikuti latihan fisik yang diberikan fisioterapis sesuai kondisi tubuh. Foto: Harnas.id
Peserta mengikuti latihan fisik yang diberikan fisioterapis sesuai kondisi tubuh. Foto: Harnas.id

Sementara bagi peserta yang mengalami cedera, jenis dan intensitas aktivitas fisik dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh. Aktivitas dengan impact tinggi, seperti tenis, basket, padel, atau sepak bola, dapat dikurangi sementara apabila tidak sesuai dengan kondisi cedera.

Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai stretching dan latihan tertentu yang dapat dilakukan secara rutin sesuai dengan keluhan masing-masing.

“Harapannya nomor satu supaya bisa bergerak bebas lagi. Biasanya dalam hidup ada saja cedera, sakit, atau pegal-pegal. Harapannya bukan hanya pegalnya hilang, tetapi supaya pegalnya tidak kembali lagi,” kata Nicholas.

 Peserta mengikuti sesi fisioterapi untuk menangani keluhan dan menjaga kebugaran tubuh. Foto: Harnas.id
Peserta mengikuti sesi fisioterapi untuk menangani keluhan dan menjaga kebugaran tubuh. Foto: Harnas.id

Salah satu peserta kegiatan, Kusyadi, guru Tata Usaha (TU) SMA Sunda Kelapa, mengaku memiliki keluhan berupa kaki yang kerap kesemutan serta nyeri pada bagian pinggang. Keluhan tersebut muncul setelah dirinya pernah mengalami jatuh. Setelah menjalani pemeriksaan dan fisioterapi, Kusyadi mengaku kondisi tubuhnya terasa lebih nyaman.

“Setelah difisioterapi hari ini lebih enakan, lebih entengan,” ujarnya.

Dalam satu sesi, proses fisioterapi berlangsung sekitar 20 hingga 30 menit, tergantung kebutuhan dan kondisi masing-masing peserta.

Kegiatan fisioterapi tersebut merupakan program perdana yang digelar di lingkungan Yayasan SMA Sunda Kelapa. Bagi Rangka Fisioterapi, kegiatan ini juga menjadi pengalaman pertama dalam menghadirkan layanan fisioterapi di lingkungan sekolah.

Editor: IJS