BRI Bawa Isu Keuangan Berkelanjutan ke Meja Bisnis, Angka Pembiayaan Mulai Terlihat

Ilustrasi layanan perbankan BRI dalam mendukung keuangan berkelanjutan. Foto: Humas BRI
Ilustrasi layanan perbankan BRI dalam mendukung keuangan berkelanjutan. Foto: Humas BRI

Harnas.id, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus mendorong integrasi prinsip keuangan berkelanjutan dalam strategi bisnisnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga pertumbuhan yang tidak hanya fokus pada kinerja finansial, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan lingkungan.

Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar pada 10 April lalu. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebut, implementasi keuangan berkelanjutan telah dilakukan secara terstruktur dan mengacu pada regulasi yang berlaku.

“Perseroan juga telah mempublikasikan Laporan Keberlanjutan Tahun 2025 melalui situs resmi Perseroan dan Bursa Efek Indonesia (BEI), serta menyusun Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) untuk periode jangka panjang 2026–2030 dan jangka pendek sebagai panduan implementasi ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, integrasi aspek keberlanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pertumbuhan bisnis. Pendekatan ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban regulator, tetapi juga untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan.

“Perseroan secara konsisten mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek bisnis dan operasional. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi ketentuan regulator, tetapi juga sebagai upaya menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” imbuhnya.

Secara kinerja, BRI mencatat peningkatan pembiayaan pada sektor berkelanjutan. Hingga 2025, pembiayaan untuk Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) mencapai Rp93,2 triliun atau sekitar 6,94 persen dari total portofolio.

Sementara itu, pembiayaan untuk Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial (KUBS) tercatat sebesar Rp718,7 triliun atau sekitar 53,5 persen. Angka ini menunjukkan porsi dominan sektor sosial dalam struktur pembiayaan BRI.

Untuk memperluas dampak, BRI juga menerbitkan social bond senilai Rp5 triliun. Instrumen ini diarahkan untuk mendukung sektor-sektor yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat.

Di sisi manajemen risiko, BRI telah melakukan analisis Climate Risk Stress Testing (CRST) sesuai panduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko perubahan iklim terhadap kinerja bisnis.

Penguatan inklusi keuangan juga menjadi bagian dari strategi berkelanjutan. Hingga akhir 2025, BRI telah melayani lebih dari 140,5 juta nasabah dengan dukungan 45,93 juta pengguna BRImo.

Selain itu, jaringan layanan diperkuat melalui 1,19 juta Agen BRILink serta program pemberdayaan di 5.245 Desa BRILiaN. Infrastruktur ini menjadi basis perluasan akses keuangan hingga ke tingkat desa.

Dalam aspek tata kelola, BRI mulai mengadopsi standar pelaporan internasional IFRS Sustainability Disclosure Standards (IFRS S1 dan S2). Upaya ini turut diikuti dengan peningkatan skor dalam penilaian tata kelola perusahaan.

Sejumlah pengakuan global juga diraih. BRI mendapatkan peringkat A dari MSCI ESG Rating, kategori Low Risk dari Sustainalytics, serta masuk dalam S&P Global Sustainability Yearbook selama empat tahun berturut-turut.

“Ke depan, BRI akan terus memperkuat peran sebagai lembaga keuangan yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Akhmad.

Editor: IJS