Bangga Kencana Hadir di Kabupaten Semarang, DPR RI dan BKKBN Dorong Keluarga Berkualitas

Harnas.id – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bersama mitra kerja menggelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026) lalu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pembangunan keluarga berkualitas, perencanaan keluarga, pencegahan stunting, pengasuhan anak, hingga perlindungan generasi muda dari berbagai perilaku berisiko.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Dr. H. Muhammad Haris, S.S., M.Si.; Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat BKKBN Pusat Anita Latifah, S.Si., MH.; Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Jawa Tengah Heri Kusyanto, S.Kom., M.Sc.; serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Semarang Dewanto Leksono WS, STP, MM.

Dalam sambutannya, Dr. H. Muhammad Haris menegaskan bahwa keluarga merupakan aset paling berharga yang harus dijaga dan diperhatikan oleh setiap anggota keluarga. Menurutnya, pembangunan keluarga berkualitas menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045.

“Bicara keluarga itu panjang. Harta kita yang paling berharga adalah keluarga. Karena itu, perhatikan istri, suami, dan anak-anak kita,” ujar Haris.

Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya perencanaan kehamilan melalui prinsip 4T, yakni terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Prinsip tersebut perlu dipahami oleh seluruh anggota keluarga, baik suami maupun istri, agar kesehatan ibu dan anak tetap terjaga.

“Kalau dari BKKBN, salah satu yang harus selalu diingat adalah hindari 4T: terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Intinya, kalau anak belum waktunya menikah dan hamil, jangan terburu-buru,” tegasnya.

Haris berharap masyarakat dapat mengikuti materi sosialisasi dengan baik sehingga berbagai program yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Anita Latifah, S.Si., MH., selaku Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat BKKBN Pusat, memaparkan bahwa Program Bangga Kencana merupakan salah satu upaya Kemendukbangga dalam menjawab berbagai persoalan keluarga dan kependudukan di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan, pembangunan generasi yang tangguh harus dimulai sejak setiap tahapan kehidupan, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Karena itu, pemerintah menghadirkan sejumlah program yang menyentuh kebutuhan keluarga pada setiap fase kehidupan.

Salah satunya adalah GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), yang mengajak berbagai pihak bergotong royong membantu keluarga berisiko stunting melalui dukungan sebagai orang tua asuh.

Selain itu, terdapat program TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak) yang mendorong tersedianya layanan pengasuhan anak berkualitas, terutama bagi keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja.

“Pengasuhan di rumah merupakan kunci penting bagi tumbuh kembang anak. Kita perlu memastikan anak mendapatkan kesehatan dan gizi yang baik, waktu bermain yang cukup, serta lingkungan rumah yang aman dan mendukung perkembangannya,” jelas Anita.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan melalui program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). Menurutnya, pengasuhan dan pendidikan anak bukan semata-mata menjadi tanggung jawab ibu, melainkan tanggung jawab bersama kedua orang tua.

“Pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui program GATI, kami mendorong para ayah untuk lebih terlibat dalam pengasuhan, pendidikan, dan pembentukan karakter anak, serta menjadi teladan yang baik bagi keluarganya,” ungkapnya.

Perhatian terhadap kelompok lanjut usia juga menjadi bagian dari Program Bangga Kencana. Melalui program SIDAYA (Lansia Berdaya), Kemendukbangga mendorong para lansia agar tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif sehingga tetap memiliki kesempatan untuk berkarya serta memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

“Keberhasilan program Bangga Kencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Mari kita mulai dari keluarga kita sendiri, karena keluarga yang berkualitas merupakan fondasi bagi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan sejahtera,” tambah Anita.

Pada kesempatan yang sama, Heri Kusyanto, S.Kom., M.Sc., Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa peran BKKBN saat ini telah berkembang. Tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), tetapi juga mencakup pembangunan keluarga secara menyeluruh.

Menurut Heri, perubahan tersebut sejalan dengan semakin beragamnya tantangan yang dihadapi keluarga di tengah perkembangan lingkungan sosial. Berbagai persoalan seperti peredaran minuman keras, penggunaan vape atau rokok elektrik, serta pengaruh pergaulan dapat berdampak terhadap perkembangan anak.

“Kami mengajak Bapak dan Ibu untuk lebih memperhatikan pergaulan anak, membangun komunikasi yang baik, serta memberikan pendampingan dan pengawasan sejak dini. Jangan sampai kita lengah, karena keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak,” kata Heri.

Ia menegaskan, transformasi BKKBN menjadi kementerian membuat cakupan program pembangunan keluarga semakin luas dan diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih langsung.

Heri juga menyampaikan apresiasi kepada Anggota Komisi IX DPR RI, Muhammad Haris, yang selama ini menjadi mitra kerja dalam membantu menyosialisasikan program-program Kemendukbangga/BKKBN kepada masyarakat.

“Program-program yang kami jalankan bukan untuk mempersulit masyarakat, melainkan untuk membantu keluarga Indonesia agar semakin kuat dan mampu mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas,” ujarnya.

Heri turut mengingatkan bahwa pemahaman mengenai perencanaan kehamilan dan prinsip 4T tidak hanya perlu diketahui oleh perempuan, tetapi juga laki-laki. Sebab, kesiapan dan kesehatan ibu sebelum menjalani kehamilan merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian bersama.

Sementara itu, Kepala DP3AKB Kabupaten Semarang, Dewanto Leksono WS, STP, MM, menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendidik, mengawasi, dan mendampingi anak-anak di tengah berbagai tantangan sosial.

Ia mengungkapkan, masih ditemukan kondisi memprihatinkan ketika anak-anak harus berhadapan dengan persoalan hukum akibat terlibat dalam berbagai kasus. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar anak-anak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang memadai.

“Apabila anak bermain hingga larut malam, jangan segan untuk mengingatkan dan menanyakan mereka pergi ke mana, bersama siapa, dan melakukan kegiatan apa. Bukan berarti kita membatasi anak secara berlebihan, tetapi kita ingin memastikan mereka tetap berada di lingkungan yang aman,” ungkap Dewanto.

Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perilaku berisiko yang dapat mengancam masa depan anak dan remaja, seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, tembakau sintetis atau yang dikenal dengan istilah tembakau gorila, hingga maraknya judi online.

Menurut Dewanto, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah berbagai persoalan tersebut. Orang tua juga perlu melakukan pengawasan secara bijak terhadap penggunaan telepon genggam oleh anak.

Selain itu, Dewanto menekankan pentingnya pencegahan pernikahan dini. Anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk tumbuh, memperoleh pendidikan, serta mempersiapkan masa depan sebelum mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga.

“Pernikahan pada usia anak dapat membawa berbagai tantangan, mulai dari kesiapan mental dan emosional, pendidikan, hingga kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, mari kita dampingi anak-anak agar tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah di usia muda,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun pihak sekolah, melainkan tanggung jawab bersama, terutama keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak.

Melalui kegiatan sosialisasi Program Bangga Kencana tersebut, seluruh narasumber mengajak masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kualitas pengasuhan, merencanakan kehidupan berkeluarga secara matang, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Sinergi antara pemerintah, DPR RI, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan program pembangunan keluarga sehingga dapat mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, berkarakter, mandiri, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.(*)